Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 25


__ADS_3

Semangat baru untuk memulai kehidupan barunya, Dewa sudah kembali masuk ke kantor lagi, hampir dua bulan lamanya tak menginjak kakinya di perusahaan ini membuatnya sedikit ada yang berbeda.


Perbedaan yang membuatnya ingin mencari tahu tentang perbedaan itu.


Tak tahu perbedaan nya apa? yang jelas ada sedikit perbedaan membuat Dewa berkali-kali celingak-celinguk mencari perbedaan itu.


Langkahnya yang pasti dengan pandangan mata yang tajam sangat menghunus jantungnya.


Beda halnya dengan para pegawai yang berbaris rapi, mereka ingin menyapa CEO pria tampan yang menjadi rebutan.


"Selamat pagi pak Dewa." Tutur para pegawai yang menunduk hormat kala Dewa memasuki lobby utama kantor.


"Pagi semuanya." sahutnya Dewa menyapa para pegawainya, tak lupa memberikan sedikit senyuman.


"Dewa tersenyum lalu meninggalkan tempat tersebut."


Setelah menyapa para pegawainya, Dewa melanjutkan langkahnya ke ruangannya. Di perjalanan ke ruangannya Dewa berkali-kali bersiul, tersenyum tidak tahu kenapa tiba-tiba perasaannya bahagia.


Bahagianya bener-bener murni dari hatinya yang terdalam, perasaan yang membuncah bahagia adalah bisa kembali ke kantor, memimpin perusahaan ini dengan baik, dan lebih baik lagi.


Senyum merekah di bibirnya yang manis sampai ia berbunyi dentingan lift, hawa positif ia torehkan untuk pagi yang indah, dan untuk jiwa yang semangat menyambut mentari pagi.


Tidak Dewa sadari ada sang sekertaris yang memperhatikannya, membuat Dewa tak tahu ternyata bahagianya ada yang tahu, padahal ia ingin sembunyikan biarlah di simpan di dalam hati saja.


"Ehmmm ada yang jatuh cinta nie cie.." goda Rano yang sudah ada lebih dulu, sama-sama tidak menyadari bahwa mereka ketemu di saat keluar dari lift.


"Sok tahu kamu!" Dewa melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruangannya, ruang yang akan membuat kesibukannya bertambah.


"Wajah pak bos tidak bisa di bohongi." Rano kekeh dengan praduganya tentang sang bos.


"Ngawur!" Dewa sedikit kesal dengan sikap Rano yang sok tahu tentang pribadinya, terutama masalah hati biarlah dia yang tahu, belum saatnya orang lain tahu.


"Kembali ke ruangan mu sana! pagi-pagi sudah ngerumpi seperti anak cewek saja!" ketusnya Dewa yang mengusir sekertarisnya.


"Wkkkkwkkkk si bos sedang sensi." Ujar Rano berlalu dari hadapan Dewa dengan wajahnya yang di tekuk seperti anak kecil yang tidak di kasih permen.

__ADS_1


Di ruangan nya Dewa menutup pintu sedikit kasar, mood paginya langsung buruk mengingat perkataan Rano yang mengusik perasaannya.


"Si al banget ketemu sama si kunyuk itu!" Umpat nya Dewa yang menahan kesal, bener-bener sudah melampaui batas sebagai sekretaris, untungnya kamu pintar..


Mau marah, mau ini itu tetap saja aku masih membutuhkan sekertaris jelek itu! kalau tidak ada dia pasti perusahaan ini akan berantakan.


Walaupun sedikit bikin kesal, ada sisi baik yang Rano dedikasikan untuk perusahaan. Kerja keras, keuletan dalam bekerja menjadi nilai plusnya.


*


Di kantor yang sama duo perempuan yang saling bersahabat sedang menyibukkan dirinya dengan segudang aktivitas, kertas-kertas berserakan diatas meja, beberapa bolpoin berceceran dimana-mana?


Itulah yang terjadi di ruangan duo perempuan, mereka sedang merevisi kertas-kertas yang menumpuk di mejanya sebelum mereka serahkan ke sekertaris Rano.


Nindy yang bertugas mengetik laporannya, sedang Anin yang merevisi laporan tersebut sebelum ia serahkan ke Nindy untuk mengetik nya ulang.


Nampak sekali kesibukan keduanya, memecahkan masalah supaya bisa segera selesai tumpukan tugas kantor.


