
Dengan keberanian tinggi Anin meminta kelonggaran waktu, hanya ingin menghabiskan waktunya di Bandung dan menikmati hari-hari nya sebelum dirinya ke Jakarta.
Banyak tempat yang ia singgahi, karena kesibukannya bekerja membuatnya urung melakukan dengan alasan rak ada hari libur untuk bersantai ria.
Beberapa hari yang lalu selesai Anin di telepon sekertarisnya pak Dewa, Anin mencoba bernegosiasi sendiri, meminta kepindahannya di kantor cabang ke pusat bersama sahabatnya Nindy.
Kalau pun tidak ada jalan tengah-tengah atau di perbolehkan, terpaksa dirinya akan mengambil jalan pintas, yaitu resign.
Baginya Nindy adalah keluarga satu-satunya yang ia punya selama dirinya di perantauan setelah keluarganya yang berada di panti.
Biar bagaimanapun Nindy orang yang berjasa dalam hidupnya, dia merupakan keluarga satu-satunya yang Anin miliki selain ibu panti, dan adik-adik panti yang Anin sayangi dengan setulus hati.
Perbincangan alot itu pun membuahkan hasil baik, permintaannya tentang kepindahannya ke ibukota Jakarta bersama Nindy di setujui. Inilah maunya Anin tak terpisahkan, meskipun mereka bukan saudara kandung, tetapi sudah dianggap Kaka adik seperti sepasang anak kembar.
"Akhirnya kita bisa barengan terus, di Jakarta nanti semoga jadi titik kebahagiaan kita ya Nindy." Tutur Anin yang berbincang sore di teras rumahnya, di rumah sepetak ini mereka menghabiskan waktunya untuk bersenda gurau, tertawa bahkan menangis.
"Alhamdulillah Anin, aku juga pengennya juga kita sama-sama terus sampai kita memiliki pasangan sendiri-sendiri." sahut Nindy menimpali ucapan sahabatnya, mereka seperti mata pisau yang tak terpisahkan. Seperti Upin Ipin yang selalu bersama baik suka dan dukanya.
Mereka berpelukan merasakan kebahagiaan ini, menumpahkan air mata kebahagiaan karena keduanya bersahabat, selamanya akan terus bersahabat.
Sampai keduanya menemukan titik nyaman.
🌼
Setelah mendengar laporan sekertaris Rano tentang perempuan yang bernama Anindya rasanya emosinya berada di puncak. Dewa ingin sekali mencaci maki perempuan tersebut. Kalau di pikir-pikir perempuan tersebut, maunya menang sendiri.
__ADS_1
"Enak saja main atur-atur, kan saya bos nya harus nya saya dong yang mengaturnya." umpatan Dewa mencak-mencak sampai nafasnya naik turun.
Dewa menarik nafasnya dalam-dalam membuang nya pelan, tidak ingin emosi menguasai dirinya akhirnya Dewa menjernihkan pikiran nya dengan teh hijau yang menjadi favorit nya di kala banyak pikiran.
Setelah jam makan siang Dewa sudah tak memikirkan lagi tentang perempuan tersebut, kini fokusnya kembali lagi ke pekerjaannya.
Seharian fokus dengan pekerjaan, sampai tak terasa hari sudah beranjak sore. Jam kantor pun makin berputar, sama halnya dengan pekerjaan Dewa yang semakin terkikis tumpukan kertas diatas mejanya.
Perjalanan ke rumah pun tidak ada kendala, Dewa tiba di rumah langsung di sambut pelukan hangat mommy Retha.
"Pasti capek ya, Nak!"
"Mau Mom siapkan air hangat atau minta Mom mau di siapkan apa hmm?" tanya mommy Retha beruntun, tidak ada koma, titik maupun tanda tanya.
"Makasih Mom! tidak usah aku bisa sendiri kog Mom, Mom duduk cantik saja biar aku masuk ke kamar untuk bersih-bersih dulu baru kita ngobrol." Tutur deway menolak halus tawaran mommy nya, karena tidak ingin membuat Mom nya sakit, Dewa memilih melakukan apa-apa seorang diri. Meskipun ada mbak bekerja di rumahnya, tetapi Dewa bisa melakukan sendiri.
Harapan satu-satunya sebagai penerus keturunan Armadanya, yang akan melahirkan cucunya cantik-cantik, tentunya memiliki paras yang tampan seperti putranya.
Selesai ritual di kamarnya, Dewa menuruni anak tangga kamarnya untuk menemui sang mommy yang lagi menonton acara gossip selebritis yang lagi viral.
"Mom..!" sapanya Dewa bibirnya terus saja menyunggingkan senyumnya, langsung duduk di sebelah mommy.
"Gantengnya putranya Mom!" pujinya Mom Retha melihat putranya yang lebih tampan, dan kelihatan sangat segar.
"Ada apa Mom? sepertinya ada hal yang penting." tanya Dewa yang sudah menaruh curiga, karena tak biasanya Mom Retha rela-rela menyambutnya pulang kerja. Pasti ada yang tidak beres, aku harus cari tahu itu biar tak penasaran.
__ADS_1
"Duduk dulu Nak sudah Mom buatkan teh hijau kesukaan kamu, sayang." Ujar Mom Retha.
Seperti titah sang Mom, Dewa mulai menyeruput teh hijau yang terhidang diatas meja. Rasanya sangat menenangkan, aroma teh yang wangi, dan rasa kombinasi dengan teh hijau sangat-sangat pas di indera pengecap.
Mereka memilih berdiam diri menikmati sensasi berbeda di indera pengecap, rasa yang tak bisa membuat Dewa move On dari kekasih nya teh hijau.
"Kenapa Mom? Kog lihatin Dewa segitunya." Lagi-lagi Dewa menaruh curiga, karena tak biasanya Mom menunjukkan perhatiannya, walaupun tiap hari Mom nya sangat perhatian.
"Masalah mantu Mama, tiba-tiba Mom ingin kamu segera menikah, Mom tidak sabar untuk mengendong cucu." jawabnya Mom Retha hati-hati, tidak ingin melukai perasaan putranya.
"Mom tenang saja, aku sudah punya seseorang buat di jadikan istri. Cepat atau lambat pasti aku akan kenalkan ke Mom dan Papa." Ucap Dewa memandang teduh perempuan yang di cintainya.
"Beneran kah Nak?" Mom Retha memastikan atas ucapan putranya, mom Retha menemukan dari ekor matanya tidak ada kebohongan.
"Yes Mom!"
"Makasih nak!"
Mereka meluapkan kebahagiaan dengan berpelukan, mengekspresikan perasaan bahagianya mendengar kabar yang susah di cerna dengan kata-kata, tetapi sangat mantap di ucapkan secara lisan.
"Tak salah aku memindahkan pegawai ku di cabang, setidaknya Dia bisa menjadi pacar pura-pura ku.
Sedikit bisa membahagiakan orang-orang yang aku sayangi, terutama mommy. Perempuan cantik yang mampu mengalihkan duniaku"
Dewa terus saja bergumam lirih, ada binar kebahagiaan dengan keputusan yang di buatnya. Walaupun semua masih dalam angan-angan, setidaknya impiannya sebentar lagi akan sesuai dengan kenyataan.
__ADS_1
Semoga ini yang terbaik, jalan yang di berikan Tuhan untuk jalan kebahagiaan nya, terutama membahagiakan orang tuanya.