
Beberapa bulan telah berlalu semenjak pertemuan nya dengan mommy Retha, Ibunda dari pak Dewa selaku atasannya di tempat ia kerja nya.
Tidak ada yang berubah, semua berjalan sebagai mestinya karena bawahan dan atasan itu sangat berbeda.
Tak mengharapkan lebih, sesungguhnya aku sadar diri bahwa tujuan aku di bawa ke rumah adalah sebuah kesalahan, hukuman karena terlambat masuk jam kerja.
Anin tak berharap banyak pada pertemuan beberapa bulan kemarin, aku bisa makan tiap hari, nyicil perbulan sudah membuat aku senang.
Sejatinya kebahagiaan itu kita yang menciptakan, kita yang membuat bahagia sesungguhnya kebahagiaan milik kita.
Ternyata aku mampu melewati masa sulit, bisa menunjukkan kepada diriku sendiri, menyemangati nya bahwa aku layak untuk berdiri tegak dari keterpurukan ku.
Seandainya waktu bisa di putar kembali, aku tak akan mau menerima perjodohan yang hanya bertahan seumur jagung. Bertahan dalam keterpaksaan, pada akhirnya aku sendiri yang terluka, luka yang tak berdarah tetapi sangat sakit.
Di Kota Jakarta ini aku menaruh harapan besar, di kota ini aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Belajar dewasa dari luka masa lalu, masa yang membuatnya ingin mengakhiri hidupnya.
Hari berganti menjadi minggu, bulan bahkan tahun. Susah payah bangkit, akhirnya aku mampu menjadi wanita yang tegar.
Tak akan ku tangisi lagi masa lalu, aku siap maju, siap berjuang, siap untuk membuka hati yang baru. Dengan memperluas pertemanan, dan aku bisa belajar banyak tentang kegagalan di masa lalu.
"Anin kamu di ajak bicara malah melamun sih, kamu enggak asyik." Tutur Nindy yang terus saja berbicara mendumel, wajahnya nampak sekali kusut seperti tak mendapatkan jatah gajian tiap bulannya.
"Ehhh kamu bicara apa tadi?" tanya Anin sedikit gelagapan. Tidak tahu apa yang Nindyy bicara kan, aku malah asyik melamun dengan masa lalu yang telah usai.
"Enggak jadi! aku ngantuk!" jawabnya Nindy dengan sewot, badannya di miringkan untuk membelakangi sang sahabat.
Dari tadi di ajak bicara malah aku di cuekin, sibuk dengan dunianya. Kini giliran ku yang gantian cuek, emang enak di cuekin, di tambah tidurnya di belakangi hihihi...
Di dalam selimut Nindy tertawa cekikikan, karena mode kesalnya berhasil membuat sang sahabat merayu dengan merengek-rengek seperti bayik kecil.
Ahh lebih baik aku tinggal tidur lah, ngantuk ini. Salahnya siapa jika juga aku di cuekin, kan ujung nya enggak enak banget kan huuuhu.
"Malah di tinggal ngorok, kamu sama dengan aku enggak jelas nya hihi." Ujar Anin tertawa-tawa kecil melihat sang sahabat yang meninggalkan dirinya tidur duluan, padahal tadi dalam mode ngambek.
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu lama, Anin juga ikut menutup sebagian tubuhnya dengan selimut tebal.
Mereka sama-sama mendengkur untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum hari esok tiba, seakan berlomba-lomba beradu suara saking capek, ngantuk sebelum memulai rutinitas nya kembali setelah libur di hari minggu.
Suara alarm diatas nakas meja kamarnya terus saja memekik gendang telinganya, berusaha untuk menutupinya dengan kedua tangannya, dan juga selimutnya.
Tetap saja suara alarm lebih nyaring, daripada suara ngorok nya mereka berdua...
Anin meraba-raba diatas nakas untuk mencari alarm untuk di matikan, bukan nya ketemu malah ke senggol tangan nya dan pada akhirnya terbelah beberapa keping.
Pyarrr pyarr....
Tanpa aba-aba Anin langsung terbangun dengan mendudukkan tubuhnya diatas kasur, ekor matanya celingak-celinguk mencari sumber suara.