Walaupun ada rasa capek, lelah, lapar, dan semua menjadi satu tak menghalangi semangatnya untuk mengejar pundi-pundi uang yang akan ia dapatkan bila gajian tiba.


Memasuki jam istirahat baru mereka menyelesaikan acara mengetik laporan, mukanya yang awalnya cantik, rapi, bibir merah merona.


Kini tampak sekali semrawut, rambutnya sedikit acak-acakan, pakaian pun sama-sama sedikit lecek, tetapi bibir merah mudanya masih merona indah.


Masih segar untuk di pandang netra, kecantikan keduanya seperti kecantikan Paripurna yang tiada duanya. Banyak yang mengira mereka kembar, wajahnya bak pinang di belah dua.


Selesai dengan sesi pertama, kebetulan bertepatan dengan jam istirahat bagi seluruh pegawai.


Mereka berbondong-bondong ke kantin, rasa lapar di perutnya membuatnya harus mengisi bahan bakar dulu sebelum memulai aktivitas nya berkutat dengan banyaknya kertas-kertas.


Mereka duduk di kursi yang kosong, kantin pun juga belum begitu ramai tak seperti hari kemarin yang sangat-sangat berlimpah ruah orang-orang untuk mengisi bahan bakar, termasuk dirinya juga.


Dua mangkok bakso tersaji diatas meja keduanya, kuah yang masih panas dengan asap yang mengepul mengunggah selera makannya untuk segera mereka cicipi.


Aroma masakan yang lezat seakan tak sabaran untuk menggigit bola-bola bakso tersebut yang berjajar rapi di gerobaknya.

__ADS_1


"Hmmm enyak Nindy, kuahnya seger bener bikin mata ku ini melek. Semangat ku mulai bangkit" Tuturnya Anin memuji makanan yang ia makan, meskipun sedikit penuh di mulutnya rasanya sungguh nagih.


"Anin tiada henti tidak untuk bercerita."


"Nindy tersenyum merespon ceritanya Anin."


"Setuju, lidah kita ternyata sama wkwkwk." sahutnya Nindy yang memuji masakan nya sama seperti Anin


Hingga kantin mulai ramai pengunjung, mereka asyik menikmati kuah bakso yang masih ada kepulan asap di kuahnya. meskipun banyak orang-orang yang melihat kearahnya, mereka mah masa bo doh tentang tatapan mata yang sinis.


Mereka menyadari tak semua pegawai itu akan suka dengan kita, tetapi mereka tetap cuek-cuek saja terhadap seseorang yang memandangnya berbeda. Terpenting dirinya bekerja dengan benar, patuh, dan tidak pernah merugikan perusahaan tempatnya bekerja.


"Sepertinya ada yang ngeliatin kita terus deh, Nindy." bisiknya Anin tepat di telinga.


"Biarin saja, mereka hanya melihat saja terpenting tidak melukai kita." Nindy untuk sikap tenangnya menimpali ucapan Nindy.


Akhirnya keduanya memilih cuek tanpa mau tahu kehidupan orang lain, karena aku juga tidak suka tahu kehidupan orang lain.


Meninggalkan kantin dengan senyuman menghiasi bibirnya, perutnya kenyang hati pun senang.


15menit sudah mereka bersemedi di kantin, kini mereka sudah kembali lagi berkutat dengan banyaknya kertas-kertas, bolpoin, laptop yang masih menyala.


Semangat baru untuk sesi kedua, perut kenyang, wajah bahagia pekerjaan akan lancar dengan mengikuti moodnya duo perempuan cantik hahahaha.


"Bahagianya." celetuk Nindy yang masih mengelus-elus perutnya yang sedikit membuncit karena ke kekenyangan.


"Bahagia karena apa Nindy?" tanya Anin yang mulai kepo dengan perkataan sang sahabat.


"Karena sudah kenyang." jawabnya singkat, langsung Anin pahami.


"Hmmm kirain apaan!" Tuturnya Anin dengan bibirnya sudah mengerucut, di tunggu jawabannya malah membuat moodnya langsung anjlok ke dasar jurang paling dalam.


Melihat ekspresinya Anin yang berubah membuat Nindy tak berhentinya menertawakan kelucuan Anin yang seperti anak kecil.


Lucu dan menggemaskan, peribahasa yang tempat untuk keduanya, muka imut, cantik luar dalam.

__ADS_1


__ADS_2