
Berkali-kali Rano hanya terdiam memperhatikan pria yang paling benar, Dia adalah Dewa atasan tempat ia bekerja.
Pria yang irit bicara, tetapi bila sedang marah seperti harimau yang mencekam mangsanya.
Pikirannya sudah travelling kemana-mana? hal yang buruk pun ia pikirkan, takut ini itu bila blaaaaa.
Mencoba untuk menarik nafasnya untuk meredakan emosi yang sudah memuncak, ingin melampiaskan tetapi tak berani.
Bisa-bisanya nanti ia akan di pecat, tamat sudah riwayat ku.
Rano menggeleng kan kepalanya, membayangkan bila sampai itu terjadi pasti aku marah pada diri ku sendiri.
Tersadar dari lamunan nya, Rano mulai ancang-ancang untuk berlari mengejar Pak dewa.
Dengan susah payah Rano berusaha mengejar atasan nya, yang kali ini dalam mode sedang tidak baik-baik saja. Bukan maksud untuk menyinggung perasaan, hanya saja semua itu reflek ia lakukan dengan spontan.
"Pak Dewa tungguin aku!" teriaknya Rano.
Rano tak menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian banyak orang, tak terkecuali satpam yang berjaga di lantai bassement.
Saling semangat nya untuk cepat sampai, Rano tak memperdulikan penampilan nya yang biasanya rapi kini sedikit acak-acakan dengan pakaian yang terlihat kusut dengan bulir-bulir keringat membasahi pelipis.
Dewa yang tidak terlalu jauh berhenti sejenak, merasa sangat jengah dengan sikap sekertarisnya yang berteriak-teriak seperti berada di dalam hutan saja.
Apa-apaan sih malu-maluin saja kamu Ran, di kira nanti aku bos yang membiarkan sekertarisnya pulang sendiri.
Kan citranya sebagai CEO tampan turun merosot dengan penilaian orang lain, kan ini yang tak ku sukai.
Semangat juang yang tinggi, Rano berlari dengan sangat kencang. Tak memperdulikan tatapan lapar para ciwi-ciwi, yang emang pada tebar pesona karena ada Dewa.
Pria yang menjadi idaman para kaum hawa, terutama pegawai di tempat ia menjabat sebagai Ceo.
"Hoshhhh.. hoshhhh.." Rano berlari sedikit ngos-ngosan, padahal jaraknya tak jauh dari jangkauan nya.
__ADS_1
Dewa yang tak jauh dari jangkauan nya, hanya menatap dengan pandangan jengah, malas menjadi pusat perhatian orang-orang banyak seperti yang di lakukan sekertaris Rano.
"Kamu ngapain lari-lari? mau cari simpati bahwa bos mu ini tak berperikemanusiaan, dan peri keadilan. " cecar Dewa yang sudah tersulut emosi dengan adegan sekertaris nya yang menurutnya sangat lebay.
Kenapa aku yang mendapatkan ceramah, harusnya kan dia yang ceramah terhadap dirinya sendiri. Pasti lucu hihihihi." batinnya Rano yang dihatinya tertawa cekikikan, seandainya itu terjadi pasti akan sangat lucu.
"Ngapain senyum-senyum? apa ada yang lucu?" tanyanya Dewa yang merasa tak di hargai lawan bicara.
Rano langsung terdiam mendengar ocehan ce nya, takut ada imbas yang membuatnya fatal lebih baik ia diam. Mendengarkan apa yang di katakan Dewa.
Keduanya terdiam, sibuk dengan pemikirannya. Dewa sibuk dengan gadget yang ia pegang, sedangkan Rano terdiam memperhatikan gerak-gerik Dewa.
Mereka sama-sama masih berada di bassement, Dewa sudah berjalan lebih duluan, sedang Rano sibuk berimajinasi yang tak jelas.
Melihat Dewa sudah meninggalkan jauh dari pandangan nya, Rano buru-buru mengikuti dari belakang berharap sang atasan tak marah lagi, mukanya asem kalau sedang badmood.
