
Satu tahun sudah berlalu, sudah satu tahun ini mereka tinggal di Bandung.
Selama satu tahun belakangan ini banyak hal yang terjadi dalam hidupnya baik buruk, dan kabar bahagia serta merta mengiringi kabar kebahagiaan.
Banyak pelajaran, hikmah yang di ambil setiap perjalanan nya. Susah duka Anin lewati dengan sang sahabat yang di kenalnya semenjak dirinya menginjak kan kakinya di pertama kali di kota Bandung.
Bandung adalah rumah kedua ku, untuk mengadu nasib untuk memperbaiki taraf hidup yang lebih baik lagi. Memiliki banyak kenangan indah dan pahit yang ku rasakan, ini lah perjalanan yang aku tempuh untuk meraih kata bahagia ku.
Berbicara soal suasana waktu tinggal di panti pasti ada perbedaan yang signifikan, sangat merindukan adik-adiknya di panti itu yang sering Anin rasakan akhir-akhir ini.
Keluarga di panti bagaikan keluarga keduanya, selama ini mereka lah menjadi pengganti orang tuanya, tempatnya berteduh di waktu dirinya belum bergelar baru sebagai seorang janda.
Mengingat pernikahannya yang hanya seumur jagung hatinya pasti sedih, kecewa itu pasti tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bila takdir tak mempersatukan hubungan kita ke jenjang yang lebih lama lagi, aku hanya pasrah menjalani takdir ku.
Aku bisa apa? Selain aku menerima takdir yang di gariskan sang pencipta untuk diriku, aku hanya berusaha mencoba ikhlas, merelakan apa yang terjadi dalam hidupku semoga kedepannya kita menemukan pasangan yang bisa membahagiakan untuk masing-masing.
Itulah harapan terbesar Anin untuk mantan suaminya, dan juga untuk aku sendiri. Aku harus bisa berjalan maju ke depan untuk melupakan yang lalu, dan mulai hidup yang baru ke depannya.
Hampir dua tahun semenjak dirinya menikah, pindah di rumah sang suami sampai mereka berpisah. Dan selama itu pula Anin belum pernah pulang ke panti membuat nya rindu untuk pulang, untuk mengunjungi keluarga satu-satunya yang di miliki Anin.
Anin hanya mampu menarik nafasnya untuk meredakan rasa nyesek di ulu hatinya, tatkala mengingat masa kecilnya di panti, dan pernikahannya yang berakhir dengan kata Perceraian.
Masa yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya, meskipun aku kembali ke panti, semuanya tidak akan merubah keputusan yang ada.
Takdir sudah di gariskan untuk ku, aku ikhlas karena takdir Mu Tuhan itu yang terbaik untuk masa depan kami nantinya
🌹
Pekerjaan yang tak begitu padat selama Satu bulan terakhir membuat Anin untuk mengajukan cuti, pada akhirnya cuti kerja di ACC.
Hari ini Anin memutuskan untuk pulang ke panti untuk menjenguk adik-adiknya, dan Para pengurus panti yang sudah aku anggap sebagai orang tua ku, terutama ibu panti wanita lemah lembut.
__ADS_1
Dengan barang bawaannya Anin memesan taksi online untuk mengantarnya ke tempat tujuan. Rasa bahagia membuncah di hatinya, mengingat senyum tulus adik-adiknya yang pasti menyambutnya dengan penuh kegembiraan, hanya Mengingat saja sudah membuat Anin bahagia.
"Aku sudah tak sabar sampai di panti, tak sabar melihat senyum tulus adik-adik ku pasti mereka sudah besar, gemuruh tepukan tangan kala menyambut ku nanti." batinnya Anin membayangkan hari itu tiba.
Dari kursi kemudi gerak-geriknya di perhatikan, tetapi Anin cuek tak memusingkan hal itu!" Kenapa senyum-senyum neng?" tanya pak sopir yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Enggak pa-pa Pak, lagi bahagia." jawabnya Anin jujur apa adanya tentang perasaan dirinya yang bermekaran indah.
