Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 24


__ADS_3

Setelah berbincang sebentar dengan mom, Dewa memilih berpamitan dulu untuk masuk ke dalam kamarnya.


Seusai membersihkan badannya, Dewa sudah berpakaian santai dengan celana boxer yang menutupi sebagaian tubuhnya.


Memperhatikan perutnya yang kotak-kotak membuatnya tersenyum, tak sia-sia ikut gim membawa hasil yang posisi.


Di atas tempat tidurnya Dewa tak sama sekali bisa memejamkan kelopak matanya, pikirannya selalu terngiang-ngiang ucapan sang Mom.


Posisi tidur pun ia sudah berganti-ganti, tetap saja belum bisa memejamkan kelopak matanya yang sudah berat karena rasa kantuknya.


Kenapa susah sekali memejamkan mata ini? padahal sudah ngantuk, capek ingin istirahat ahhh si al!


Dewa terus saja untuk mencari posisi nyaman, terlentang, miring, tengkurap semuanya sudah Dewa lakukan untuk mendapatkan kenyamanan dalam beristirahat.


Jam 3pagi baru saja Dewa bisa terpejam dengan posisi memeluk guling, dengan suara khasnya.


Tok Tok...


"Wa, mau ke kantor enggak enggak? ini sudah jam 7pagi." Tutur Mom Retha berkali-kali mengetuk-ngetuk pintu kamar putranya, berulang-ulang juga tidak ada jawaban dari dalam.


Dewa masih menyelami dunia mimpinya, tidak menyadari bahwa sang mommy berusaha untuk membangunkan nya. Alhasil Dewa masih tak bergeming, masih nyaman dalam posisi tidurnya.


Setelah membangunkan sang putra tidak ada jawaban, Mom Retha memilih kembali ke meja makan sang suami sudah menunggunya untuk sarapan bersama.


"Dari mana ma?" tanya suaminya yang sudah duduk anteng di kursi, berbagai hidangan sudah tersaji diatas meja makan.


"Kamarnya Dewa Pa." jawabnya Mom Retha yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi.


"Kenapa ma?" tanyanya yang sedikit penasaran, karena biasanya Dewa sudah rapi atau malah sudah berangkat duluan ke kantor.


"Itu bangunin si Dewa Pa, mungkin karena kecapekan habis perjalanan bisnis. Jadi Mama bangunin tidak ada jawaban dari dalam, ya sudah Mama kembali ke sini deh!!" Tutur istrinya menjelaskan kronologi dirinya kenapa ke kamar putranya, pasti ada alasan tersendiri juga .


"Papa Arman pun hanya manggut-manggut mendengar cerita istrinya, dan sekarang aku paham pasti Dewa masih lelah."

__ADS_1


"Biarkan saja dia istirahat, biar nanti kantor yang handel Rano dan Papa." Tutur Papa Arman.


"Makasih Pa!"


Mereka melanjutkan sarapan bersama hanya suara dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring. Tidak ada obrolan, mereka menikmati sarapannya dengan tenang.


Selesai sarapan mereka melakukan aktivitas masing-masing, Papa Arman sudah berangkat ke kantor, sedang Mom Retha masih di rumah dan siap-siap untuk pergi arisan bersama sahabat-sahabatnya.


Jam 11siang Dewa baru saja menggeliat kan badannya, ekor matanya menyipit untuk melihat suasana kamarnya yang sedikit berbeda.


Sinar matahari siang hari masuk ke celah-celah jendela kamarnya, awalnya membiarkan saja karena masih ngantuk, masih ingin tidur sampai suara Kokok ayam baru ia akan bangun.


Teriknya sinar matahari yang masuk ke kamarnya membuatnya penasaran, ada apa gerangan?


Dewa membuka kelopak matanya sempurna, melihat jam yang masih tergeletak diatas nakas membuat bola matanya membulat sempurna.


"What jam 12siang!"


Ingin menikmati hari bermalas-malasan di kamar, semakin nyaman merapatkan selimut di tubuhnya. Melupakan sejenak urusan kantor, dan memilih mengistirahatkan tubuhnya yang memang sangat kelelahan akibat perjalanan bisnis ke berbagai negara.


