
Berbicara tentang mantan suami Anindya, mas Nirwan pria biasa tetapi terlahir dari keluarga yang cukup berada di lingkungan tempat ia tinggal.
Memang dulu terbilang cukup ada, tetapi kini semua berubah.
Semenjak kasus perceraian dengan sang mantan istri, roda seakan berubah, berputar sangat drastis.
Mas Nirwan bukan pria yang katanya se sukses dulu, berubah berjalannya sang waktu. Mas Nirwan sudah memiliki keluarga sendiri, sudah menikah, sudah pula memiliki anak-anak yang lucu.
Dulu istrinya juga terbilang ekonomi yang cukup ada, tetapi semua tak seperti dulu.
Semenjak mereka memiliki momongan, semuanya seakan berubah sangat drastis. Tak pernah ia sangka, ekonomi malah berangsur-angsur tidak baik-baik saja.
❤
Anin selalu mengingat dari mana asalnya dulu? mengingat perjalanan panjang, peristiwa yang membuat patah hati, sampai jatuh sejatuh-jatuhnya.
Tak lain tak bukan peristiwa Perceraian, walaupun itu bukan ingin ku, tetap saja peristiwa itu masih membekas di lubuk hatinya.
Perpisahan yang tidak bisa di hindarkan, Anin pun hanya bisa pasrah menerima takdir Tuhan. Bahwa mereka tak jodoh, tak menemukan kesamaan sampai di titik mereka hidup bersama dalam beberapa hari saja.
Menjadi penghuni panti bersama Adik-adiknya itu juga masih membekas di hati, walaupun sekarang dirinya sudah keluar dari panti, dan bisa hidup mandiri lebih baik dari sebelumnya.
Berawal menjadi OG, kini Anin mendapatkan tempat yang lebih baik, dan bisa ia handalkan gajinya demi menutupi kebutuhan sehari-hari nya selama dirinya tinggal di Jakarta.
Cindy Septiana Biasa di panggil Nindy, perempuan yang menjadi sahabatnya Anin dari awal perjuangan sampai mereka berada di titik ternyaman sekarang ini.
Semata-mata semuanya hasil kerja kerasnya selama ini, tak mudah memang, tetapi semua pyur jerih payahnya yang harus ia lewati dari Nol hingga ia mendapatkan posisi ternyaman nya saat ini.
"Kok melamun, kenapa?" tanya Nindy yang penasaran dengan perubahan sikapnya Anin yang tiba-tiba diam seribu bahasa.
"E-enggak apa-apa Ndy kepikiran Adik-adik di panti saja, sudah kangen juga tak bertemu mereka." alibinya Anin yang tak ingin sahabatnya tahu apa yang sedang di pikirkan Anin.
Nindy sangat tahu Anin, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan nya. Tak ingin ikut campur terlalu dalam, Nindy memilih kembali bekerja, kecuali Anin sendiri yang mau bercerita tentang masalah yang sedang ia pikirkan.
Nindy hanya mampu melirik sekilas wajah sahabatnya, berkali-kali berusaha untuk mengalihkan ke layar komputer, perubahan mimik wajahnya sangat jelas sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Pulang yuk Anin!" ajaknya Nindyi yang sudah mulai merapikan meja kerjanya, dan merapikan kertas-kertas yang berserakan diatas meja.
"Ekor matanya Nindy melirik sekilas kearah sang sahabat, Anin."
"Oke bentar aku beres-beres juga." sahutnya Anin mulai membereskan barang-barangnya.
"Sangat terlihat ada kesedihan di wajahnya."
Mereka sudah berada di bassement, sudah sangat sepi hanya tinggal beberapa kendaraan umum yang nangkring di parkiran.
Tanpa sepatah kata pun yang terucap di bibir keduanya, mereka sudah melesat pergi meninggalkan tempat parkirnya. Di dalam mobil yang ia tumpangi sudah membelah jalanan ibu kota, sore menjelang malam lalulintas nya yang mulai di penuhi dengan roda empat.
