
Selang satu minggu kemudian, agenda pekerjaan sangat padat waktu untuk sekedar hangout bareng kawan-kawan pun sangat susah.
Kesibukan bekerja, karier yang mulai menanjak mengharuskan Dewa bersikap profesional, termasuk masalah wanita tidak dalam kategorinya dalam waktu dekat ini.
Perjalanan bisnis ke negara X adalah jadwal rutinitas untuk minggu-minggu ini, minggu yang membuat harinya sangat padat seperti semut.
Baru saja Dewa menyelesaikan perjalanan bisnisnya ke beberapa negara, banyak waktu yang ia habiskan Waktunya untuk kerja dan kerja.
Hampir dua bulan berkeliling dunia, hari ini Dewa dan Rano bersiap pulang ke tanah air. Bila tidak ada halangan, nanti malam mereka akan melakukan penerbangan.
Kenapa memilih malam? malam sangat nyaman untuk melakukan penerbangan, beda halnya dengan siang hari.
"Ran kopernya sudah beres." Tutur Dewa yang masih asyik tiduran di atas ranjang, sesekali melirik ke arah Rano, kedua tangannya tak diam karena sedang memainkan ponsel.
"Sudah bos." sahut Rano cepat.
"Awas lho! jangan sampai ada yang ketinggalan, kan repot nantinya." peringatan dini sebelum keduanya meninggalkan hotel.
"Ahh siap pak bos!" Rano tersenyum dengan hormat ala-ala tentara.
Dewa yang masih nyaman diatas tempat tidur mengulas senyum sedikit, merasa lucu dengan sang sekertaris yang tingkahnya absurd tetapi sangat menghibur.
Selesai mempacking barang-barang bawaannya, Rano memilih tiduran di sofa. Sedikit memijat pelipisnya, tiba-tiba sedikit pusing yang datang nya tanpa ia sangka-sangka.
"Kamu kenapa Ran?" tanya Dewa sedikit ada rasa ke khawatiran. Mimik wajah nya pun langsung berubah, ada rasa kecemasan tinggi.
"Sedikit pusing bos." jawabnya dengan kelopak matanya terpejam, berharap dengan memejamkan kelopak matanya pusingnya sedikit reda.
"Owhhh."
Bukannya simpati atau apa malah hany owhh saja, batinnya Rano menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Selang berapa menit Dewa mulai melontarkan kata-kata, sebenarnya baginya Rano tak tertarik dengan bualan receh sang ceo.
__ADS_1
"Kamu istirahat saja! nanti aku bangunin kalau sudah mau ke bandara." Ujar Dewa memberikan sedikit nasehat.
"Baik bos."
Tumben dia baik banget, kesambet apa coba.
Sesuai perintah bosnya Rano mulai memejamkan kelopak matanya, mulai merasakan buaian mimpi indahnya. Dengkuran halusnya menandakan bahwa ia sudah nyenyak dalam mimpinya.
Dewa yang terusik dengan suara dengkuran Rano, harus menutup telinganya menggunakan tissue yang terletak diatas nakas nya.
"Alhamdulillah ide cemerlang, Untung ada tissue, setidaknya bisa mengurangi suara-suara aneh!" gumamnya Dewa mengulum senyum, karena usahanya berhasil untuk mengurangi suara-suara bising di kamarnya.
Tak di sangka juga Dewa ikut memejamkan kelopak matanya juga, rasa kantuknya yang sudah ia tahan akhirnya jatuh juga di ranjang nyenyak. Handphone pun masih ia genggam, belum sempat meletakkannya sudah keburu ngantuk duluan.
Derrrtttttt...
Getaran handphone di tangannya Dewa membuat sang empu menggeliat tubuhnya, tak berniat untuk bangun kalau bukan getaran handphone yang memekik gendang telinganya.
"Siapa sih pakai ganggu segala, kan aku lagi tidur, seharusnya tidak ada yang boleh ganggu bila itu tidak penting," batinnya Dewa yang berbicara dalam hatinya, karena belum berkeinginan untuk membuka kedua kelopak matanya.
Derrrtttttt...
Setelah membuka kelopak matanya sedikit, ekor matanya celingak-celinguk mencari suara getaran itu, tak di sangka suara getaran itu berasal dari handphone di tangannya.
