
*Seandainya waktu bisa di putar kembali pasti aku akan berfikir dua kali untuk menikah muda, pernikahan di awali dengan perjodohan rata-rata berakhir tak bahagia.
Apa yang di takutkan Anin menjadi kenyataan, nasib pernikahannya pun berakhir di meja hijau.
Seharusnya ini bukan mau ku, tetapi apa daya tangan tak sampai. Jodohku de mas Nirwan hanya sampai di sini, dan aku enggak boleh menyesali apa yang telah terjadi.
Semuanya sudah suratan takdir, aku hanya manusia biasa hanya mampu berpasrah, dan manut dalannya Gusti*.
Mas Nirwan pria pertama yang melihat ku langsung jatuh cinta, dan pada akhirnya lamaran terjadi, tak butuh waktu lama akhirnya kami memutuskan menikah untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan.
Berbicara tentang mas Nirwan pria yang dulu pernah ada di harinya, Anin tak tahu kabar beritanya lagi. Semua hilang bagaikan di telan bumi, semenjak keduanya resmi berpisah baik hukum, dan Agama.
Mungkin juga kita tinggal di kota yang berbeda menjadi takdir berbeda, belum di pertemukan dengan masa lalu.
Anin kembali ke dunia nyata, tak mau mengingat kisah kelam. Memilih menyibukkan dirinya dengan dokumen diatas meja kerjanya.
Mereka masih sibuk dengan rutinitas di kantor, ada beberapa agenda yang harus mereka selesaikan sebelum mereka balik kanan pulang ke rumah.
Kesibukan bener-bener menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan banyak lagi yang membuat keduanya merasa kelelahan sampai selera makan pun ikut malas.
"Anin kok kamu sepertinya sedang ada masalah, coba deh kamu cerita. Siapa tahu aku bisa membantu?" Ujar Nindyy menanyakan kecurigaan nya yang selama ini banyak melamun.
"Aku nggak apa-apa kok, mungkin kecapekan saja. Bener deh Nindy, kamu jangan khawatir gitu hihihi." Anin berusaha untuk tersenyum, meskipun ada keterpaksaan.
"Ya sudah kalau belum mau cerita, kapanpun kalau mau cerita. Aku siap kok menjadi pendengar yang setia, dan baik untuk sahabat ku yang baik ini." Nindy mengalah tidak ingin ikut campur masalah yang dihadapi sahabatnya.
Setelah ada insiden kecil, keduanya sudah kembali akrab dan memulai pekerjaannya sebelum di kejar-kejar banyaknya kertas-kertas diatas meja.
__ADS_1
🌹
Di kota B
Nirwan sibuk dengan usaha orang tuanya, fokusnya dengan layar komputer yang masih menyala.
Bukan rak mengingat lagi mantan istrinya, berusaha untuk mencari informasi keberadaan sang mantan ternyata nihil, tak menemukan petunjuk.
"Kamu dimana, Anindya? maafkan pria bodoh ini!" nirwan meruntuki kebodohannya, akibat di hasut orang tuanya Nirwan memilih melepas wanitanya.
Diam sejenak untuk mengingat wajah ayu yang membingkai wajah sang mantan, tanpa polesan makeup, maupun lipstik yang mewarnai bibirnya.
Tetapi sayang semua tinggal kenangan, tidak bisa mas menemukan keberadaan mu lagi. Rasanya aku sangat malu bila aku mendatangi tempat tinggal mu dulu, apa kata orang-orang nantinya.
🌹
Ada rasa jengkel, marah karena keteledoran nya dewa harus mengulang kembali dari awal. Rasa capek akibat lemahnya dalam bekerja, membuatnya enggan untuk memikirkan file yang hilang.
"Ingin sekali aku pergi ke kutub Selatan, menyembunyikan kepala ku yang pusingnya berkeliling-liling." gumam Dewa lirih sembari memijat pelipisnya yang sedikit bertambah penat.
