
Semuanya berjalan sebagaimana mestinya, baik-baik saja tidak ada halangan yang berarti hanya kerikil kecil yang mewarnai perjalanan keduanya hidup di perantauan.
Bukan Dewa namanya bila tak mempunyai seribu akal untuk menganggu dua perempuan di depannya yang berstatus sebagai karyawan baru yang baru saja pindahan dari kantor cabangnya.
Meskipun keduanya tak menanggapi ucapannya, Dewa terus saja berusaha untuk menganggu konsentrasi keduanya.
"Hemmmm!" deheman Dewa tak mampu membuat keduanya untuk menoleh ke sumber suara, mereka masih asyik untuk menyelesaikan pekerjaan yang tinggal beberapa bab lagi untuk di selesaikan.
"Woi!" teriaknya tak mampu mereka meninggalkan pekerjaan nya, keduanya hanya pura-pura tak mendengar karena ingin berkonsentrasi dengan beberapa kertas dan bolpoin yang di eksekusi nya.
Baik Nindy, Anin pun menahan tawanya supaya tak terdengar oleh pria tampan yang duduk di depannya. Padahal mereka ingin sekali menertawakan pak bos, tetapi mereka tahan karena pekerjaan lebih penting daripada meladeni bos yang masih betah berada di ruangan nya.
"Hai kamu! kenapa kamu cuekin saya? saya ini atasan kamu sekaligus bos kamu bekerja!" Tutur kata Dewa menekan kata bis tempat mu bekerja, karena sudah geram ddi cuekin seperti ini.
"Maksudnya bapak saya?" tanya Nindy menunjuk ke dirinya sendiri, karena merasa dirinya berada di situasi yang sulit.
"Bukan!" jawabnya Dewa dengan cepat.
"Lalu siapa?" tanya Nindy menaikkan turunkan alisnya, karena ingin tahu jawaban dari mulut bos di depannya.
"Teman mu! siapa ya pastinya saya lupa namanya, karena saya tidak bisa menghafal satu persatu pegawai saya!" jawabnya Dewa menekan kata, sedikit ketus.
__ADS_1
Mereka menyadari sang atasan mulai dalam mood yang buruk, mau tak mau keduanya mendongak kan kepalanya untuk melihat wajah tampan tetapi sangat menyebalkan.
Untung bos
"Kenapa? bapak cari saya." Tutur Anin yang menunjuk dirinya dengan jari telunjuknya, berdoa dalam diam semoga bukan dirinya yang di carinya.
"Iya Kamu!" jawab Dewa kesal dengan nada yang tak bersahabat.
Merasa dirinya yang di maksud bukan membuatnya bangga, sedikit takut, takut dirinya mempunyai kesalahan dalam bekerja.
Sejauh ini Anin sudah berusaha untuk sebaik mungkin, karena ini merupakan sumber penghasilan ekonomi untuk membantu adik-adik yang masih tinggal di panti.
Segala usaha, upaya sudah Anin lakukan demi bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, dan sedikit ia sisihkan untuk adik-adik yang masih tinggal di tempat nya dulu Anin di besarkan.
"Tak apa-apa, hanya kepikiran masalah pekerjaan."
"Bapak ada perlu apa dengan saya!" Ujar Anin dengan tatapan lembut, berharap sang bos tak bertanya yang bukan-bukan terutama urusan pribadi.
Dewa tak lagi bertanya ke ranah yang lebih jauh, mendapat jawaban Anin sudah mewakili perasaan nya. Dewa sedikit menerka-nerka atas perasaan nya, perasaan yang tak biasanya Dewa rasakan semenjak takdir mempertemukan mereka di acara waktu itu.
Ketiganya akhirnya menikmati santap makan siangnya di ruangannya, kebetulan mereka ikut kebagian. Siang ini pak Dewa berbaik hati mentraktir makan siang, meskipun dengan balasan harus mau menemani makan siang.
__ADS_1
Tidak ada lagi percakapan keduanya, mereka sangat menikmati hidangan makan siangnya. Sangat menikmati makan bersama sang bos, walaupun belum begitu akrab tetapi sangat tahu karakter pembeli
Mereka memiliki karakter yang berbeda, berbeda tetapi tak sama. Selesai menyelesaikan makan siang nya bersama, ketiganya sudah kembali ke tempat kerjanya.
Ada raut kebahagiaan di wajah dua perempuan yang berwajah binar, karena ini baru pertama kalinya mendapatkan gratisan dari atasan nya. Dari situ lah mereka menaruh respek kepada sang atasan, meskipun baru saja mereka bekerja sudah bisa menilai bahwa atasan nya adalah orang yang humble kepada pegawainya.
Di ruangan nya Dewa tersenyum penuh arti, ada hal yang berbeda dari keduanya. Mereka memiliki daya pikat tersendiri untuk menarik perhatian nya, terutama Anin yang sangat cantik dan tutur katanya sangat lembut.
Calon ibu dari anak-anak ku
Dari inilah Dewa semakin yakin untuk melangkah ke jenjang yang lebih baik lagi, ke jenjang untuk mengenal semakin jauh dengan perempuan yang berhasil mencuri perhatian nya.
Selesai jam kantor Dewa langsung pulang, tak mengindahkan lagi tumpukan berkas yang harus Dia tanda tangani. Memilih untuk pulang ke rumah, rumah tempat ternyaman dalam merefresh otaknya y sedikit terkontaminasi bakteri cinta di kantornya.
Sampainya Dewa di kediaman nya selalu menebarkan senyumnya, senyum yang jarang terukir di bibirnya. Kini cahaya yang dulunya redup kembali lagi, karena ada sinar terang yang menemani langkah selanjutnya untuk berpijak pada bumi ini.
"Kenapa kamu senyum-senyum, Wa? apakah putra tampan mommy ini sedang jatuh cinta?" tanya mommy Retha dengan dahi yang berkerut, berharap prasangka nya benar adanya.
"Biasa saja Mom." jawabnya Dewa santai. Menurutnya ini hanya perasaan sekedar rasa suka, bukan sayang maupun cinta.
"Aku ke kamar dulu Mom." pamitnya Dewa melenggang pergi ke kamarnya, tidak ingin mommy nya semakin curiga dengan gerak-gerik nya yang sedikit berubah.
__ADS_1
Biarkan semuanya berjalan sebagai mestinya, kemana hati berlabuh pasti akan bertemu dengan dermaga nya. Pelabuhan yang akan membuat nya untuk mencari, dan berhenti di suatu tempat yang membuatnya nyaman.