Bahagia Selepas Bercerai

Bahagia Selepas Bercerai
Bagian 33


__ADS_3

Berdiam diri bukan solusi yang tepat, Dewa selangkah lebih maju dikit demi sedikit mulai bersikap untuk masa depan yang akan ia jalani.


Hubungan antara keduanya sudah mulai ada kemajuan, bukan lagi sekedar atasan dan bawahan lagi.


Mereka sudah mulai akrab satu dengan satunya, terutama Si pria yang menunjukkan pria sejati yang mulai nyamperin duluan, atau menyapa terlebih dahulu.


Akan ada cerita indah yang akan mereka mulai, akan ada kebahagiaan menanti Keduanya.


Keduanya menjalani pertemanan ini dengan santai, tak mau menerka-nerka tentang kejelasan kedekatan ini.


"Mas."


"Hm."


Anin tak melanjutkan lagi dalam obrolannya, memilih diam memperhatikan pria di depannya yang dalam mode serius.


Tak ingin menganggu, Aku memilih menyibukkan diriku untuk browsing ke beranda akun sosial media ku.


Hmm aku di cuekin ternyata


Hampir satu jam berada di ruangan yang sama, keduanya juga sibuk dengan kesibukan yang berbeda.


Dewa sibuk dengan tumpukan berkas yang menggunung, sedang Anin menyibukkan dirinya supaya tak jenuh, dan iri hati dicuekin cukup lama.


Cukup hening di dalam ruangan yang sama-sama diam, hanya suara kertas yang di bolak-balik sang pemilik tahta.


"Ayang."


"Anin diam, merasa bukan namanya." Dalam hati Anin bersorak gembira di panggil sebutan Ayang, tetapi jika itu panggilan buat perempuan lain betapa sakit hati ku.


"Yang."


"Anin diam."


Melihat perempuan di depannya cuek saja, Dewa makin gemas sendiri dengan diamnya. Ingin sekali menghampiri, tetapi kesibukan akan tumpukan dokumen membuatnya mengurungkan niatnya untuk mendekat, duduk berdua.


🍏


Mereka semakin terdepan dalam menunjukkan kedekatannya sebagai teman dekat saja untuk saat ini, entah besok atau lusa mereka tidak bisa menerka-nerka tentang jawaban takdir keduanya.

__ADS_1


"Mereka hanya mampu berpasrah, Jika memang di takdir berjodoh pasti akan menjadi tempatnya untuk pulang, bila bukan jodohku pasti akan ada jalan terbaik untuk kami berdua."


Anin tak sungkan lagi memanggil atasan nya dengan sebutan Mas, simpel tetapi sangat bermakna.


Sebagai seorang laki-laki sejati, dewasa, merasa sangat di hargai walaupun hanya dengan sebutan *Mas.


Aku* juga tak mau bermain-main lagi dalam meracik bumbu-bumbu cinta.


Usia ku juga bukan anak muda lagi, makin hari makin bertambah dan berkurang.


Tak ingin grusak-grusuk dalam mengambil keputusan, keputusan itu pula menyangkut orang banyak. Terutama hati keduanya, dan perasaan orang tua yang harus ia jaga.


Tak ingin membuang waktu, awalnya hanya sebatas atasan dan bawahan.


Kini aku mulai berjalan meninggalkan masa lalu, mencoba merangkai kata dan masa depanku.


Niatnya aku untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, sangat terbuka lebar. Seakan takdir merestui kami berdua, ada aja jalan yang kami lalui butuh perjuangan dan pengorbanan.


Anin adalah perempuan baik, penyayang, yang pasti Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.


Caranya Dia memperlakukan aku, gayanya yang sopan, tutur katanya yang lembut mampu menghipnotis kaum Adam seperti dirinya.


Walaupun di lingkungan pekerjaan belum banyak yang tahu, sejatinya mereka belum ingin membawa kearah lebih serius lagi. Ingin menjalani dulu, berharap ada jawaban dari pertanyaan keduanya tentang hubungan pertemanan.


Berbicara tentang orang tuanya Dewa, mereka setuju-setuju saja dengan pilihan putranya asalkan perempuan baik-baik, dan bisa menerima kekurangan putra semata wayangnya.


