
Ola kesal karena masih fokus mencari aset milik Olive, malah harus terhenti karena Azka saat ini sedang menunggu dirinya.
"Oh iya, jika aku lewat pintu depan pasti aku akan berpapasan dengan Azka dan terbongkarlah semuanya."
Ola pun melangkah ke arah jendela dan kebetulan jendela tersebut tembus ke arah parkiran mobil.
"Hem untung ada jendela ini, jika tidak pasti aku takkan bisa keluar begitu saja dari sini."
Ola pun melompat dari jendela tersebut dan dia melangkah perlahan menuju ke kantor lewat arah depan, hingga seolah dia habis pergi keluar dari kantor.
"Via, aku ingin bicara padamu. Makanya aku sengaja menunggu dirimu disini." Terlihat wajah sumringah Azka pada saat melihat kedatangan Ola.
Namun tidak dengan Ola, dia sebenarnya sudah sangat benci pada Azka tapi dia mencoba menahan rasa amarahnya tersebut sebelum apa yang di inginkan tercapai.
Ola membuka ruang kerjanya supaya Azka bisa masuk ke dalam.
"Silahkan masuk, Tuan."
Ola duduk di kursi kerjanya dan Azka duduk di hadapannya.
"Ada apa ya, Tuan? sepertinya ada hal yang sangat serius sekali?" tanya Ola penasaran.
"Begini Ola, kamu tak perlu khawatir lagi dengan ancaman Mela. Dia baru saja aku masukkan ke rumah sakit jiwa. Mengingat kelakuannya selama ini terlihat sangat aneh."
"Via, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu. Sejak aku bertemu denganmu, ada satu getaran cinta. Via maukah kamu menjadi kekasihku?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Azka, ingin sekali Ola meninju mulutnya saat itu juga.
"Sialan, dia pikir aku ini takut pada Mela. Padahal Mela bagiku tidak ada apa-apanya. Hem, gampang sekali menjebak dia untuk jatuh cinta padaku? lantas aku harus jawab apa ya?" batin Ola.
"Via, kenapa kamu diam saja? apa kamu tak suka padaku?" pertanyaan Azka membuyarkan lamunan Ola.
__ADS_1
"Bukan begitu, Tuan. Bukankah anda ini sudah beristri, saya tak ingin jika nanti saya di cap sebagai pelakor. Dan saya rasa anda juga punya hubungan dengan, Nona Mela kan?" tanya Ola menyelidik.
"Saya sedang proses cerai, karena saya sudah tak ada lagi kecocokan dengan istri saya. Jujur saja, memang saya ada hubungan dengan Mela. Tetapi saat ini saya sudah tidak ada perasaan apapun lagi padanya," ucap Azka.
"Hem, dasar play boy. Habis manis sepah di buang. Mau enaknya saja. Gampang banget dia berpindah ke lain hati," batin Ola semakin kesal pada Azka.
"Via, apa kamu tak mau menjadi kekasih aku?" tanya Azka kembali.
Ola sengaja diam supaya Azka semakin penasaran.
"Via, jika kamu mau menjadi kekasihku akan kuberikan apapun yang kamu inginkan. Termasuk diri ini rela berkorban untuk mu," Azka mulai merayu.
"Tuan Azka, apa sadar dengan yang barusan tuan katakan?" tanya Ola ragu.
"Aku serius dengan apa yang aku katakan. Bukan hanya sekedar merayu atau ucapan di bibir saja. Aku akan buktikan semua yang aku ucapkan barusan padamu," ucap Azka mencoba meyakinkan Ola dengan ucapannya.
"Dasar mulut buaya, dia pikir aku akan percaya saja dengan yang dia katakan. Aku akan buat kamu bertekuk lutut dan benar-benar memberikan semuanya secara suka rela padaku sesuai dengan ucapanmu," batin Ola.