Jam 1siang Dewa baru saja beranjak dari ranjangnya, selesai mandi dan berpakaian baru lah Dewa turun ke bawah karena cacing-cacing di perutnya sudah minta di isi.


"Pagi mbok." sapa Dewa yang sudah berdiri di belakang si mbok yang menata menu makan siangnya.


"Ini sudah siang den, lihat udah jam 1. seharusnya Siang mbok gitu den." cerocos simbok yang sudah selesai menata makanan.


"Hahahaha simbok mah, kan aku sengaja ingin menggoda simbok supaya simbok biar awet muda, dan cantik seperti artis Luna Maya." celetuk Dewa yang suka menggoda simbok, karena simbok sudah seperti keluarga nya sendiri, sudah di anggap keluarga.


Mereka saling melempar candaan, sesekali tertawa-tawa, sampai perutnya Dewa berbunyi cacing-cacing nakal. simbok semakin menertawakan Dewa, karena bunyi perutnya yang memekik telinganya.


Akhirnya mereka menghabiskan siang nya berdua, mereka banyak mengulang kisah masa lalu, masa dimana Dewa masih kecil, masih di asuh sama simbok.


Dewa sudah masuk ke ruang kerjanya untuk bekerja dari rumah, tak banyak yang ia lakukan hanya sesekali memeriksa email yang masuk, dan membalasnya.

__ADS_1


Selesai dengan semuanya, Dewa memejamkan kelopak matanya untuk menikmati tempat nyamannya bila sedang ingin menyendiri, dan sibuk karena tugas kantor yang numpuk.


Riang kerja menjadi tempat favorit nya Dewa, tempat yang membuat kenyamanan untuk nya menumpahkan nya baik masalah pribadi, dan masalah pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuh.


Di tempat ini Dewa mulai bisa mengatur emosional nya, supaya orang rumah tidak tahu bahwa ia mempunyai masalah, kecuali urusan pribadi. Pasti sang Papa akan tahu bila kantor sedang ada masalah, karena masalah kantor tidak bisa untuk ia tutup-tutupi.



Anin sudah sangat kelaparan pagi ini, perutnya terus saja berbunyi nyaring, pekerjaan yang menumpuk pun ia abaikan.


Bukannya tak tanggungjawab, tetapi rasa laparnya membuat aku susah untuk berkonsentrasi dalam apapun.


"Nindy, kok lama jam istirahat ya aku sudah lapar, man lama lagi." ucapan Anin terlihat memelas, memegang perutnya yang mulai tak enak untuk di ajak bekerja.


"Sabar belum waktunya."


"Ayo kita bekerja lagi, biar bisa mengalihkan rasa yang ada,"


Rasa yang amat sakit dengan pernikahan terdahulunya yang tidak bisa di bayangkan, atau terulang kembali.


Anin masih asyik dengan dunia khayal nya, dunia masa lalunya. Masa yang membuatnya harus mengingat lagi luka tersebut, yang seharusnya ia kubur dalam-dalam.


Berbicara tentang mantan suami, aku sudah tidak tahu lagi seperti apa kabarnya? setelah sidang putusan dulu, aku sudah tak saling menyapa baik lewat sosial media, atau bertemu secara langsung.


Ahhh kenapa aku malah kepikiran sang mantan, bukannya dia hanya masa lalu, tak akan pernah akan menjadi masa depan ku.


"Kamu sukanya begitu malah suka travelling kemana-mana? kan aku capek nunggu kamu bicara kek, atau apa kek bukan diam gitu kan aku jadi badmood." Ujarnya Nindy dengan mode ngambek terus saja menerocos tak ada titik, koma, maupun titik.


"Ayo makan sudah waktunya." Ajaknya Anin yang sudah memegang tangan sahabatnya, tak ingin menyia-nyiakan waktu istirahat bila terus saja merespon Nindy yang dalam mode ngambek.


Mereka tak jalan beriringan, meskipun enggan Nindy mengekor di belakang Anin sesekali memainkan gadget yang ia pegang.


Tatapan matanya tak pernah lepas dari gadget yang ia lihat, menurutnya gadget lebih asyik ketimbang makan siang.

__ADS_1


__ADS_2