Sejenak untuk berfikir, kini bahan yang telah hilang sudah di ketik sama Rano sang sekretaris. Lagi-lagi Dewa tersenyum lebar, karena Rano bisa di andalkan dalam segala hal. Seperti sekarang ini, lagi genting-gentingnya datanglah Dewi Fortuna untuk dirinya.
"Done bos!" Ucap Rani selesai mengetik, dan menyimpannya di file. Sewaktu-waktu di butuhkan masih tersimpan rapi di dalam laptop.
"Kamu yang terbaik, bisa di andalkan dalam segala hal." puji Dewa dengan senyum sumringah, tadinya yang mulai pusing kini bisa tersenyum lebar.
"Ahh bos mah kalau bicara suka bener hahahaha." Tutur Rano yang balik memuji dirinya dengan diiringi dengan tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ahh kamu Di puji dikit langsung besar kepala!" cibir Dewa yang tak suka dengan sikap sekertarisnya yang bangga dengan pujian kecil.
"Sekali-kali kan boleh bos." alibi Rano.
"Iya-iya terserah kamu deh!" Dewa hanya pasrah dengan ucapan Rano, kalau bukan dia tidak ada lagi yang bisa di andalkan dalam masa terjepit ini.
Adu argumen sudah selesai, mereka sudah kembali ke meja kerjanya. Keduanya mulai sibuk dengan bolpoin, kertas, dan berbagai dokumen yang siap untuk mereka pelajari lebih lanjut.
*****
Mommy Retha berkali-kali memijat pelipisnya, karena putra semata wayangnya susah untuk di nasehati masalah tentang pernikahan. Terkadang mommy Retha pun tidak bisa berbuat banyak, meskipun sudah berusaha menjodohkan putranya dengan anak sahabatnya, kolega bisnis, dan ada pula yang ingin berbesanan dengan keluarganya.
Lagi-lagi Dewa menolak nya kembali dengan dalil ingin fokus dengan pekerjaan, dan mau berkarir dulu sampai sukses baru memikirkan tentang pasangan hidup.
Semua yang di sodorkan mommy Retha di tolak mentah-mentah oleh Dewa, alhasil mommy Retha hanya mampu memijat pelipisnya berharap ada keajaiban untuk putranya.
"Sekali-kali Dewa kamu nasehati dong Pa, siapa tahu dengan Papa Dewa mau mengerti dengan keinginan kita!" Tutur mommy Retha diatas ranjang kamarnya. Mereka baru saja menghabiskan olahraga malam nya dengan berpeluh keringat, ada rasa puas tersendiri kala mereka bertukar keringat berdua.
"Coba nanti Papa bicara, tetapi nggak janji Dewa akan bersedia menikah dalam waktu dekat ini! karena aku tahu karakter putra kita yang sangat ambisius dalam pekerjaan." sahutnya sambil membelai rambut sang istri yang nyaman dalam dekapan hangatnya.
Tidak tahu siapa yang memulai, mereka melanjutkan olahraga malam. Usia tak menjadi mereka melupakan nafkah batin, bila ada kesempatan mereka selalu mengulangi olahraga yang membuat badannya sehat, pikiran jernih, dan bersemangat dalam beraktivitas.
Mommy Retha sangat kelelahan meladeni permintaan suaminya yang sudah mulai minta ke hal-hal yang baru, sebagai seorang istri mommy Retha selalu menuruti perintah suaminya asalkan itu tidak melarang ke Hal yang maksiat.
Bukankah sudah menjadi kewajiban sebagai istri patuh dengan suaminya? Sudah sewajarnya suami juga ingin di kebahagiaan istrinya di rumah, seperti malam ini mereka seakan tidak pernah puas untuk mencapai puncak nirwana.
Hampir jam 3pagi mereka baru saja menyudahi nafkah batinnya, mommy Retha sudah tertidur duluan tanpa berniat untuk membersihkan sisa-sisa keringat yang menempel di tubuhnya.
__ADS_1
Rasa kantuk lebih mendominasi membuat nya tak berdaya untuk bangun, mereka tidur saling berpelukan melupakan sejenak urusan pekerjaan, keduanya nampak nyaman dalam dekapan.