
Hari yang di tunggu sepasang calon pengantin tinggal menunggu satu minggu lagi, satu minggu bukan waktu yang sebentar bagi keduanya.
Bagi keduanya waktu satu minggu waktu yang sangat lama, karena ini bukan kebiasaannya untuk tidak saling berkomunikasi maupun bertemu.
Mereka sedang menjalani masa pingitan, keduanya tidak bisa ketemu, atau berkomunikasi langsung sampai hari bahagia itu datang.
Sama halnya dengan Dewa yang sedang uring-uringan karena ruang geraknya terbatas, tak sebebas dulu.
Walaupun masih aktif ke kantor dengan pekerjaan tertentu, tetap saja tidak bisa kemana-mana karena ada sang bodyguard yang mengikutinya. Setiap gerak-geriknya menjadi sebuah ancaman yang membunuh.
"Kita mau kemana tu-an?" tanya sang penguntit sedikit takut-takut. Kepalanya menunduk seolah warna sepatu lebih menarik daripada pria tampan di depannya.
Dewa diam saja, perasaannya yang sebelumnya berbunga kini meredup karena di kawal pria besar berbaju hitam.
Pandangan matanya lurus ke depan tanpa menoleh ke belakang, Tiba-tiba badmood semuanya di larang.
Dewa sudah tiba di kantor, sudah sangat sibuk dengan urusan kertas yang ada di atas meja kerja.
__ADS_1
Sedikit melupakan peristiwa yang menjengkelkan, fokusnya kerja, menikah, bulan madu, bikin anak sebanyak mungkin.
Membayangkan saja sudah membuat ku bahagia, tak sabar aku bertemu dengan bidadari surga ku, belahan jiwa ku, dan wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku.
🍐
Satu minggu menjelang pernikahan, Anin sudah kembali ke panti, tempat asalnya karena rumah ini menjadi saksi bisu dalam perjalanan sampai berada di titik ini.
"Kak Anin, pagi-pagi sudah melamun saja nanti ada mas Dewa lewat depan rumah, kak Anin sibuk melamun." Goda salah satu ibu panti yang bernama Mina.
"Mana mas Dewa, bu."? tanya Anin celingak celingukan mencari lelaki tampan yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu, atau pun saling menyapa.
"Cie yang di landa meriang (merindukan kasih sayang). "
"Wkwkk."
Ibu Mina bahagia melihat wajah calon pengantin jutek dengan wajah yang memerahh seperti kepiting rebus.
__ADS_1
Dua hari kemudian.
Tenda pernikahan sudah berdatangan, ada yang sudah dipasang . Ada pula yang masih tergeletak di pinggir ruangan.
Kesibukan belum terlihat, tetapi banyak yang hilir mudik untuk memasang tenda, dan masih seperti biasa dan seperti Hari-hari biasanya. Anin sibuk dengan urusan dapur, memasak dan sebagainya.
Ada rasa deg-degan mendengar vonis calon suami di hadapan wali ku, menjadi kan ku istrimu.
Di tempat yang berbeda.
Kediaman Dewa juga ikutan sibuk memilih hantaran yang akan di parcel untuk di bawa ke tempat mantu.
Terutama sang ibu yang sangat antusias dengan pernikahan sang putra, ini adalah cita-citanya melihat sang putra menikah mempunyai pendamping yang akan menemani, merawatnya.
"Aku bahagia banget Pi, akhirnya putra kita mau menikah. Semoga ini jodoh terakhirnya." ungkap sang ibu dengan binar mata yang berbinar bahagia, binar yang sangat tulus.
"Aamiin, sama sayang Papi juga bahagia. Semoga ini awal yang bahagia, dan kebahagiaan ini menyertai keluarga kita. Aamiin." Tidak kalah bahagia nya mengungkapkan isi hati kecil tentang ke depannya.
__ADS_1
Kebahagiaan bener-bener menyertai kedua belah keluarga, ada Dewa yang tak sabar untuk segera mengucapkan ijab qabul, sama halnya Anin yang sudah tak sabar menunggu hari bahagia itu tiba.