
Tak berapa lama, Ola telah sampai di markas besar milik Leon. Selama dalam perjalanan, Brian pun mengikuti arah yang ada di ponsel Ola yang sedang aktif.
"Aku harus minta bantuan pada, Tuan Faisal. Jika aku bertindak sendiri sepertinya aku tidak bisa."
Brian langsung nelpon Faisal dan mengatakan jika saat ini Ola di sekap oleh Leon. Mendengar akan hal itu, Faisal sangat marah karena dia sangat mencintai Ola apa lagi jika mengingat jasa besar almarhum Papah Edward.
"Sialan, kok bisa Ola ceroboh hingga bisa di tangkap oleh Leon. Tua bangka bau tanah saja, masih bisa bertindak seperti ini! aku tidak akan tinggal diam!" Faisal langsung mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menyerang markas Leon.
Dia juga mengikuti petunjuk dari Brian supaya bisa sampai ke markas besar Leon.
"Perang besar yang sudah lama aku tunggu kini akan terjadi. Aku pastikan kamu akan membayar mahal kematian orang tuaku, Leon!" Faisal menggertakkan giginya seraya mengepalkan tinjunya.
Dia langsung bergerak bersama seluruh anak buahnya, begitu pula dengan Brian mengerahkan seluruh anak buah Ola.
Dengan petunjuk dari panggilan telepon yang Ola lakukan, Brian mampu mengetahui di mana saat ini Ola di sekap. Karena dia juga seorang hacker mampu meretas segala hal yang ada di ponsel atau alat komunikasi lainnya.
"Ola, aku punya penawaran untukmu. Jika kamu ingin tetap hidup, ada satu hal yang bisa kamu lakukan untukku. Tetapi jika kamu tak mau, aku akan menghabisi nyawamu sesuai dengan rencana awalku."
Leon berubah pikiran pada saat melihat tubuh molek dan cantik Ola. Dia menghampiri Ola yang saat ini sedang di ikat kedua tangannya pada sebuah kursi, dimana kedua tangannya di ikat di belakang punggungnya bertumpukan kursi.
Leon berkali-kali mengusap pipi mulus Ola, yang membuat Ola kesal dan dia pun meludahi wajah Leon. Karena kakinya terikat juga, hingga dia sama sekali tak bisa bergerak sama sekali.
"Kurang ajar, kenapa kamu berbuat seperti ini hah! padahal aku sudah berbaik hati ingin membuat satu penawaran padamu! tapi kamu malah seperti ini!" Leon sejenak berlalu pergi untuk mencuci mukanya yang terkena ludahan Ola.
Seperginya Leon ke toilet, serbuan serentak terjadi dari seluruh anak buah Ola yang di pimpin oleh Brian dan anak buah Faisal.
Terjadilah baku hantam dan tembak menembak begitu riuh terdengar hingga ke toilet.
__ADS_1
"Sialan, siapa yang berani menyerang ke markasku ini? padahal yang aku tahu, tidak ada satu orang pun selain anak buahku yang tahu lokasi markasku ini!" gumamnya seraya lekas melihat kegaduhan yang terjadi.
Pada saat dia keluar dari toilet, dia orang telah menodongkan pistol ke arah pelipisnya dari kanan dan kiri.
"Kalian berdua?"
"Iya, ini aku datang untuk membalas kematian orang tuaku! untung saja anak buah Ola bisa melacak markas ini! hingga aku bisa menemukanmu, tua bangka bau tanah!' ucap Faisal tersenyum sinis.
"Hhaaaa kamu pikir aku ini bodoh, Leon! kami berdua akan mencincang tubuhmu sekarang juga! karena semua anak buahmu sudah bertekuk lutut pada kami! bahkan mereka bersedia menjadi pengikut kami, karena mereka tak ingin mati konyol dengan bertahan mengikutimu!" ucap Ola lantang.
"Ola, biar aku yang urus tua bangka ini karena aku ingi membalas sakit hsyiu atas meninggalnya orang tuaku dulu!" ucap Faisal.
