Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 19


__ADS_3

"Pak, berhenti!"


Ciiittttt!


Mobil yang langsung Dewa kendarai di rem mendadak, dahinya mengernyit karena bingung tiba-tiba di suruh untuk berhenti.


"Kenapa?" pertanyaan Dewa yang merasa bingung dengan perubahan mimik wajah wanita yang berada di samping nya.


"Mau kemana?" belum di jawab Anin bertanya berulang.


"Ke surga, mau."


"Iiihhh aku itu serius naya?, Pak!"


"Kita mau kemana? kasih tahu."


Mendengar suara rengekan wanita cantik yang menurutnya seperti anak gadis tetapi versi anak kecil membuat Dewa mengulum senyum, sangat lucu bila di pandangin dengan pandangan pertama yang menggoda.


"Ini kan komplek perumahan elit, kenapa kita harus perlu kesini!, bukan kah kita akan jalan-jalan."


Dewa tak menanggapi ke ceriwis an wanita yang duduk di sebelahnya, tanpa mau keluar kata dari bibirnya.


Mobil terus melaju sangat pelan.


Sampai di pelataran rumah, pintu masuk banyak para pegawai yang bersih-bersih, ada yang menyapu dan juga mengepel.


Rumah mewah bak istana, yang biasanya Anin lihat ada di media sosial kini terpampang jelas di depan matanya. Bangunan megah bergaya Eropa ada di depannya, Anin hanya mampu menelan ludahnya dalam-dalam.


Tak pernah bermimpi akan melihat rumah yang seperti negeri dongeng, seperti yang Anin pernah baca di novel-novel online, maupun media elektronik.


"Ini rum-ahnya siap-a?" tanya Anin sedikit gugup, jantungnya berdebar tak karuan, hari ini juga ingin sekali ke kutub Utara untuk menghilangkan rasa tak menentu di lubuk hatinya.


"Rumah ku, rumahnya Mom dan Papa maksudnya aku sayang"


Jawabnya Dewa jujur.


Anin kembali terdiam mencerna Kata-kata yang di ucapkan sebagai atasannya, sebenarnya tak menyinggung perasaan hanya saja harus bisa tegas.


Anin malah sibuk dengan pemikirannya,


Bukan nya mengajukan pertanyaan berikutnya, Anin hanya bengong, terpesona dengan bangunan kokoh yang menjulang tinggi yang berada di depannya.


Pikirannya bener-bener antara takjub, bingung dan ada lagi yang ia pikiran sampai Anin sendiri bingung mau berbicara apa lagi.


"Hai, kenapa diam?" pertanyaan Dewa sembari mengenggam erat tangan kekasihnya, berusaha untuk membuatnya lebih tenang lagi karena mungkin ini pengalaman pertamanya untuk Anin.

__ADS_1


"Ohhh aku gak apa-apa, sungguh!" jawab Anin dengan senyum sedikit di paksakan, senyum yang begitu sangat gugup.


"Ayo masuk!" kata Dewa dengan jemari tangan yang saling bertautan.


Tanpa perlu memberikan jawaban ajakan pria yang menggandeng nya, Anin juga mau tak mau menuruti apa kata pria yang ada di sebelahnya.


Tujuan Dewa mengajak Anin ke rumah, sudah Dewa susun secara rapi. Dengan alasan tak ingin di jodohkan pilihan orang tuanya, Dewa memilih jalan pintas dengan menggandeng tangan Anin untuk di kenalkan ke kedua orang tuanya.


Tak tak tak


"Maksudmu tadi ini rumah, rumah orang tua mu?" tanya Anin dengan kata yang sedikit tercengang mendengar kata Mom dan Papa, yang berarti kedua orang tuanya Dewa.


"Iya." jawabnya singkat.


GLUK


Gluk


Gluk


Anin menelan ludahnya, tak terbayangkan kejadiannya akan seperti ini. Ucapan Dewa pun nyata, tidak di buat-buat seperti pria gombal pada umumnya.


"Mau ngapain?"


Mendengar jawaban Dewa menjadi jawaban bahwa Dewa membuktikan ucapannya, dan sungguh-sungguh mengajak nya ke rumah sebagai tanda permintaan maaf atas keterlambatan nya.


Tadi pagi pakai bangun telat, coba tidak telat pasti ceritanya tidak seperti sekarang ini. Uhhh rasanya ingin menangis, bila tak mengingat dirinya sudah dewasa, andai aku masih anak kecil pasti aku sudah nangis kencang minta pulang


"Ayo turun!" ajak Dewa menggenggam tangannya Anin erat.


" Mau Kemana?" tanya Anin berusaha menahan tangannya Dewa.


