
Hati Ola sangat puas karena telah berhasil menyakiti Mela kembali. Tak hentinya dia terus saja tertawa bahagia selama perjalanan pulang ke apartementnya.
Namun pada saat dia sampai di apartement, Rere sudah ada di teras halaman bersama dengan Mba Ari.
"Rere, kenapa wajahmu seperti itu? apa di sekolahan ada yang nakal sama, Rere?" tanya Ola mensejajarkan tubuhnya setara dengan Rere.
"Bukan itu, nona. Saya mohon maaf, tak sengaja nona kecil tadi ke kamar utama dan melihat ada seorang wanita yang terbaring dan wajahnya sangat mirip dengan, Nona Olive?" ucap Mba Ari.
"Mah, siapa dia yang mirip sekali dengan mamah?" tanya Rere dengan polosnya.
"Nak, namanya Tante Ola. Dia itu saudara kembar mamah. Dia sedang sakit, doain ya supaya Tante Ola lekas sembuh," ucap Ola berbohong pada Rere.
"Oh jadi yang di kamar itu saudara kembar, Nona Olive? benar-benar mirip bagai pinang di belah dua, nona," ucap Mba Ari.
"Hem, iya Ari."
"Mamah masuk dulu ya, sayang."
Ola masuk ke dalam rumah dan dia mengirimkan sebuah notifikasi chat pesan pada Rani.
[Rani, apa kamu atau perawat lupa mengunci pintu kamar utama? sehingga Rere tak sengaja masuk?]
Drt drt drt drt
Notifikasi chat pesan tersebut masuk ke dalam ponsel Rani dan ia langsung membaca serta membalasnya.
[Oh, benarkah. Mungkin perawat lupa akan hal itu. Sebenarnya tidak apa jika Rere melihatnya, kalau bisa malah Rere suruh sering berinteraksi dengan, Olive. Biasa ikatan batin ibu dan anak kan tajam dan peka. Siapa tahu itu bisa memacu untuk Olive lekas sadar dari komanya,]
Ola membaca chat pesan balasan dari Rani.
"Hem, benar juga apa yang di katakan oleh Rani."
Ola pun membalas kembali pesan tersebut.
[Baiklah akan aku lakukan saranmu ini. Tetapi tadi pada saat Rere bertanya siapa wanita itu, aku jawabnya adalah Ola saudara kembar Mamahnya.]
__ADS_1
Kembali lagi Rani membaca dan membalas pesan chat dari Ola.
[Itu tak masalah, nggak apa-apa jika sementara waktu Rere tak tahu jika yang terbaring sakit adalah mamahnya. Karena kasihan juga jika dia tahu, nanti yang ada jadi sedih.]
Setelah mendapatkan saran yang positif dari Rani. Ola pun akan membiarkan Rere sesekali masuk ke kamar utama dimana saat ini, Olive tak sadarkan diri dalam koma.
"Apa sebaiknya aku jujur pada Neneng dan Mba Ari ya, supaya mereka membantuku untuk Rere bisa berinteraksi dengan Olive?" batin Ola.
Hingga akhirnya Ola memanggil Neneng dan Ari ke ruang kerjanya. Karena kebetulan Rere sudah tidur.
"Nona, ada apa kami di minta datang kemari?" tanya Neneng panik.
"Iya, nona. Apakah kami punya salah? jika iya kami minta maaf, dan tolong jangan pecat kami," ucap Ari gemetaran.
"Neneng- Ari, aku bukan ingin memecat atau memarahi kalian berdua. Tapi aku ingin minta tolong pada kalian. Dengarkan dulu cerita aku hingga selesai ya, kalian jangan berkomentar dulu," ucap Ola.
"Baiklah, nona."
Jawab Neneng dan Ari serentak.
"Sehubungan tadi Rere telah melihat siapa yang ada di kamar utama. Aku ingin mengatakan sebuah rahasia, tapi aku minta kalian jangan katakan ini pada siapapun."