"Baiklah, urus saja dia dan jangan beri dia ampun! karena orang seperti dia memang pantas untuk mati!" ucap Ola berlalu pergi dan memberikan perintah pada seluruh anak buahnya untuk segera meninggalkan markas besar milik Leon.
"Kamu bisa bunuh aku, tapi akan ada orang yang membalaskan dendam atas kematianku! lakukan saja sekarang, aku tidak takut mati olehmu!" tantang Leon tersenyum sinis.
"Baiklah jika begitu, ini justru memudahkan aku untuk membunuhmu saat ini juga! aku yakin dengan kematianmu itu, akan membuat mendiang orang tuaku tenang di alam sana."
"Dor Dor Dor"
Faisal menembak pelipis Leon tiga kali hingga darah berhamburan di mana-mana.
Sementara baju hantam antara anak buah Leon dan anak buah Faisal seta anak buah Ola telah berakhir. Karena para anak buah Leone menyerahkan diri. Mereka tak ingin mati sia-sia.
Setelah Faisal berhasil membunuh Leon, saat itu juga dia melempar tembak yang ada di tangannya ke arah mayat Leon. Dia memerintahkan seluruh anak buahnya untuk membakar markas Leon beserta mayat Leon.
Kebakaran pun seolah terjadi di markas besar Leon.
__ADS_1
"Heh, kalian para anak buah Leon! apa kalian yakin akan ikut denganku? menjadi anak buahku?"
Serentak menjawab iya, hingga saat itu juga seluruh anak buah Leon ikut ke markas Faisal.
Sementara Ola yang mendengar kabar kematian Leon dari panggilan telepon oleh Faisal, merasa senang.
"Hem, hebat kamu Ola. Tak perlu kamu kotori tanganmu itu, untuk membunuh Leon. Sudah ada yang membalaskan dendammu itu. Aku puas markas besar Leon sudah di bakar habis, dan Leon juga mati tanpa aku bersusah payah sedikitpun."
"Hahahaha terima kasih ya Faisal. Secara tidak langsung di samping kamu membalaskan dendammu sendiri, kamu juga telah membalaskan dendam aku hingga aku tak perlu bersusah payah dan tak usah bekerja keras."
Ada rasa puas di dalam diri Ola sejak kenal Faisal. Tapi dia sampai detik ini beum bisa membalas rasa cinta Faisal padanya. Entah apa yang membuat Ola itu terlalu dingin pada, Faisal.
*******
Beberapa hari setelah kematian Leon, kembali lagi Faisal mengungkapkan rasa cintanya pada Ola tanpa ada rasa sungkan sedikitpun Faisal memang pria yang pemberani dan tak pantang menyerah.
"Ola, bagaimana dengan pernyataan cintaku padamu? apa kamu sudah bisa menerima cintaku ini? jika kita bisa bersama, kekuatan kita akan semakin besar," ucap Faisal menatap serius pada Ola.
"Memangnya aku harus menjawab sekarang ya? apa kamu sudah tak sabar lagi ingin punya pendamping?" Ola bukannya menjawab pertanyaan dari Faisal, dia malah justru bertanya balik padanya.
"Jika kamu maunya kita langsung menikah ya Ayuk aku mau," ucap Faisal dengan antusias.
"Tapi aku belum siap untuk menjadi seorang istri apa lagi seorang ibu. Karena pada dasarnya aku seorang wanita yang tak mau hidupku terkekang dengan adanya sebuah pernikahan," ucap Ola sekenanya.
"Bagaimana kalau kita pacaran saja dulu, aku mau kok. Aku takkan memaksa untuk kita secepatnya menikah," ucap Faisal membujuk Ola.
Sejenak Ola hanya diam, ia seolah sedang berpikir dengan tawaran dari Faisal tersebut.
__ADS_1
"Hem, apa yang harus aku lakukan? apa aku terima Faisal menjadi kekasihku ataukah tidak ya?" batin Ola bingung.