Termasuk Anin, dan Nindy yang terjebak dalam kemacetan ibu kota yang mulai ramai, lancar. Tetapi yang ada hanya kebisuan di antara keduanya, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesekali Nindy melirik kearah Anin, tak ada respon. Nindy mulai tak memperhatikan sahabatnya, fokusnya pada gadget di tangannya.
Anin memilih fokus pada jalanan, walaupun tahu Nindy memperhatikan nya. Saking tak mau konsentrasi nya terpecah, fokus adalah tujuan untuk keselamatan berkendara.
❤
"Si al."
Kembali membunyikan tlakson mobil, di dalam pun sudah sangat pusing dengan lalu lalang kendaraan yang berseliweran di depan, belakang, samping.
Sama halnya Dewa sudah tiba di rumah dengan kelelahan yang masih berlanjut, perjalanan bisnis, dan sekarang baru saja sampai di rumah hampir adzan Maghrib berkumandang.
Setelah beristirahat sejenak, Dewa bangkit untuk ke kamarnya untuk membersihkan badannya habis dari luar rumah. Rasa lelahnya langsung hilang terguyur air shower yang membasahi sekujur badannya, rasanya plong seperti tersiram air es.
"Malam Mom." sapa Dewa mengecup singkat pipi mommy Widya atau mommy Retha ( itu orang yang sama ya hehehe).
"Dewa tersenyum."
"Malam Nak, tadi lembur lagi." Ujar Mom Widya ingin tahu kenapa putranya pulang menjelang Maghrib.
"Mommy Retha memeluk putranya."
__ADS_1
"Iya Mom sedikit!" ucap Dewa sembari membalas memeluk mommy nya.
Dewa terus saja bergelayut manja dengan mommy Widya, saking manjanya Mom nya sendiri sampai geleng-geleng kepala. Tidak tahu lagi harus seperti apa, kemanjaan bener-bener mengingat Dewa kecil dulu.
"Dalam hati mommy Retha bahagia, putranya masih hangat, walaupun sudah dewasa tetap saja tak malu bermanja-manja."
"Kenapa hmm?" tanya mommy Widya yang mengusap-usap lembut rambut putranya, belaian kasih sayang mampu meninabobokan Dewa.
"Ingin seperti ini sebentar saja!" jawabnya Dewa sembari memejamkan kelopak matanya, kepala nya pun ikut mendusel-dusel di perut sang mommy.
Mommy Widya hanya pasrah dengan kemanjaan putranya, meskipun sudah dewasa kemanjaan seperti anak kecil, persis seperti anak masih sekolah.
Usap demi usapan lembutnya mampu membuat Dewa tertidur pulas dengan suara dengkuran khasnya, dengkuran yang menandakan bahwa ia lelap dalam belaian lembut tangan mommy nya.
Mommy Widya mengulum senyum melihat putra sulungnya nyenyak, hanya mampu menggeleng kan kepalanya dengan kemanjaan nya.
"Siapa hmm? tanya Papa Tito yang baru saja menuruni anak tangga.
" Gaya khasnya papa Tito dengan pakaian casual."
"Dewa Pa!" jawabnya singkat.
"Tumben manja." celetuknya yang heran dengan perubahan sikap putranya.
"Mommy Widya pun hanya mengedihkan bahunya, tanda tak mengerti dengan perubahan putranya."
Tak memperdebatkan perubahan Dewa, kini Papa Tito ikut duduk di samping istrinya. Mulai bergelayut manja di lengan istrinya, berkali-kali memberikan kecupan singkat.
"Malu di lihat orang Pa."
"Biarin kan sudah halal, Mom ku sayang, isteri ku tercinta selamanya."
Mereka tertawa kecil dengan saling berpegangan tangan, seakan tahu untuk menyalurkan perasaan cintanya ke pasangan.
Meskipun usianya tak muda lagi, bukan berarti mereka tidak ingin menikmati waktunya untuk berdua. mereka akan selalu memanfaatkan momentum yang tepat, agar bisa menghabiskan waktunya untuk berdua.
__ADS_1
Mom Retha bangga merasakan di butuhkan dengan dua pria yang sedang bersamanya, terutama sang suami yang makin hari makin menunjukkan keromantisan walaupun usia pernikahan bulan dalam hitungan bulan.