Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 28


__ADS_3

Dewa masih menyembunyikan senyumnya, melihat reaksi perempuan yang duduk di depannya membuatnya gemas ingin sekali mencubit pipi gembul nan menawan.


Sayang bila harus di lewatkan, mumpung mereka berada di ruangan yang sama, Dewa tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memandangi perempuan yang memenuhi pikirannya akhir-akhir ini.


Berkali-kali Dewa melirik sekilas, tanpa berani untuk memandangi terang-terangan. Harga dirinya mau di taruh dimana? jika dirinya sampai ketahuan sedang mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan hehehe.


Dewa merasa gemas melihat tingkah Anin yang malu-malu, sepertinya jinak-jinak merpati bila di dekati.


Semakin tertantang untuk mendapatkan hatinya, tetapi bagaimana caranya supaya dirinya semakin dekat, dan dia tak menaruh curiga sedikitpun.


Termenung adalah cara yang tepat untuk memikirkan caranya, untuk menaklukkan perempuan yang mengusik pikirannya akhir-akhir ini.


Jantung ku meronta-ronta ingin bangkit dari duduk ku, untuk merengkuh perempuan yang sedang duduk berhadapan dengan ku, tetapi sayangnya wajah cantiknya ia sembunyikan dengan menunduk.


Anin masih berada di ruangan Pak bos, berkali-kali Anin melirik pria yang ada di depannya. Berharap ia akan segera pergi dari tempat ini, tempat tak membuatnya leluasa dalam bergerak.


Gerak-geriknya seakan di curiganya, padahal dirinya hanya diam tanpa berani mengeluarkan suara atau kata.


Bibirnya diam terkunci, karena tak ingin memulai percakapan lebih dulu. Memilih menunggu sampai pak bos mengeluarkan suara, karena tak tahu maksudnya apa? sampai dirinya berada di ruangan ini!


Sama halnya Dewa bingung mau memulai dari mana? pandangan netra nya tak pernah lepas dari perempuan yang ada di depannya, wajah yang cantik, senyumnya yang manis membuat ku tak jemu-jemu memandangi wajah nan ayu.


Dewa masih intens menatap wajah perempuan yang membuat kerja jantungnya tak menentu.


Memandangi nya adalah pekerjaan barunya dalam mengangumi diam-diam, tak berani mengungkapkan isi perasaannya.


Bukan sebagai pecundang, hanya ingin memastikan bahwa perasaannya tak salah. Lumrah yang ia rasakan, pria mengangumi perempuan, dan sebaliknya juga.


"Ehemm." suara deheman mampu menetralkan perasaan nya Dewa, mencoba untuk membuka suara.


Anin mengangkat kepalanya untuk melihat sumber suara, tanpa sengaja netra keduanya saling bersitatap, saling terdiam, salin menatap dengan perasaan yang tak biasa.


"Maaf pak! Kenapa saya di panggil ke sini! apakah saya membuat kesalahan?" tanyanya Anin mulai membuka suara, karena tak tahu kenapa dirinya di panggil ke ruangannya.


Dewa masih diam untuk mencari kata yang pas untuk membuat alasan, tak ingin alasannya memanggil nya di ketahui oleh nya. Dewa diam-diam merangkai alasan yang tepat, supaya yang bersangkutan tak menaruh curiga.


Duhhhh gimana ya aku kudu menjelaskan, kan ini hanya akal-akalan saya saja biar bisa berduaan seperti ini.


Biar saya bisa memandangi puas wajah cantiknya, wajah yang beberapa hari ini menganggu pikirannya.

__ADS_1


Dewa merasakan getaran-getaran cinta, tetapi ia sulit mengungkapkan takutnya malah di bilang ini hanya becanda, gombal, dan lain sebagainya.


"Pak! Bapak denger suara saya kan." tuturnya Anin.


Anin ingin memastikan pak bos nya, bahwa suara bisa di dengar, bisa di terima pria tersebut.


"Hmm." sahutnya Dewa yang pura-pura sibuk memeriksa dokumen di depannya. Pandangannya sibuk melihat kertas, padahal niatnya ingin berlama-lama di ruangan ini.


Anin makin bingung dengan sikap atasannya, padahal dirinya sudah menunggu jawabannya kenapa di panggil ke ruang ini?


Setahunya aku tak pernah membuat kesalahan, kenapa saya di panggil ke ruangan yang sangat mencekam?


Anin berkali-kali bermonolog dengan dirinya sendiri, tanpa beeani mengeluarkan sepatah kata pun.


"Maaf pak bila tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, ijinkan saya untuk kembali ke ruangan saya untuk bekerja." Tuturnya Anin sembari *******-***** tangannya untuk menunggu sahutan pria tersebut.


Dewa diam seribu bahasa, bibirnya terkunci rapat. Padahal Dewa sedang merangkai kata, untuk menyiapkan sanggahan nya.