Kedua manik matanya saling bertemu, Anin berusaha untuk pura-pura tak melihat, sejujurnya dirinya enggan sekali bersitatap pandang dengan pria yang ada di sebelahnya.


"Tapi?"


"Tidak ada penolakan."


Akhirnya Anin hanya pasrah mengikuti kemana langkah kaki pria di depannya, bibirnya kelu untuk mengucapkan satu kata pun.


"Assalamualaikum Mom, Aku bawa seseorang yang spesial, pasti Mom suka dengan pilihan ku!" teriakan Dewa dengan nada sedikit keras, tetapi sangat halus bila di cermati.


"Waalaikumsalam, bisa enggak sih enggak teriak-teriak seperti anak kecil, kupingnya Mom berdenging setiap mendengar suara lengkingan mu!"


Mom Retha terus saja mendumel, memarahi putra kesayangannya. Dewa hanya mampu cengar-cengir mendengar suara Mom nya yang sangat ceriwis, tetapi sangat Dewa cintai.

__ADS_1


Anin merasa sedikit tidak enak setiap kali mendengar kata yang di lontarkan wanita cantik, dan ternyata wanita tersebut adalah mommy nya pak Dewa, atasannya di kantor.


"Perempuan mana lagi yang kamu bawa hah? dasar anak nakal." Ujar Mom Retha berapi-api.


"Pak aku mau pulang saja! tolong lepaskan tangan saya, pak!" bisiknya Anin menahan lengan pria tersebut.


Dewa semakin mempererat genggaman tangannya, tak ingin melepaskan perempuan yang ada di sebelahnya.


Seandainya Mom yang tidak menyukai wanita yang ia bawa, Dewa bisa mengajak kawin lari, pasti Anin akan mau dengan sedikit paksaan.


"Ahhh Mom enggak asyik, baru juga datang sudah marah-marah tak jelas, harus nya di silahkan duduk kek, atau di tawarin minum juga boleh!"


"Baru juga datang langsung di berondong Omelan, persis seperti petugas keamanan yang sedang mengintrogasi tersangka." bibirnya Dewa langsung mencebik persis seperti anak kecil yang tidak di kasih permen.


Anin yang mendengar suara ocehan atasan nya ingin sekali menertawakan, pak Dewa sangat berbeda bila berada di rumah. Kelihatan sangat humble sama keluarga, ceriwis nya seperti mommy nya.


Sungguh pemandangan yang membuat menghangat, kelihatan pak Dewa sangat sayang keluarga.


Mereka duduk saling bersisian, di depannya ada Mom Retha yang menatap nya sedikit tajam. Aura yang di Keluarkan seakan mereka adalah tersangka, yang harus segera di interogasi.


Sekian menit menatap perempuan yang ada di depannya dengan aura mengintimidasi, lama kelamaan tatapan mom Retha menjadi lembut.


"Siapa nama mu, Nak?" tanya Mom Retha dengan tatapan penuh sayang, tatapan lembut seorang ibu ke putrinya.


"Anindya Buk." jawabnya singkat.


Aku tak menyebutkan nama panjangnya, cukup nama Anindya sangat pas, dan cocok untuk di dengar.


"Nama nya cantik seperti orangnya." puji Mom Retha untuk Anindya.


Anin yang di puji ibu atasan nya hanya mampu tersenyum tipis, sesekali melempar senyum untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Tidak tahu siapa yang memulai duluan, nampak sekali mereka sudah sangat akrab. walaupun tadi ada sedikit ketegangan, lama kelamaan suasana hangat tercipta di ruang tamu.


Dewa yang menyaksikan keduanya sangat akrab, membuatnya lagi-lagi tersenyum tipis. Seakan mendapatkan lampu hijau dari Mom Retha, dan Anin pun perempuan baik yang harus di lestarikan.


Mereka mengobrol banyak hal, tidak terasa waktu semakin malam membuat Anin berkali-kali melirik Dewa untuk segera di antarkan pulang.


Makan malam pun sudah selesai mereka lakukan, obrolan ringan pun juga sudah mereka jalani.


Setelahnya Anin berpamitan untuk pulang karena hari sudah malam, sudah saatnya mereka mengakhiri obrolan ringan nya.


Tidak ada yang berbicara duluan, di dalam mobil pun nampak sekali hening. Suara musik mengalun indah sebagai pengantar perjalanan mereka.


Kesan pertama Anin untuk ibu Retha sang baik, meskipun awalnya tidak bersahabat. Lambat laun ibu Retha menunjukkan sisi keibuan nya, membuat Anim nyaman berada di dalam pelukan hangat seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2