"Hallo." suara serak Dewa khas bangun tidur, tetapi sangat seksi bila di dengarnya dengan suasana tenang.
"Assalamualaikum ini Mom, Nak." sahutnya Mom Retha mengucapkan salam sebelum memulai menanyakan kabar putranya.
"Waalaikumsalam, maaf Mom kirain tadi siapa? habisnya aku enggak tahu kalau yang telepon Mom." Ujar Dewa jujur. Sebelum mengangkat telepon pun, Dewa tak melihat dulu layar ponselnya.
"Kapan pulang Nak? Mom sudah rindu sama jagoannya Mom yang nakal ini, habisnya ninggalin Mom lama," Ucap Mom Retha sedikit merajuk, bibirnya pun sudah mengerucut.
"Nanti malam Mom!"
__ADS_1
"Udah dong ngambek nya nanti cantiknya hilang lho, Mom." Dewa melancarkan aksinya untuk menggoda Mom nya.
"Wkkkkwkkkk kamu pintar ya bikin Mom enggak jadi ngambek! siapa yang ngajarin kamu, Wa?" tanya Mom Retha yang sedikit curiga dengan ucapan putranya, dan godaan nya seperti kata-kata Papa nya alias suaminya.
Mereka hampir satu jam bertukar cerita, candaan, terkadang keduanya akan sangat bermanja satu dengan lainnya.
Kedekatan mereka patut di acungi jempol, tak jarang juga anak laki-laki mempunyai kedekatan dengan sang ibu. Sama halnya anak perempuan pasti ke ayahnya, semua bisa di buktikan dengan kedekatan Dewa dan mommy cantiknya.
Malam mulai beranjak, hari makin gelap tertinggal senja yang begitu indah.
Dewa sudah rapi dengan pakaian casual nya, jam tangan sudah ia pakai, tak lupa dengan sepatu sneakers putih ia pakai.
Kali ini Dewa ingin tampil biasa saja, hanya celana chinos pendek, kaos putih dan kemeja kotak-kotak berwarna hitam.
Setelah turun dari lift, keduanya sudah berjalan keluar lobby utama untuk menunggu mobil yang menjemput keduanya.
Mereka sudah berada di dalam pesawat, pesawat nya sudah siap untuk take off menuju tanah air.
Perjalanan melelahkan terbayar manis dengan hasil yang sangat memuaskan, tak sia-sia hasil kerjanya mendapatkan Applaus.
Siap mengibarkan bendera di negara-negara berkembang lainnya, dengan begini perusahaan yang ia rintis memulai fase kemajuan yang pesat.
Ada sang Papa yang setia mengajariku, suportt aku pada akhirnya aku bisa mencapai di titik sekarang ini!
Dewa sudah tiba di kediaman nya langsung di sambut pelukan hangat mommy nya. Pelukan yang sudah beberapa bulan ini ia rindukan, pagi ini ia rasakan lagi pelukan yang hangat sangat menenangkan.
"Jagoannya Mom, manja banget."ledeknya Mom Retha. Masih setia mengusap lembut seluruh wajahnya yang nampak sekali sedikit kelelahan.
"Kan enggak apa-apa manja sama Mom sendiri, kan enggak dosa Mom." alibi Dewa yang masih bergelayut manja di lengan sang mommy.
"Makanya sana cariin mantu untuk mommy, biar kamu bisa bermanja-manja setiap hari, kan enak halal dapat pahala lagi." Tutur mommy Retha panjang lebar, sudah lama ia ingin mengendong cucu yang lahir dari keturunan darah Armadanya.
"Mana cucu mom, kenapa enggak ikutan di bawa pulang?" mom Retha mencecar pertanyaan yang memojokkan pria satu-satunya.
__ADS_1
"Ahh mom yang di bahas itu terus, seharusnya tanya kabar kek? atau apa gitu biar aku semangat untuk perjalanan bisnis next time." Protesnya Dewa yang merasa tersindir, seakan memaksanya untuk segera menikah padahal belum punya niat membangun rumah tangga.
Apa yang di ucapkan mommy nya ada benarnya juga, Dewa harus bisa mementingkan perasaan kedua orang tuanya, bukan hanya egois dengan sibuk sendiri tanpa memikirkan sang mommy yang sudah merindukan seorang cucu.