
Mereka sudah tiba di Jakarta, baik Anin dan Nindy sudah berada di Jakarta sejak beberapa hari terakhir. Mereka menempati tempat kost yang tak jauh dari tempatnya bekerja sekarang ini.
Tak ingin merogoh kocek yang lebih mahal untuk biaya transportasi, keduanya memilih untuk tinggal di tempat kost yang tak jauh dari kantornya.
Berbekal pengalaman yang di miliki, keduanya siap menatap masa depan untuk jenjang karir yang lebih cemerlang dari sebelumnya.
Di tempat yang baru ini masih banyak yang belum ia hafal, karena baru beberapa hari di Jakarta sudah merindukan tempat tinggalnya dulu.
Menurutnya lebih nyaman tinggal di Bandung, mungkin juga belum terbiasa di kota ini jadi masih meraba-raba dengan detail tempat-tempat yang harus ia hafal bila tak ingin mengulang kembali.
Walaupun kota ini sangat asing untuk keduanya, mereka berusaha bisa beradaptasi dengan lingkungan yang sekarang, sangat padat pendidikan dan lingkungannya juga baik meskipun ini pertama kalinya merantau di kota besar.
Anin dan Nindy belum berniat untuk nongkrong, atau hanghout di tempat yang menurutnya sangat asing untuk mengerti dunia luar, dan beberapa pusat kota yang pernah mereka lihat di akun sosial media baik televisi, smartphone belum juga ia datangi.
Keduanya masih sibuk di tempat kost yang baru, masih menata pakaian yang ia bawa dari Bandung supaya nanti tak membeli pakaian kerja dulu sebelum keduanya menerima gaji bulan berikutnya.
Kini Anin bisa melihat nyata, tak seperti dalam dunia khayalan nya kota yang dulu yang ia lihat hanya dari sosial media saja. Mereka sangat mengangumi desain sang arsitek, nampak sederhana tetapi sangat elegan.
Bangunan-bangunan yang tinggi menjulang tinggi, beberapa pusat perbelanjaan terletak di jantung kota.
Setelah berkeliling sebentar untuk mencari makan siangnya, kini sudah kembali ke tempat asalnya di kamar kost.
Walaupun kecil tetapi sangat nyaman, karena tetangga barunya sangat Wellcome kedatangannya menjadi penghuni kost baru di kampung ini.
Keduanya sudah berada diatas ranjang, sebelum memejamkan kelopak matanya mereka menceritakan awal kedatangan di kota besar ini. Kota yang akan menjadi masa depan keduanya dalam meniti karier, masa depan nya kelak.
__ADS_1
Selama satu minggu mereka berada di Jakarta, keduanya meminta berlibur dulu sebelum memulai harinya di kantor baru. Jadilah sekarang mereka menyiapkan segala, semua mereka lakukan mulai dari Nol, bener-bener dari bawah.
"Kota nya enakan di Bandung ya Nindy, kalau menurut kamu gimana?" tanya Anin yang sudah menyelimuti tubuhnya sebatas dada.
"Hampir sama sih Nindy, kan kita selama tinggal di Bandung tidak pernah keluar rumah, kecuali ada urusan penting!" jawabnya Nindy. Nindy menjawabnya dengan jawaban yang bisa di pertanggung jawabkan, karena ucapan nya bener adanya mereka jarang pergi jalan-jalan seperti anak muda seusianya.
"Hehehe kamu benar Nindy, kita bukan anak muda pada umumnya." Ujar Anin menyengir kuda, Dya membenarkan ucapan sahabatnya.
"Yuk ahhh kita tidur, besok kan hari pertama kita bekerja di kantor yang baru Anin. rasanya aku sangat deg-degan." sahutnya Nindy menyudahi obrolan keduanya, mereka bersiap-siap untuk memejamkan kelopak matanya tetapi urung ia lakukan karena belum memakai Night crem hehehe.
"Bentar deh! aku mau pakai Night crem dulu biar besok wajah ku bisa glowing, bisa menarik kaum Adam untuk mendekat hihihi!"
