Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 34


__ADS_3

Setelah makan siang bersama, mereka tidak kembali ke kantor lagi kecuali Dewa sang pemilik tahta tertinggi di kantornya. Anin memilih ijin untuk pulang, dirasa badannya tiba-tiba terasa enggak enak, ingin muntah padahal dirinya pun tak memakan makanan yang bermacam-macam jenisnya.


Dengan sangat lemah, lemes, wajah yang pucat. Anin memilih memejamkan kelopak matanya, tidak menyahuti ucapan yang di lontarkan Dewa.


Anin sudah berada di kamarnya, tidak ingin membuang banyak waktu yang ada. Memilih untuk merebahkan badannya sebelum mulai membersihkan tubuhnya yang sudah bau matahari yang menyengat indera penciuman.


Bukannya memejamkan kelopak matanya, memilih memandangi langit-langit kamarnya yang bernuansa dusty, purple, white.


Membolak-balik badannya untuk mencari posisi nyaman, lagi-lagi Anin tak mampu untuk memejamkan kelopak matanya yang sebenarnya sudah mengantuk.


Tetapi nihil tidak mau terpejam pikirannya berkelana tentang makan siang yang sekian kalinya, tetapi sangat bermakna maknanya.


Selesai mengantar Anin pulang ke apartemen, Dewa kembali mengendarai mobilnya ke kantor.


Jika siang ini tak ada pertemuan penting, sudah di pastikan aku tidak akan menunggu seperti yang Anin rasakan hari ini.


Terpaksa Dewa kembali ke kantor, membiarkan Anin untuk beristirahat supaya lekas sehat.


Ada rasa kekhawatiran bila sampai terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, berharap hanya masuk angin biasa biar aku lebih tenang lagi untuk mengurus perusahaan di sini.


Tibanya di kantor Dewa langsung memimpin rapat, pertemuan antara kolega bisnisnya dengan partner kerjanya yang khusus datang dari luar negeri, maupun luar kota untuk membangun perusahaan baru di Indonesia.


Rapat siang ini berjalan sangat lancar, tidak ada kendala yang berarti. Mereka menyetujui apa yang sudah di rancang perusahaan milik Dewa


Presentasi yang baik, atitude yang sopan, penyampaian yang mudah di pahami mampu membius para hadirin peserta rapat.

__ADS_1


Berramah tamah sejenak mereka melanjutkan coofee break, tidak ada lagi pembahasan tentang kerjasama. Mereka fokus untuk menikmati hidangan yang disajikan, ada menu makanan yang menjadi favorit para kolega.


Kesepakatan bersama menjadi titik awal untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Dewa.


Walaupun masih baru terjun di dunia bisnis, Dewa mampu membawa perubahan yang baik untuk kemajuan sumber daya alam.


🌻


Seharian sibuk di kantor, Dewa sudah kembali ke rumah. Selesai ritual di dalam kamar kecil, Dewa sudah ikut bergabung di meja makan.


Ada orang tuanya yang sudah menunggunya untuk segera bergabung, dengan semangat tinggi Dewa langsung menyapa kedua orang tuanya baru ia mulai duduk di tempat duduknya.


"Gimana pertemuannya, Wa?" tanya sang ayah sebelum memulai makan malamnya. Sedang sang mommy menjadi pendengar yang baik, karena tidak tahu menahu masalah bisnis.


"Papa ikut senang." sang Papa menepuk pundak nya Dewa, memberikan apresiasi atas kinerja putranya yang sudah di bilang sangat berpengalaman.


"Makasih Pa."


"Sudah-sudah tidak usah bahas pekerjaan lagi, lebih baik kita makan. Mama sudah keburu bunyi perutnya!" Kelakar sang Mama, pura-pura memegang peranan supaya aktingnya berhasil.


Selesai berbincang sebentar, mereka kembali melanjutkan makannya yang sudah berada diatas meja makan dengan berbagai menu makanan beraneka macam mampu menggoyang lidahnya.


.🌻


Anin mengistirahatkan tubuhnya yang tiba-tiba berubah drastis, padahal sebelumnya aku baik-baik saja. Kenapa aku seperti ini? Berbagai pertanyaan memenuhi otaknya, tetapi tak menemukan jawaban.

__ADS_1


Nindy masih di kantor, jam pulang sebentar lagi juga selesai. Sudah merapikan barang-barang yang berserakan, memasukan beberapa barang supaya lebih rapi bila dilihat.


Istirahat hampir dua jam bangunan-bangunan ada bubur diatas nakas, bau harum masih hangat, enak di indera penciuman.


Klekkk


Nindy membuka pintu kamar mandi dengan rambut yang basah kuyup, lalu di kering kan dengan handuk yang di lilitkan di kepalanya.


"Sudah bangun kamu, Nin." Tuturnya Nindy yang baru saja keluar dari kamar mandi, terus saja memperhatikan gerak-gerik temannya yang nampak sedang bingung.


"Sudah."


"Kamu sakit apa? apa perlu kita ke rumah sakit, takutnya malah memperburuk penyakit.


"Aku sudah lebih baik, Nin. Kamu jangan khawatir, semua akan baik-baik saja Nindy. Jadi kamu jangan jalan-jalan dulu, istirahat yang banyak buat ikut sehat.


"Terimakasih Nindy." Anin berusaha untuk tersenyum, menunjukkan bahwa baik-baik saja.


Setelah berbincang ringan, mereka melanjutkan untuk makan malam berdua. Menu sangat sederhana menjadi santap makan mereka, tidak masak untuk beberapa hari karena kesibukan keduanya membuat malas untuk masak.


Pekerjaan yang padat membuatnya mengabaikan makannya, terutama Anin yang sejatinya susah untuk makan.


Bila sedang sibuk, atau capek yang ada di pikirannya adalah segera tidur besok bangun, badan sehat berangkat ke kantor.


Itulah rutinitas sehari-hari mereka, terkadang makan mereka ke samping kan. Semua harus di bayar mahal, Anin sedikit tidak enak badan akibat asupan makan yang sembarangan membuat perutnya tidak enak.

__ADS_1


__ADS_2