Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 21


__ADS_3

Bulan berganti bulan berikutnya, waktu pun juga berjalan sangatlah cepat Anin sendiri sudah melupakan makan malam di rumah orang tuanya pak Dewa. Rumah megah, orang-orang di dalam rumah tersebut sangat ramah bukan rumah pada umumnya yang di dalam nya jumawa.


Setelah pertemuan keduanya beberapa minggu lalu, Mereka juga sudah kembali aktif memulai aktivitas ke kantor, tak terkecuali Anin sekarang jarang bertegur sapa, tak se dulu yang sangat intens.


Anin juga sudah melupakan peristiwa itu, kini dia di sibukkan banyak nya tugas kantor. Akhir-akhir ini pun Anin dan Nindy mendapatkan lembur, yang membuat keduanya tak memikirkan hal-hal lainnya kecuali pekerjaan.


Satu bulan terakhir ini keduanya mendapatkan lembur, pundi-pundi gaji bulan ini pun turut ikut merangkak naik.


Tetapi beda dengan suasana hati keduanya, mereka juga butuh hiburan yang membuatnya sedikit stres dengan segudang pekerjaan yang belum mau usai sampai detik ini.


Tak di pungkiri gaji termasuk kebutuhan pokok, yang membuatnya bersemangat untuk melakukan pekerjaan.


Ada hal yang sangat penting juga adalah jam istirahat, waktu, dan masih banyak lagi yang bener-bener berkurang, hanya pekerjaan pula yang menjadi prioritas nya.


"Capek juga ya kamu, Nin" Ujar Nindy mengusap keningnya yang berkeringat, padahal suhu ruangan nya ber-AC.


"Enggak lah."


"Hmm tapi gaji nya ikut lumayan, bisa sedikit nabung juga Nindy hihi." sahutnya Anin menyadarkan kepalanya untuk mengistirahatkan sebentar, sebelum mulai melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu masalah uang mah gercap banget, kamu Nin, di hitung-hitungan kan capek juga Nin!" Nindy sedikit berkeluh-kesah tentang padatnya aktivitas sehari-hari nya di kantor.


Nindy mulai menyandarkan kepalanya, sedikit pening memikirkan pekerjaan yang belum juga usai.


"Suka kan sama gaji kamu, Nindy." goda Anin sibuk menaikkan turunkan alisnya. Ani semakin gencar membuat sahabatnya terkikik, bila berurusan dengan nama nya uang.


"Suka lah, siapa juga yang tak suka dengan uang? semua orang pasti suka uang, termasuk aku hihihihihi." Ujar Nindy tertawa lebar bila ada uang pasti ada barang, seperti halnya hidupnya yang apa-apa membutuhkan uang. Uang adalah raja segalanya.


Lalu mereka tertawa bersamaan, melupakan sejenak tentang berkas yang menumpuk, layar laptop yang masih menyala terang.


Ia buat untuk menikmati sedikit waktunya untuk beristirahat, sejenak melupakan pekerjaan sebelum ia memulai kembali dengan rutinitas kerja yang sudah menunggu diatas meja.


Mereka seakan lupa bahwa keduanya sedang berada di kantor untuk menyelesaikan acara lembur nya.

__ADS_1


"Wkkkkwkkkk kita kembali ke laptop." Tutur kedua secara bersamaan. Sekarang mereka sedang sibuk dengan banyaknya kertas, banyak pula yang harus di eksekusi malam ini.


Jarum jam terus bergulir pada porosnya, meninggalkan langit senja yang berwarna ke orange an. Kini senja terbentuk sangat indah, lalu tergantikan warna gelap, yang menurutnya keindahannya sukar untuk mereka lupakan walaupun hanya sekedip mata memandang.


Keadaan langsung sunyi, keduanya sibuk dengan pekerjaan yang harus segera di selesaikan.


"Kog tiba-tiba aku merasakan rasa merinding bulu Roma ku ya Nin." tutur Nindy yang sudah merapatkan mantelnya, sesekali tangannya ia usap-usap supaya bisa memberikan rasa hangat.


"Aku mah biasa saja, walaupun ada perbedaan juga tapi aku mah cuek saja, Nindy."