"Pikiran mu adanya laki-laki muluk, bosen ahh aku dengar nya Nindy." Anin pura-pura merajuk karena melihat tingkah sahabatnya yang berbeda dari sebelumnya..
"Namanya juga usaha Anin, syukur-syukur dapat bos tajir setidaknya bisa memperbaiki taraf hidup yang lebih baik lagi kan Anin wkkkkwkkkk."
Setelah rutinitas nya memakai Night crem selesai, Nindy beranjak dari tempat duduknya yang berada tak jauh dari tempat tidurnya. Nindy sudah berada di sebelahnya Anin, mereka sama-sama sudah memejamkan kelopak matanya. Mereka siap mengarungi mimpi untuk bertemu pangeran berkuda putih wkwkwk.
Pagi yang cerah untuk jiwa yang tengah berbahagia, siapa yang tak bahagia karena ini pagi pertama nya memulai harinya di kantor yang baru. Ada sejuta asa yang mereka impikan, kedatangan keduanya juga di tunggu sang pemilik perusahaan.
Mereka turun dari taksi yang di pesannya, pandangan matanya membulat sempurna melihat gedung perusahaan yang bertingkat-tingkat. Di sendiri kesusahan dalam menghitung, karena menurutnya itu gedung terbesar yang pernah Di lihat.
"Wiiih gedung nya besar woi, pasti pemilik nya orang kaya ya Nindy, semoga kekayaan mereka nular ke kita." Tutur Anindya yang tak berkedip memandangi bangunan bertingkat, bukan yang pertama kali melihat nya hanya saja berbeda kota tinggalnya dulu.
"Husttt kita jangan ndeso gitu, biar kita enggak kelihatan dari kampung, Anin cantik." bisiknya Nindy menasehati Anin, supaya jiwa ndeso nya tak keluar.
__ADS_1
"Hehehe kamu benar juga, Nindy." bisiknya Anini yang menyengir, malu sahabat nya mengingat bahwa keduanya dari ndeso, tetapi rezekinya kota.
Mereka melegang masuk ke dalam ruangan nya, ruangan keduanya bersebelahan. Seakan mereka sepasang kekasih yang tak mau di pisahkan, tetapi itu hanya anggap an orang lain. Sejatinya mereka sahabat, selamanya akan bersahabat.
Beberapa jam kemudian mereka sudah di kenalkan ke seluruh karyawan melalui sekertaris pemilik perusahaan. Keduanya menebarkan senyum kala namanya mereka di panggil, dan perkenalan ke masing-masing divisi di bawah naungan Arman Group.
Setelah Sesi perkenalan nya sudah selesai, mereka di minta ke ruangan Ceo yang terletak di gedung paling atas. Mereka menaiki lift bersama pak Rano, tidak ada pembicaraan serius, sesekali mereka berbicara lalu terdiam sampai suara dentingan lift berbunyi.
Klekkk...
"Siang bos." sapa Rano membuka kan pintu untuk perempuan cantik
"Hmm!"
"Mereka sudah datang, terserah bos mau di apakan keduanya. Di nikahi juga boleh bos, tapi jangan dua-duanya ya yang satu buat aku ya bos Dewa hehehe."
Anin dan Nindy sudah memperkenalkan dirinya, tidak berani mengangkat kepalanya. Mereka berfikir bos yang duduk di depannya seorang pria tua, perut buncit, dan brewok memenuhi seluruh wajahnya.
"Silahkan kembali ke tempat kerja mu, perkenalan kalian cukup! selamat bekerja semoga betah."
Setelah keduanya meninggalkan ruangannya, Dewa dan Rano masih berada di ruangan yang sama.
Mereka masih asyik dengan pemikirannya yang masih takjub dengan dua perempuan yang baru saja beranjak dari ruangannya.
Walaupun sering melihat perempuan cantik, tetapi mereka memiliki daya tarik yang kuat.
__ADS_1
Hatinya seakan ingin kenalan lebih jauh, bukan hanya sekedar teman kerja, tetapi berharap lebih untuk hubungan yang sudah Dewa rancang untuk kepindahan dua pegawainya ke Jakarta.