Restu dari orang tua yang membuat Dewa yakin pada hubungan ini, meskipun sebelumnya pernah mengenalkan beberapa teman perempuannya tetapi terutama sang Mama yang kurang sreg dengan pilihan hatinya.


Akhirnya aku mulai menahan diri ku untuk tak terlalu dekat dengan namanya perempuan, takut perkenalan pada keluarga mendapatkan penolakan.


Hubungan itu pun juga tak berjalan mulus, ada aja kerikil kecil yang memberi warna-warni perjalanan seorang Dewa.


Pria sempurna tanpa ada cacat sedikitpun, membuatnya banyak di kejar-kejar kaum hawa yang menaruh simpati kearahnya.


🌼


Keduanya baru saja selesai makan siang bersama, sedang Nindy juga mulai sibuk dengan dunianya.


Diam-diam juga Nindyy bermain di belakangnya, tanpa mereka ketahui ternyata Nindy dan Rano sekertaris nya Dewa bermain cantik.

__ADS_1


Mereka tak menyangka jejaknya ternyata ada yang menirunya, tak mau mengkritik mereka biarkan saja toh mereka yang menjalani dengan saling menyukai satu dengan lainnya.


"Mas." panggil Anin mengusap lembut lengan Dewa. Tak lupa juga mulai tersenyum tipis kearah sang teman.


"Hmm, napa mau nambah makanannya atau minta di bungkus di bawa pulang? tanya Dewa dengan tatapan matanya yang penuh dengan cinta, bicaranya lembut mampu membuat kaum hawa terpesona.


"Enggak! hmm anu." jawabnya Anin tergagap karena malu memandangi pria di depannya tanpa berkedip.


"Apa?"


"Hmm enggak jadi!"


Anin jadi salah tingkah sendiri, niatnya untuk mengutarakan isi maksudnya lagi-lagi harus ia tunda dulu. Tak mau acara romantis di siang bolong terganggu membuat pria di depannya menjadi badmood.


Memilih tak melanjutkan pembicaraan, mereka fokus menyantap makanan yang masih hangat tersaji di depannya sebagai hidangan penutup.


Tidak ada pembicaraan berikutnya, Anin pun juga sama memilih menutup bibirnya rapat-rapat supaya tidak salah bicara takutnya malah berakibat fatal untuk makan siangnya.


🌼


Anin sudah sampai di unit apartemen nya sedang Nindy sampai lebih dulu, karena ada beberapa dokumen yang harus ia selesaikan dulu baru ia akan pulang.


Semuanya bentuk dari sebuah tanggung jawab pada pekerjaannya, tak ingin masalah pribadi di campur aduk kan dengan urusan kantor.


"Baru pulang Nin." sapa Nindy yang sudah siap di ranjang tidurnya dengan pakaian piyama kesukaannya.


"Iya Nindy, habisnya di suruh lembur aku mah gak mau, akhirnya aku memilih menyelesaikan dulu baru pulang gitu ceritanya Nindy." Anin panjang lebar menjelaskan, takutnya akan salah paham membuat mereka tak sejalan.


"Ohhh."


Nindy kembali fokus dengan gadget di tangannya, Anin juga masuk ke dalam kamar kecil untuk membersihkan dari sisa-sisa kotoran dari luar.


Satu jam keduanya sudah rebahan di ranjang yang sama, ada rasa ingin menutup mata untuk melanjutkan mimpi yang sudah ke tunda beberapa jam yang lalu.


Mereka seakan tidak pernah puas menceritakan pengalaman, sepak terjang nya berada di Jakarta.


Bukan karena Dewa pria yang menjadi teman dekatnya, mungkin sudah suratan takdir pula mereka di pertemukan di tempat yang sama lalu keduanya di dekatkan lewat jalur pertemanan.


"Terimakasih di pertemukan di waktu yang tepat, semoga Dia adalah akhir dari perjalanan ku untuk menemukan kebahagiaan ku nanti, Aamiin."

__ADS_1


Sepenggal cerita yang ingin Anin tulis, semoga menjadi pelajaran, kenangan jika tua nanti keduanya memiliki cerita cinta yang indah.


__ADS_2