
Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Ola untuk mengelabui Azka.
"Mas, memangnya aset perusahaan ada dimana ya? dan berapa lama masa tahananmu?" tanya Ola penasaran.
"Jika kamu bisa memberikan jaminan satu milyar aku bisa keluar saat ini juga. Itu aset perusahaan bila di jual harganya memang benar lebih dari satu milyar. Jika kamu berhasil menjualnya, aku janji akan menjadi suami yang lebih baik. Dan jika aku tidak di tebus, aku akan ada di penjara ini dalam jangka waktu satu tahun lamanya," ucap Azka menatap sendu pada Ola seolah meminta belas kasihan.
"Hem, tapi aku kan nggak tahu dimana kamu menyimpan semua asetnya?" tanya Ola.
"Ada di brankas di rumah baruku, tapi satu aset saja yang kamu jual jangan semua, nanti aku tulis alamat rumah dan juga kode untuk bisa membuka brankasnya," ucap Azka.
Saat itu juga, Ola memberikan sebuah pena dan kertas untuk Azka menulis alamat rumah baru nya Azka dan kode brankasnya.
"Ini, aku benar-benar berharap penuh padamu ya? cepat kamu ambil dan carilah pembelinya," pinta Azka seraya memberikan kertas yang sudah di tulisi alamat rumah Azka yang baru dan juga kode untuk bisa membuka brankas.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya mas. Kamu jaga diri baik-baik ya mas. Jangan khawatir sebentar lagi aku pasti akan datang lagi untuk membebaskan mu," ucap Ola.
"Yes, berhasil juga aku mendapatkan kode ini. Lihat saja, Azka. Kamu pikir aku akan membebaskanmu dengan memberikan jaminan? enak saja, justru aku akan membiarkan dirimu membusuk ya walaupun satu tahun lumayan untuk aku bisa mengembalikan semua yang seharusnya menjadi milik Olive. Semoga saja Olive lekas sadar dari komanya agar cepat memimpin perusahaan. Karena aku juga tak selamanya bisa menghandle semuanya."
"Aku juga punya kesibukan sendiri yakni mengurus markas peninggalan almarhum papah. Aku tak ingin mengecewakan papah."
Saat itu juga Ola melajukan mobilnya menuju ke rumah baru Azka. Dan dia pun pintar berkata di hadapan asisten rumah tangganya, hingga dia bisa masuk ke dalam rumah dengan begitu mudahnya.
"Aku harus gerak cepat, dan aku akan meminta pengacara aku mengurus semuanya. Semua aset perlu di urus di balik nama menjadi milik Olive semuanya."
Tak berapa lama, Ola telah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia lekas menelpon pengacara untuk membantunya dalam hal ini.
Beberapa hari kemudian, semua aset sudah berpindah tangan pada Olive. Baik perusahaan, beberapa saham, serta rumah yang saat ini di tempati oleh Azka.
"Lega rasanya aku sudah bisa memindahkan semua aset yang ada di tangan Azka. Seharusnya mending itu adalah hak Olive seutuhnya," batinnya puas.
__ADS_1
Sementara Azka gelisah karena mengharapkan kedatangan istrinya.
"Olive, kenapa sudah beberapa hari ini kok kamu nggak datang juga untuk membebaskan aku ya?" batin Azka gelisah.
"Jika dia ingkar janji, tamatlah riwayat aku. Mau tidak mau aku harus mendekam di penjara selama satu tahun."
*********
Sejak tidak ada Azka, Ola yang memimpin perusahaan. Namun pada saat Ola baru selesai meeting, ponselnya berdering yang ternyata panggilan telpon dari Rani.
"Hallo, Rani. Ada apa ya?"
"Kamu bisa pulang sebentar ke rumah nggak ya? ini mengenai Olive.
"Hah, apakah dia telah sadar?"
"Cepat pulang dan nggak usah banyak tanya."
"Aku harus secepatnya pulang, ada apa sebenarnya dengan Olive? kenapa perasaan aku tak tenang seperti ini ya? kenapa aku selalu saja memikirkannya?" di sela mengemudi, Ola terus saja bergumam.
Tak berapa lama, Ola telah sampai di apartement. Dia langsung masuk ke kamar utama, untuk melihat kondisi Olive.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Ola panik.
"Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja, dimana aku selalu tugas di sana. Karena di sana semua peralatan komplit dan memadai serta penanganan cepat. Jika di sini jujur saja aku kewalahan menghadapinya. Kadang terbentur tugas di rumah sakit."
"Kamu tak perlu khawatir tentang kondisinya, selama ini stabil hanya saja belum juga ada kemajuan."
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Rani ada sedikit rasa lega tetapi ada rasa kesal pada Rani.
__ADS_1
"Sialan, aku sudah panik sekali pada saat kamu telpon. Aku pikir ada sesuatu hal yang terjadi padanya," ucap Ola.
"Memangnya kamu ingin ya terjadi sesuatu pada saudara kembarmu?' tanya Rani.
"Iya, aku ingin terjadi sesuatu yakni dia sadar dan pulih seperti sedia kala. Karena aku sudah harus kembali ke markas," ucap Ola.
"Hem, mau sampai kapan kamu terus menggeluti pekerjaanmu sebagai seorang mafia, apa lagi kamu ini perempuan?" tanya Rani.
"Sampai aku menemukan seorang pria yang bisa meluluhkan hatiku dan mau menjadi pendamping hidupku."
Mendengar apa yang baru di katakan oleh Ola, Rani sejenak terkekeh pelan. Dia tak menyangka jika sahabat baiknya yang barbar dan jago bela diri ini doyan sama lelaki. Sementara Ola menjadi penasaran kenapa Rani menertawakan dirinya.
"Heh, kenapa kamu tertawa?" tanya Ola mengerutkan alisnya.
"Aku pikir kamu itu nggak doyan dengan lelaki," bisik Rani karena tak ingin ada ya g mendengar perkataannya.
"Sudah bagaimana ini, jangan malah mengejek aku terus!"
"Seperti yang barusan aku katakan, sebaiknya di bawa saja ke rumah sakit. Aku pastikan aman, kamu tak perlu khawatir. Nanti aku akan minta bantuan temanku yang sesama dokter untuk bergantian merawatnya di saat aku sedang ada urusan dengan pasien yang lain," ucap Rani.
"Lantas usaha dengan cara mendekatkan dengan Rere itu nggak berhasil?" tanya Ola.
'Hem ternyata memang kurang berhasil. Menurut saja denganku, aku yakin kali ini dia akan sadar dan sembuh," ucap Rani meyakinkan Ola.
"Ya sudah, atur saja bagaimana baiknya menurutmu. Aku ikuti saja aturan mainmu yang terpenting saudarku kembali sehat," ucap Ola pasrah dengan kemampuan Rani.
"Sialan tuh Rani, suka banget ngeprank ku. Ku pikir terjadi hal buruk pada, Olive. Makanya aku panik begini, syukurlah jika tidak terjadi apa-apa," batin Ola.
Dia pun melangkah menuju ke kamarnya, untuk segera melakukan ritual mandinya. Sejenak dia melamun sembari berendam di dalam bathup.
__ADS_1
"Aneh memang, kenapa tiba-tiba aku kok berkata seperti tadi pada Rani? pantas saja dia menertawakan aku. Memang tidak aku pungkiri selama ini aku sama sekali tak pernah dekat dengan pria manapun. Lantas masa iya tiba-tiba aku berkata seperti tadi, dasar gila," gumamnya terkekeh sendiri.
Belum pernah ada satu pria pun yang sanggup menggetarkan harinya itu.