Hanya dengan mengingat saja sudah membuatnya tertawa kecil, tawanya yang ikhlas mampu menghipnotis kaum Adam yang melihat tawanya.
Perjalanan kali ini terasa sangat cepat, mobil di tumpangi nya melaju dengan sangat cepat. Jalanan yang biasanya padat, macet kali ini sangat lengang, sepi tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali padahal hari sudah menampakkan sinarnya.
Hati Anin semakin menunjukkan lengkungan manis di sudut bibirnya, tatkala mobil yang di pesannya sudah memasuki gang jalan. Berarti sebentar lagi dirinya akan tiba di tempat tujuan, ada rasa nano-nano menggambar kan suasana hatinya yang belum siap seandainya orang tuanya menanyakan keberadaan mas Nirwan Mantan suamiku.
"Sudah sampai neng!" Tutur pengemudi taksi. melihat dari kaca spion pak sopir tahu tentang perubahan mimik wajah penumpangnya yang sedikit lesu.
"Ehhh iya pak."
Setelah menarik nafasnya dan mengeluarkan nya, Anini turun dari mobil. Membayar ongkos taksi sebelum mulai melangkah kakinya ke pintu masuk area panti yang berdiri di depannya.
"Sama-sama neng."
Setelah taksinya meninggalkan tempat nya menginjak kan kakinya, kini Anin mulai berjalan. Suasana nya sangat sepi, biasanya akan ramai dengan teriakan Adik-adik yang sedang bermain. Tetapi ada yang berbeda, tempatnya banyak berubah, mulai dari bangunan nya yang banyak di renovasi, di cat ulang.
Kesan mendalam untuk tempat tinggal nya dulu, hari ini dengan melihatnya Anin bisa tahu ada perubahan di setiap ornamen bangunan yang lebih baik, dan warna cat yang sangat indah untuk di pandanganin.
"Assalamualaikum." sapa Anini dengan sangat lantang, ekor matanya celingak-celinguk mencari keberadaan orang-orang yang berlalu lalang tetapi nihil tak ada satu orang pun yang ada di Luar.
"Assalamualaikum.."
"Assalamualaikum.."
__ADS_1
"Waalaikumsalam, bentar!" jawabnya dari dalam. Mendengar suara yang menjawab salam nya membuat hatinya bergetar, rasa gugup mendominasi nya.
Klekkk...
"Anindya." Ucap ibu panti terkejut dengan kedatangan anak asuhnya dulu, sudah hampir dua tahun tak bertemu membuat banyak perubahan di dirinya Anin.
"Ibu!" Di langsung menyalami , dan mencium punggung tangannya dan memeluknya sangat erat.
"Anin rindu ibu, rindu Adik-adik juga." bisiknya Anin di tengah pelukannya.
"Ayo masuk! enggak enak di lihat banyak orang!"
Mereka melanjutkan pembicaraan di dalam, keduanya berbicara panjang lebar sampai mereka lupa waktu saatnya jam makan siang telah tiba.
"Suami kamu kemana? kenapa tidak ikut!"
"Hmm anu buk....!"
"Kak Anin, kapan kesini?" teriaknyala Adik-adik panti yang melihat kearahnya, lalu mereka menubruk tubuh yang beberapa bulan terakhir tidak ia temuiagi.
"Baru saja, gimana kabar kalian?"
"Kami baik kak! pasti Kaka cantik."
Itulah secuil kebahagiaan Anin bisa pulang adalah cita-citanya, bisa kembali ke rumah kedua adalah inginnya.
Anin bahagia melihat senyum adik-adiknya, senyum tulus karena mereka belum tahu kerasnya dunia luar , suasana seperti ini yang Anin rindukan.
Berasa dirinya mempunyai keluarga yang utuh, keluarga yang saling mengayomi dan mengisi satu dengan lainnya.
Aku bahagia
__ADS_1
Terimakasih
Mereka bahagia mendapatkan hadiah dari kak Anin, di dalam bangku makan pun mereka terus saja berceloteh menceritakan tentang kegiatan selama Kak Anin tidak ada di panti. Hari-hari mereka juga ceria, karena orang-orang yang di sini sangat baik.