"Aku ikuti mobilnya dan ternyata Olive di lempar ke jurang oleh Azka dan juga Mela. Pada saat mereka pergi, aku menolong Olive meraihnya dari dalam jurang."
"Tetapi kondisinya sangat kritis, hingga sekarang ini dia koma. Jadi yang ada di kamar utama itu adalah Olive, sedangkan aku adalah Ola kembaran dari Olive."
"Untuk saat ini aku sengaja menyamar menjadi Olive karena aku ingin membalaskan dendam pada Azka dan Mela yang hampir saja membunuh, Olive."
"Aku minta tolong pada kalian berdua, untuk sering-sering membawa Rere ke kamar utama, supaya dia bisa berinteraksi dengan Olive."
"Biasa ikatan batin antara ibu dan anak itu sangat kuat. Supaya Olive bisa segera sadar jika dia sering berinteraksi dengan, Rere. Tapi kalian jangan katakan jika itu adalah mamahnya nanti Rere sedih."
"Sampai sejauh ini, kalian paham tidak dengan apa yang aku jelaskan panjang lebar tadi?" tanya Ola untuk memastikan apakah Neneng dan Ari paham dengan cerita dia.
Sejenak Neneng dan Ari saling berpandangan satu sama lain dan keduanya serentak mengangguk.
__ADS_1
"Kami paham, nona. Intinya kami ini anggap nona ini nona Olive di depan Rere dan semua orang. Dan kami juga akan mengatakan pada Rere bahwa yang sedang sakit adalah, Tante Ola."
"Kami akan bantu untuk bisa mendekatkan Rere dengan Nona Olive supaya Nona Olive segera sadar."
Mendengar akan hal itu, Ola tersenyum riang.
"Bagus, terima kasih atas kerjasama dari kalian berdua. Jaga rahasia ini hanya kita berdua yang tahu ya," ucap Ola.
Setelah cukup pembicaraannya, Ola memerintah Neneng dan Ari kembali ke paviliun belakang.
Setelah beberapa saat Neneng dan Aru ada di paviliun belakang, sejenak mereka bercerita.
"Eh nggak menyangka ya, jika selama ini kita berhadapan dengan saudara kembar, Nona Olive," ucap Ari.
"Iya, pantas saja waktu itu kasar banget sama Den Azka dan Si Mela itu. Ternyata dia beda orang?" ucap Neneng.
"Kasihan juga ya, Nona Olive saat ini tak sadarkan diri karena ulah Den Azka dan Mela. Semoga saja dia lekas sembuh ya?" ucap Ari.
"Hem iya, tapi anehnya kenapa pula Nona Ola tak langsung saja melaporkan kejahatan Den Azka dan Mela ya?" ucap Neneng.
"Oalah kamu ini belum paham juga kenapa Nona Ola tak melakukan hal itu? Hem dasar Oneng seperti namamu Neng," ejek Ari.
"Memangnya kamu tahu kenapa Nona Ola melakukan hal itu?" tanya Neneng mengerutkan dahinya.
"Jelas tahulah, intinya ini jika mereka masuk penjara itu terlalu enak untuk mereka. Makanya Nona Ola sengaja mengatasi semuanya sendiri. Dia ingin membalas dendam pada mereka. Baginya hukuman penjara itu tidak cukup untuk menebus kesalahan dan dosa mereka pada, Nona Olive," ucap Ari.
Setelah mendengar penjelasan dari Ari, Neneng hanya berhooh ria.
Sementara saat ini Azka sedang sibuk merayu Ola di dalam panggilan telepon. Dia sudah mulai terjebak oleh permainan, Ola.
"Hallo, Via. Besok kamu jangan lupa ya, mulai datang ke kantor dan jangan telat sampai kantor jam delapan pagi."
"Iya, Tuan Azka. Saya pasti akan tepat waktu."
"Saya harap kamu akan kerasan bekerja di kantor ya?"
__ADS_1
"Sepertinya saya akan kerasan karena punya bos sebaik dan setampan anda, Tuan.
Ola langsung melancarkan aksinya dengan merayu Azka di dalam panggilan telepon.