"Terpenting pekerjaan kita harus segera selesai. "


"Semoga tidak ada apa-apa, kita masih dalam lindungan Nya."


"Aamiin Anin."


"Ayok ahh lanjut kerja, Nindy biar bisa lebih awal tak seperti kemarin-kemarin!" Ajak Anin yang semangat '45 nya langsung keluar, melupakan hawa yang tak biasa dengan mengalihkan perhatian nya pada banyak nya kertas di meja.


Nindy tidak lagi menimpali ucapan Anini, memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Sesuai apa yang sahabatnya memberikan komando, sebagai wakil sahabatnya Nindy hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Alhamdulillah finally." Ucap penuh rasa syukur keduanya, sesuai prediksi yang mereka buat.


Mereka sudah berada di dalam lift, tinggal mereka berdua di dalam. Saling berpelukan menunggu dentingan lift sampai bassement, sampai mereka menemukan adanya orang.


Ting!


Nafas lega keduanya terpancar di wajah penuh rasa binar-binar kebahagiaan. Tujuan untuk selamat sampai bassement terjawab sudah, tidak ada aroma-aroma mistik, hanya saja mereka takut bila tiba-tiba Lift nya berhenti di tengah jalan.


"Alhamdulillah tidak ada kendala." ucap syukur keduanya, keduanya sudah melanjutkan langkahnya keluar dari lift.


Senyum cerah pun terbit dari bibir keduanya, mereka bahagia akhirnya impiannya pulang dengan selamat adalah dambaan nya.


__ADS_1


Di ruangan Ceo Dewa masih sibuk dengan pemeriksaan berkas yang masuk ke meja kerjanya.


Bunyi detingan jarum jam menemani Dewa dalam ruangan tersebut, bukan hal baru juga baginya sibuk dengan berbagai kertas yang menumpuk di meja nya.


Hampir tengah malam Dewa baru saja menutup laptop, merapikan kertas-kertas yang berserakan diatas meja.


"Alhamdulillah."


Keluar dari ruangan langsung di ikuti sekertaris Rano, berjalan dengan sangat gagah, dan seksi dengan kancing kemeja yang sedikit terbuka.


Rambutnya sedikit acak-acakan, tetapi menurut othor sangat tampan walaupun tak serapi waktu ia berangkat ke kantor seperti tadi pagi.


Dewa juga baru saja menyelesaikan pekerjaan nya, kini Dewa sudah berada di dalam lift. Ada sang sekretaris yang siap setia menemaninya, mereka berdiri bersisian.


Baru saja melangkahkan kakinya keluar dari lift, senyum sumringah Dewa perlihatkan.


"Akhirnya sebentar lagi ketemu dengan kasur di rumah, tak sabar ingin buru-buru sampai rumah setidaknya ada kenyamanan yang tak bisa di lukiskan dengan kata-kata."


"Pak Dewa sehat?" Rano meraba keningnya Dewa untuk mengecek demamnya, takut sang bos mengalami Sakit.


"Kamu apa-apaan sih Ran! tidak ada kerjaan saja! kamu pikir aku sakit gitu!" Ujar Dewa sinis.


"Hehehe kirain Pak, habisnya pak Dewa senyum-senyum kan aku jadi khawatir, makanya aku raba kening nya bapak." Sahutnya Rano tanpa ada rasa bersalah, apa yang di lakukan nya bentuk dari perhatian nya.


Dewa sudah mempercepat langkahnya, tidak lagi menanggapi Rano yang tidak menyadari bahwa dirinya sudah meninggalkan tempat semula.


Waduh pak Dewa mana? Rano celingak-celinguk mencari keberadaan sang bos, setelah menemukannya Rano meringis menyalahkan dirinya yang tak peka.


"Pak tunggu!" teriaknya Rano.


Dewa tak memperdulikan sang sahabat, terus saja berjalan sampai di tempat parkir mobilnya.


Tidak mendapatkan respon sang bos, mau tak mau Rano berlari terbirit-birit. Tidak ingin ketinggalan kursi duduknya, Rano pun sedikit berjalan berlari kecil.

__ADS_1


Dewa yang sudah berjalan duluan dalam batinnya tertawa lebar, rasanya bahagia bisa membuat sekertaris nya Rano kelabakan untuk menyamai langkahnya.


__ADS_2