Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 32


__ADS_3

Satu bulan terakhir.


Anin merasa lebih baik setelah sedikit menceritakan tentang masalah rumah tangannya kepada ibu panti. Setidaknya hatinya menjadi plong, dirinya bisa menatap masa depan yang lebih baik lagi.


Perasaan lega tergambar jelas di wajahnya, nampak sekali berseri-seri memancarkan sinarnya.


Tak bermuluk-muluk Anin ingin menjalani hidupnya lebih baik lagi, bisa memulai semuanya dari awal lagi. Anggap saja dirinya terlahir kembali, tidak ada coretan hanya ada lembaran kertas berwarna putih.


Berbicara dengan pak Dewa pria yang menjadi bos tempatnya bekerja, dalam tidak sengaja mereka di pertemukan di panti.


Tidak ada pembicaraan serius, mereka hanya saling menyapa sekedarnya saja tanpa mau ada yang membahas tentang pekerjaan.


Dari awal pun Anin tidak pernah bercerita kepada pihak ibu panti tentang pak bos nya, menurutnya itu tak penting bila bercerita macam-macam yang ada nanti di interogasi yang tidak-tidak.


Anin sudah mengantisipasi sebelumnya, tak ingin cerita masa lalu terulang lagi. Aku harus bisa selektif dalam mencari teman, mencari seseorang yang kelak mau menerima aku apa adanya. Bukan karena ada apanya.


Aku juga sudah aktif bekerja, ada rasa canggung tiap kali netra kami saling menatap. Tidak ada kata yang terucap, rasanya sangat malu bila netra kami saling

__ADS_1


memandang.


Seperti ada cerita tersembunyi yang sulit mereka ungkapkan, tak ingin memulai duluan aku memilih diam saja sampai tiba hari dimana ada yang meminta ku kepada keluarga satu-satunya aku.


🍎


Peristiwa satu bulan yang lalu menari-nari di ujung pelupuk matanya, ingin rasanya menanyakan langsung tetapi aku belum mempunyai keberanian untuk bertanya soal privasi.


Dewa hanya mampu menghela nafasnya berusaha untuk mengeluarkan uneg-uneg nya, berharap esok ada jalan untuk mereka berbicara dengan empat mata.


Bila mengingat permintaan mommy nya, Dewa ingin sekali pergi ke kutub Utara supaya bisa bersembunyi dari berbagai pertanyaan sang mommy.


"Woi!"


Rano masuk ke ruangan Dewa tanpa mengetuk pintu atau permisi, Rano masuk begitu saja karena memperhatikan pak bos yang dari tadi di perhatikan mulai senyum-senyum sendiri.


"Kenapa? masalah!"

__ADS_1


Dewa begitu sangat sewot acara melamunnya bener-bener terganggu akibat ulah Sekertaris Rano si al.


"Cie cie yang sedang jatuh cinta dunia terasa milik berdua, senyumnya seperti bunga yang bermekaran indah."


Rano terus saja menggoda atasannya, tak ada rasa takut sedikitpun bila nanti gajinya akan di potong secara sepihak.


"Mau saya potong gan gajinya hah!"


Teriaknya Dewa sedikit dengan nada tinggi, tak mau image sebagai playboy pemilik perusahaan terbongkar oleh sekertarisnya sendiri.


Dewa juga sangat gengsi bila ada rasa kagum dengan sang pegawainya, walaupun itu sah-sah saja karena keduanya juga sama-sama tak memiliki pasangan alias single.


Tak mau membuat sang bos semakin marah, Rano lebih dulu meninggalkan ruangannya dan tertawa cekikikan melihat ekspresi wajah atasannya.


Bilang saja pak sedang jatuh cinta, kenapa juga harus pakai sembunyi-sembunyi malu ya! atau malu jatuh cinta dengan pegawainya.


Dalam diam Dewa bingung dengan perasaannya, sulit rasanya untuk mengakui perasaan yang mulai tumbuh seiring berjalannya sang waktu.

__ADS_1


Bukan tak ingin membuka cinta baru hanya saja lebih selektif dalam memilih, tak ingin masa lalu terulang untuk kedua, ketiga kalinya....


__ADS_2