
Happy reading.
Selama dua hari terakhir, semenjak kepulangan Anin untuk cuti beberapa hari, Dewa menyempatkan waktunya untuk mengunjungi panti asuhan. Tempat yang beberapa tahun terakhir ini menjadi donatur tetap di panti asuhan tersebut.
Dewa setiap bulan selalu menyisihkan sedikit rezeki nya untuk di bagikan ke panti asuhan tersebut, dan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.
Sudah dari kecil keluarga selalu menanam kan cara untuk berbagi, cara ini ia terapkan sampai sekarang, hingga tangga kesuksesan ia capai dengan kerjasama, usaha, dan keringat yang mengalir.
Bukan sombong, atau riya sudah menjadi kebiasaannya untuk berbagi dengan seksama. Kedua orang tuanya selalu mengajar kan cara berbagi itu indah, cara ini ampuh mendatangkan keberkahan pada usahanya.
Dari kecil Dewa sudah di ajarkan untuk kedua orang tuanya berbagi, mulai dari mainan, maupun makanan yang ia punya. Tak lupa ia berbagi dengan teman-temannya yang mempunyai kekurangan dari segi ekonomi.
Di sinilah Dewa sedang melakukan perjalanan bersama Rano sekretarisnya, Rano bertugas menjadi sopir untuk mengantar pak bos kemana pun yang ia tuju? dan juga sekertarisnya bila sedang berada di kantor.
Mobil melaju dengan kecepatan pelan, maklum akhir pekan pasti jalan menuju tempat tujuan sangat macet. Rano pun mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati, tak ingin mobil bos nya tergores sedikit pun.
Bisa-bisa gajinya di potong untuk membayar ganti rugi, Rano membayangkan saja sudah geleng-geleng kepala.
Tak ingin peristiwa yang merugikan dirinya sampai terjadi, dengan sangat kehati-hatian Rano terus saja fokus dengan jalanan yang ramai macet.
"Kamu kenapa geleng-geleng kepala? pusing? ngantuk?" tanyanya Dewa yang duduk di kursi sebelahnya, Dewa dari tadi memperhatikan gerak-gerik sekertarisnya.
"Enggak pa-pa bos." jawabnya tersenyum meringis, seandainya ia jujur apa yang tengah di pikirkan pasti dirinya akan malu, dan mau di taruh mana muka nya.
Dewa tak lagi memperpanjang pertanyaannya, kembali fokus dengan gadget yang ia genggam. Sesekali pandangannya melirik kearah sebelah, tak menemukan kejanggalan semua masih aman , dan terkendali.
Syukur pak bos tidak bisa membaca isi hatiku, seandainya bisa pasti sudah di potong gajiku, kan bikin makin pusing.
*
__ADS_1
Anin sedang menghabiskan waktunya dengan adik-adiknya, ada yang sedang bermain lompat tali, ada juga yang sedang memainkan boneka, ada pula yang sedang bermain kelereng.
Meskipun ini permainan ringan, dan juga sudah jarang sekali di mainkan anak-anak zaman sekarang. Melihat senyumnya mereka Anin ikut bahagia, karena bahagia itu cukup sederhana.
Lelah bermain dengan adik-adiknya, Anin melipir ke ruang ibu pemilik yayasan. Anin ingin sekali menceritakan sejujurnya tentang keberadaan suaminya, tepatnya mantan suaminya.
Awalnya kakinya gamang untuk melangkah, tetapi tak ada pilihan lain kecuali kejujuran, dan harus jujur tentang semuanya.
"Assalamualaikum ibu, maaf mengganggu. Apakah ibu sedang sibuk?" Tuturnya Anin lembut, sebelum masuk ke ruangan ibu pemilik yayasan, Anin bertanya dulu sebelum di perbolehkan masuk.
"Waalaikumsalam, ayo masuk Nin. Kebetulan ibu sedang tidak sibuk, ada apa sepertinya sangat penting?" tanyanya ibu panti yang sedikit penasaran dengan perubahan raut wajahnya Anin.
"Ayo duduk dulu Nin, biar ngobrol nya lebih leluasa." Tuturnya ibu Santi selaku ketua yayasan tersebut.