Setelah melihatnya, ekor matanya langsung melotot benda kesayangannya pecah tak berbentuk.
Sampainya mereka di ruangan nya, wajahnya Anin terduduk lesu gara-gara jam weker nya pecah berkeping-keping. Jam itu mempunyai historis sendiri baginya, karena itu jam yang sengaja ia bawa dari panti sebagai kenang-kenangan bila merindukan rumahnya bersama Adik-adik.
❤
Beberapa bulan terakhir ini Dewa sedang melakukan perjalanan bisnis ke berbagai negara di dunia. Bukan yang pertama, tetapi sangat melelahkan tidak ada pasangan yang menemani perjalanan berkeliling dunia sembari bekerja.
Pagi ini, pagi pertama nya Dewa menginjak kaki nya kembali di kantor. Rasa rindu kepada gadis bernama Anindya Dirgantara. Kian terasa menggebu-gebu, ingin sekali menghampiri ke ruangannya, tetapi ia enggan karena ingin memberikan sedikit kejutan bila bertemu dengan Anindya Dirgantara
Di ruangan yang berbeda Dewa sedang senyum-senyum tak jelas, membayangkan pertemuan beberapa bulan yang lalu membuatnya ingin sekali mengulang kembali momen-momen kebersihannya dengan pegawai nya, Anindya Dirgantara.
Perempuan yang mampu mengusik pikirannya, jiwa liarnya langsung bangkit hanya dengan membayangkan berada dalam satu mobil yang sama.
Senyummu manis seperti permen gulali, manisnya enggak hilang-hilang. Walaupun sudah di cecapnya berulang-ulang, tetap saja rasanya manis semanis senyummu.
Dewa mulai menghentakkan kakinya, mendengar musik adalah hobinya. Dewa sendiri sangat suka dengan musik yang melow, mengandung bawang.
Baginya musik bisa menggambarkan perasaan nya, bisa mencurahkan isi di dalam hatinya. Dengan lagu pula, aku bisa mencurahkan rasa tak biasa kepada wahai gadis pujaan ku.
__ADS_1
Makin lama Dewa semakin melantur kemana-mana, tidak menyadari suara ketukan pintu yang berbunyi beberapa kali, tidak ada jawaban membuat Anin berinisiatif untuk membuka pintu atasannya.
Bismillah..., satu tarikan nafas Anin memberanikan dirinya untuk membuka handel pintu, suara yang sangat pelan tak mampu membuat Dewa menoleh ke asal suara.
Pak Dewa sudah pulang?
Pertanyaan yang lolos Anin ucapkan di dalam hatinya, rasanya tak etis mengucapkan kata-kata bahagia di depan pria berwajah tampan.
Bisa-bisanya dia kegegeran, kan harga diriku langsung anjlok, turun drastis. Entar di sangka aku perempuan apaan?
Aku berusaha membalikkan badanku untuk keluar dari situasi yang tak mengenakan, baru tangan memegang handel pintu. Ada suara sang bos memanggil namanya, suara yang sangat familiar.
"Tunggu!"
"Kamu mau kemana?"
"Jangan pergi!"
Berbagai macam pertanyaan ia lontarkan, berharap dia mau mengerti, mau menunggu ku datang menghampiri nya.
"Apa kabar mu?"
"Hm sehat pak!"
"Kenapa kamu masuk ke ruangan ku tidak ketuk pintu dulu, seandainya aku sedang bermesraan dengan cewek ku apa kamu tak malu melihat kemesraan orang lain!"
"Maaf pak!"
Saking tidak tahannya, tanpa permisi aku langsung keluar dari ruangan nya Pak Dewa. Ekor mata ku sudah memerah, siap meluncurkan awan panas yang mengucur deras membasahi wajahku.
Pak Dewa kan sendiri, bukan dengan siapa-siapa? Mengapa aku berfikiran yang tidak-tidak ya.
Kenapa ada rasa sakit ketika pak Dewa bilang bermesraan dengan cewek, bukan nya aku bukan siapa-siapa nya Dia. Kenapa aku harus sedih, nangis juga?
__ADS_1