"Hem, apa harus secepat ini Via? aku maunya kita pacaran dulu, baru aku turuti apa maumu itu."
Mendengar apa yang di katakan oleh Azka, Ola sudah paham jika Azka hanya ingin mempermainkan dirinya saja.
"Kamu ingin bermain denganku ya Azka, boleh juga dech. Aku akan ladeni permainanmu. Aku ingin tahu sejauh mana kelicikanmu itu," batin Ola.
Dia merasa tertantang sekali dengan trik Azka yang ingin mengelabui dirinya.
"Baiklah, Tuan Azka. Saya terima tawaran anda, saya akan menjadi kekasih anda dengan senang hati. Tetapi janji ya, setelah saya resmi berpacaran dengan anda, apa yang saya inginkan akan anda turuti?" ucap Ola berlagak sok polos di hadapan Azka.
"Hem, terima kasih ya Via. Bagaimana kau nanti malam untuk merayakan hari jadi kita, aku ajak kamu makan malem di sebuah restoran termahal dan termewah di kota ini?" tanya Azka sangat antusias.
"Baiklah, Tuan saya akan datang sesuai permintaan anda."
__ADS_1
*******
Sore menjelang sudah waktunya Ola pulang ke rumah, dia pun merencanakan sesuatu untuk acara malam nanti.
"Hem, apa yang tepat untuk memberi pelajaran pada Azka ya?" batin Ola.
"Oh iya, selama aku pergi makan malam dengan Azka. Aku akan memerintahkan Brian untuk beraksi di rumah Azka. Aku yakin segala aset penting di simpan Azka di rumah," batin Ola.
Saat itu juga Ola menelpon Brian untuk menemui dirinya di apartementnya. Tak berapa Brian telah sampai di apartement Ola.
"Ada apa ya, bos? apa ada tugas penting untuk saya?" tanyanya penasaran.
"Iya, Brian. Nanti malam aku akan mengecoh target si Azka. Dan aku minta kamu dan beberapa anak buahmu datang ke rumah Azka untuk mencari segala aset berharganya. Kamu paham tidak apa yang aku tugaskan padamu kali ini. Jangan lupa di sana banyak kamera CCTV jadi kamu dan anak buahmu harus hati-hati," Ucap Ola.
"Siap, bos. Kirim share lokasinya saja ke ponsel saya supaya saya mudah menemukan rumah target," ucap Brian penuh antusias.
Saat itu juga Ola mengirimkan alamat rumah Azka dengan share lokasinya. Setelah jelas, Brian berpamitan untuk mengerahkan anak buahnya sekarang juga.
Seperginya Brian, Ola melangkah ke kamar utama, ternyata sedang ada Rere dan Ari. Ola menghentikan langkahnya pada saat mendengar segala ucapan Rere. Ola sengaja mendengar dari balik pintu.
"Tante Ola, cepat bangun ya? Rere ingin sekali bermain dengan Tante dan mamah. Rere senang sekali ternyata Rere punya seorang Tante, apa lagi wajah Tante mirip sekali dengan mamah."
Tersentuh hati Ola pada saat mendengar apa yang barusan Rere katakan.
"Rere, kamu yang sabar ya, pasti sebentar lagi mamah kamu akan sadar dan sehat kembali. Dan pada saat itu kita akan hidup bahagia bersama,' batin Ola.
Ola sangat kejam jika dia berhadapan dengan musuh sesama mafia dia tak sungkan untuk membunuhnya tanpa ampun. Akan tetapi pada saat Ola mendengar mulut si kecil polos Rere berkata, mata Ola berkaca-kaca.
Dia bisa merasakan kesedihan yang mendalam dengan kondisi Olive yang sudah sekian lama belum juga sadakan diri. Dia pun masuk ke kamar tersebut.
"Rere, ternyata ada di sini?" Ola memeluk Rere.
__ADS_1
" Iya, mah. Rere sedang mengajak ngobrol Tante Ola."