"Terimakasih buk!"
Anin berkali-kali menarik nafasnya, sebelum menceritakan tentang masalahnya yang ia pendam beberapa bulan terakhir ini.
"Ada apa?" usapan lembut di helain rambutnya, menyadarkan Anin untuk kembali ke dunia nyata.
Anin mendongakkan kepalanya, netra nya bersitatap dengan wajah ibu Santi. Wajah yang sudah Anin anggap seperti ibu kandungnya sendiri.
Anin mulai menceritakan panjang lebar tentang biduk rumah tangganya, yang sudah berakhir karena suatu hal. Anin tak menceritakan secara detail, tak ingin membuat hati ibunya semakin sakit, dan menyalahkan diri sendiri.
Menceritakan garis besarnya saja, bila di ceritakan pasti waktunya tak akan cukup untuk bercerita. Biarkan ada beberapa hal yang harus ia simpan, biarkan semua menjadi pelajaran hidupnya.
Berharap kelak bila Allah swt menemukan dengan jodohnya, semoga mendapatkan yang terbaik, jodoh yang baik yang mau menerima kekurangan, dan kelebihannya.
"Hiksss.. maafkan ibu Nin! ibu salah membuatmu terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, ku kira kalian saling mencintai, tidak tahu kalau ceritanya seperti ini!" Ibu Santi pun merasa bersalah telah membuat putrinya menyandang status janda.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah semua sudah takdirNya, buk." Anin berusaha untuk berbesar hati, karena semua yang terjadi adalah bagian takdirNya.
Setelah saling berpelukan, mereka mengurai pelukannya. Hatinya anin sudah mulai tenang, sudah bisa mengungkap kan isi hatinya yang ia pendam beberapa bulan terakhir ini.
Ada kelegaan di raut wajahnya Anin, beban yang selama ini ia pikul. Kini sudah berkurang, tinggal menata kembali hatinya untuk menggapai bahagia.
Bahagia cerita masa lalu yang ia berusaha untuk di tutupi, akhirnya Anin ke cerita kan ke wanita hebat yang sudah Anin anggap seorang ibu kandung.
Di tempat ini pula aku di lahirkan, di tempat ini pula aku pulang untuk berbagi dengan keluarga ku yang sudah lama ia pendam.
*
Mobil sedan Hitam keluaran terbaru berhenti di minimarket pom bensin, setelah mengisi bahan bakar keduanya beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya.
Dewa beberapa kali fokus pada gadget, tak fokus dengan banyaknya orang yang mulai mencuri-curi kesempatan ke dirinya. Saking fokusnya Dewa menganggap nya semuanya adalah angin lalu, kini fokusnya kembali dengan gadget yang berisi beberapa email yang masuk semuanya tentang pekerjaan.
Rano pun sama memilih fokus dengan minuman di tangannya, sesekali membalas pesan yang masuk ke WhatsApp nya.
"Senyum lebar jelas di lihat dari wajah sang pecinta wanita."
Bukan tak lain ia adalah Dewa, pria tampan memiliki pesona yang membuat kaum adam klepek-klepek.
Di ruang khusus kursi yang ia dudukki, seakan menjad saksi bisu tentang perjalanan yang selama ini ia capai. Bekerja, atau membicarakan tentang beberapa hari yang ia lewati bersama, tentu membuat hatinya cukup bahagia.
Tertera nama sahabat-sahabat waktu dirinya masih duduk di bangku sekolah, walaupun sudah ada yang menikah, memiliki anak.
Persahabatan bagaikan kepompong, dan selanjutnya akan menjadi kupu-kupu. Seperti itulah gambaran yang pas untuk sebuah persahabatan.
Belum ada niatan untuk beranjak dari tempat duduknya, karena keduanya ingin mengistirahatkan badannya sebelum memulai perjalanan yang sedikit agak panjang untuk mencapai tujuan.
__ADS_1
Tempat yang ia tuju masih sedikit lama, beristirahat sejenak di rest area adalah waktu yang tepat untuk ia sedikit merenggang kan otot-otot nya.