Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 39


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju tempat yang mereka tuju, terjadi keheningan. Anin sibuk melihat jalanan lewat kaca, sedangkan Dewa sibuk dengan jalan yang sangat padat walaupun bukan akhir pekan.


Perjalanan panjang mereka lalui dengan rasa suka cita, walaupun tak saling mengungkapkan perasaan bahagianya tetapi sangat terlihat binar netra keduanya.


Perjalanan yang memakan waktu sedikit lebih lama, akhirnya mereka sudah sampai tempat tujuan, Anin sudah siap untuk turun tetapi tangannya langsung di gengam pria di sebelahnya.


Netra keduanya saling beradu pandang, tatapan yang berbeda syarat akan makna cinta. Dari tatapan sangat terlihat, bahwa ada rasa membuncah bahagia.


"Kenapa?" tanya Anin meskipun hanya dengan gerakan bibir. Kedua netra keduanya saling memandang penuh dengan tatapan penuh cinta.


"Bentar, kamu jangan turun dulu biar aku yang bukain pintunya." cegah Dewa dengan memberikan senyuman tipis, senyum yang di tunjukkan untuk wanita istimewanya.


Anin yang menurut keinginan pria di sebelahnya merasa tersanjung di perlakukan manis dengan pasangannya.


Tidak ada pilihan lain, akhirnya aku memilih mengalah. Membiarkan pria yang tadi mengenggam tangan ku memperlakukan aku seperti ratu.


"Ayo sayang. " ajak Dewa dengan tangan yang saling mengenggam, jari yang saling bertautan, senyum tulus dari keduanya.


Terpancar wajah berseri-seri keduanya, nampak raut kebahagiaan terlukis di bibir mereka. Tercipta senyum manis, mereka ingin menunjukkan ke seluruh dunia cinta kita yang terbaik.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan usai makan siang bersama, tidak ada sepatah kata yang terucap di bibir mereka.


Walaupun bibir diam membisu, tetapi tautan keduanya tak pernah lepas.


Sangat manis calon suami ku


Tak butuh waktu berjam-jam untuk sampai tempat tujuan, mereka sudah keluar dari mobil di sambut oleh pemandangan yang indah.


"Indah sekali mas." ucap Anin dengan takjub, matanya terus berbinar, bibirnya terus saja tersenyum.


"Suka."


"Makasih calon imam ku."


Dewa terbengong mendapatkan kecupan manis tiba-tiba, kecupan kecil tetapi sangat bermakna untuknya.


Tak ayal membuat Dewa begitu sangat bahagia, usaha, perjuangan ternyata di hargai juga walaupun tak berharap kembali.


Mencintai untuk saling memiliki memang lebih indah, ketimbang kita mencintai secara sepihak itu sangat menyakitkan.

__ADS_1


🍐


Tak ingin mengabaikan pemandangan indah di depan matanya, Anin langsung gerak cepat mengabadikan setiap momen yang tercipta.


Kesempatan langka, belum tentu juga akan terulang untuk sekian kali. Tak ingin membuangnya kesempatan emas, ini adalah mimpinya ingin bahagia di pernikahan yang kedua.


Puas berkeliling menyusuri kebun teh yang tumbuh subur, hijau menyejukkan mata. Dewa memilih untuk menyewa satu villa untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang.


"Kenapa pakai sewa villa segala mas, bukannya kita akan lanjut pulang?" tanyanya dengan sedikit hati-hati. Takut jika pertanyaan ku menyinggung hatinya.


"Mas butuh istirahat sebentar, capek yank nyetir pulang pergi single." jawabnya dengan wajah lelah, mata yang sudah sedikit memerah.


Tak ingin bertanya yang tidak-tidak, Anin memilih mengikuti calon suaminya masuk ke penginapan.


Ada rasa gugup, degdegan, perasaan tak menentu karena ini pertama kali aku pergi ke tempat penginapan bersama seorang lelaki.


Walaupun sebentar lagi kita menikah, tetap saja ada rasa was was tinggi.


Sebentar lagi kita menikah, tak masalah juga kali berduaan berdua di sini hihihi.

__ADS_1


Tidak ada peristiwa yang memporak-porandakan ranjangnya, yang ada jantungnya yang terus saja berdebar, gugup karena ini pertama kalinya sangat intens.


__ADS_2