Tidak ada jawaban, Anin bersiap untuk beranjak dari duduknya. Bersiap berdiri untuk melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan.


Tetapi langkahnya langsung terhenti, kala suara seseorang menginterupsi nya untuk duduk di tempat yang semula.


"Duduk!" titah nya Dewa menunjuk kursi yang kosong, semula menjadi tempat duduknya Anin.


"Maaf pak."


"Duduk katakku!" titah nya Dewa dengan sedikit dengan nada tinggi, karena suara halusnya tak membuat Anin mematuhi perintahnya.


Nyalinya Anin langsung menciut, memilih duduk kembali. Berulang-ulang menarik nafasnya, lalu membuangnya untuk meredakan rasa kesalnya yang tiba-tiba sedikit di bentak!


Rasanya Anin ingin pergi ke kutub Utara biar tak melihat atasannya yang lagi badmood.


Aku bertanya baik-baik jawaban nya sangat nyolot, membuat ku esmosi bener-bener tak menyangka ternyata bisa marah juga.


Bila bukan karena uang sudah di pastikan, ia akan mengajukan surat permohonan pengunduran dirinya.


Bila tak mengingat mencari pekerjaan susah di kota metropolitan ini, sudah pasti dirinya akan resign hari ini juga.


Menyebabkan!

__ADS_1


Anin sibuk dengan menundukkan kepalanya, tak berani menatap pria tersebut.


"Apa yang di bawah lebih asyik, lebih menarik sampai membuat kamu ogah menatap saya!" ujarnya Dewa dengan perkataan sedikit di tekan, berharap perempuan tersebut tahu apa yang ingin ia mau.


Anin berusaha untuk menatap lawan bicara, meskipun tidak ada kata yang terucap di bibirnya. Setidaknya Anin menghargai lawan bicara.


"Soal masalah cuti yang kamu ajukan beberapa hari yang lalu, kenapa kamu mengajukan cuti nya secara mendadak? memang nya kamu mau kemana?" Dewa bertanya secara beruntun, karena rasa ingin tahunya sangat tinggi.


"Maaf sebelumnya, saya sudah beberapa bulan yang lalu ingin mengajukan cuti, tetapi saya urungkan karena kesibukan di kantor membuat saya berpikir dua kali untuk mengambil cuti."


"Di kesempatan ini saya ingin mengajukan cuti, dengan alasan saya ingin pulang kampung. Saya lama tak pulang membuat saya merindukan ibu, dan adik-adik."


Anin berani mengeluarkan uneg-uneg nya selama ini, mengambil cuti pasti aku mempunyai alasan tersendiri.


Kedua netra mereka saling bertemu, lalu Anin memutuskan kontak netra nya memilih memandangi kearah lain.


Mereka sama-sama mengatur detak jantungnya, menyembunyikan perasaan yang sama, tetapi susah ia akui.


Kejujuran itu sangat mahal, Anin pun tak berani berharap lebih. Anin tahu siapa dirinya? tak pantas mengharapkan pria di depannya, bagaikan langit dan bumi.


Mereka pun tidak akan pernah bersatu, di lihat dari mata kepala sendiri. Mereka sangat berbeda jauh, tak sepadan, biarkan perasaan ini ia simpan baik-baik di hatinya..


Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya menemukan titik temu. Anin di berikan cuti selama 5hari. Selama 5hari Anin ingin memanfaatkan waktunya sebaik mungkin, tidak ingin menyia-nyiakan kebersamaan dengan keluarganya.


Anin sudah keluar dari ruangan Pak bos, mereka sudah duduk berdua. Septi sudah gatal ingin mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi ia menunggu sahabatnya menghabiskan makanannya..


"Alhamdulillah kenyang." ucapnya penuh rasa syukur bisa menikmati satu mangkok bakso, dan es teh manis.


"Kenapa kamu lama berada di ruangan Pak bos?" tanya Septi penuh selidik, rasa kepo nya sangat tinggi.


"Duduk, diam, menjawab." jawabnya Anin dengan sangat enteng nya. Padahal perasaan sudah mau keluar dari tempatnya, tak mungkin juga ia akan menceritakan pengalaman nya di ruangan berdua.


"Terus ngapain aja sampai berjam-jam?" Lagi-lagi Septi mengajukan pertanyaan, karena belum mendapatkan jawaban memuaskan.


"Rahasia!" jawabnya Anin meninggalkan tempat duduknya, dan Mulai membayar tagihannya.


Anin melihat ekspresi nya Septi tertawa terbahak-bahak, tidak menyadari bahwa ada pasang mata memandangi Anin sampai netra nya tak berkedip.


Tawanya membuat sepasang netra memandang nya secara diam-diam mengulum kan bibirnya untuk tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan ke khalayak ramai, karena senyum ini untuk orang yang spesial.

__ADS_1


__ADS_2