Keduanya terdiam sesekali Rano melirik atasan nya yang duduk di jok belakang lewat kaca spion mobilnya. Sepertinya nihil, Dewa sibuk memejamkan kelopak matanya yang malam ini benar-benar membuatnya lelah.
Di dalam perjalanan pulang sampai di rumah pun tidak ada sepotong kata yang keluar dari bibirnya.
Dewa keluar dari mobil langsung masuk ke dalam, tak ada sedikitpun basa-basi dengan sang sekretaris.
Karena rasa lelah membuatnya malas berdebat, bila membahas mengenai sedikit insiden di bassement.
"Baru pulang Dew?"
"Iya Mom!"
"Aku ke kamar dulu Mom."
"Jangan lupa mandinya."
Dewa menanggapi dengan seutas senyum tipis di bibirnya, kakinya terus saja menaiki tangga untuk segera sampai di kamarnya. Rasa lelah, penat, dan pusing semuanya menjadi satu kesatuan.
__ADS_1
Bruuukkk
Dewa melempar tubuhnya diatas kasur, masih lengkap dengan pakaian kerjanya, memejamkan kelopak matanya untuk meredakan rasa pusing akibat pekerjaan yang membuatnya sering lembur.
Hampir beberapa jam kemudian Dewa terbangun dari tidurnya, tak tahu bahwa hari sudah menuju tengah malam hampir saja pagi menjelang.
Tidak ada waktu ba bi bu, Dewa langsung nyelonong masuk ke dalam kamar mandi. Untuk membasuh tubuhnya untuk menghilangkan bau badan yang tak sedap untuk di cium indera penciuman nya.
Setelah rangkaian ritualnya selesai, Dewa turun ke bawah untuk masuk ke dalam dapur. Siapa tahu masih ada sisa makanan untuk ia makan sebagai ganjal di perutnya. Meskipun hari sudah menjelang pagi, berbicara masalah perut tak bisa untuk di ajak kompromi.
Setidaknya ia bisa istirahat dengan damai, masalah perut bisa ia kondisi kan, bila perutnya sudah kenyang.
Dewa sudah kembali ke kamarnya, mulai untuk beristirahat sebelum pagi menjelang untuk ia mulai terbangun lagi. Dengan perut yang sudah terisi, Dewa sangat nyaman dalam mimpi indahnya.
❤
Beda halnya dengan kedua orang yang bersahabat, mereka sudah bermimpi indah di kamar nya masing-masing. Meskipun hanya tinggal berdua di apartemen, tak membuatnya tidur dalam kamar yang sama.
Mereka mempunyai privasi sendiri, tak ingin ikut campur dengan kehidupan pribadinya. Langkah terbaik adalah memiliki kamar pribadi, kamar untuk mereka mengistirahatkan tubuhnya dari padatnya rutinitas di kantor.
Mereka tak terbangun sama sekali sampai pagi menjelang, sampai Suara ayam berkokok mulai membangun kan keduanya yang melalang buana bermimpi indah.
"Hoooammsss." Anin menutup mulutnya dengan kedua tangannya untuk menutupi menguap nya.
"Jam berapa Ndy?"
"Jam 5."
Anin langsung ngacir ke kamar mandi , banyak ritual yang harus ia lakukan sebelum ia memulai rutinitas nya di kantor pagi ini.
Selesai dengan segala ritualnya, mereka sudah siap untuk berangkat ke kantor. Perasaan baru saja mereka pulang, kini ia harus kembali lagi ke tempat kerja.
Semangat '45 mereka sudah siap memulai aktivitasnya, wajah cerianya sudah sangat berbinar menyambut pagi.
__ADS_1
Meskipun masih ada rasa lelah, kantuk tetapi tak membuat nya tak tersenyum lebar. Paginya indah sayang bila harus di lewati dengan bibirnya yang cemberut, semangat berkobar-kobar untuk menyambut pagi yang indah untuk jiwa yang sedang berbahagia.
Pagi yang di tunggu nya, pagi untuk memulai aktivitas, rutinitas sebagai seorang karyawan di perusahaan pria yang sudah membuat hati, perasaan terombang-ambing bagaikan rool Coolster.