
Sejak saat adanya Ridwan, Rani hanya sesekali mengecek kesehatan Olive. Rani percaya sepenuhnya pada, Ridwan.
"Dokter Ridwan, saya serahkan sepenuhnya pasien Olive pada anda ya. Karena saya ada urusan di luar negeri yang tak bisa di wakilkan," ucapnya.
"Baiklah, Dokter Rani. Hati-hati ya di jalan, jangan lupa mengirim kabar."
Rani juga tak lupa berpamitan pada Ola, karena dia merupakan sahabat baiknya.
Beberapa jam kemudian, Ola juga meminta izin pada Dokter Ridwan untuk mempertemukan Olive dengan anaknya.
"Oh iya, dok. Saya minta izin ya, untuk mempertemukan Olive dengan anaknya. Tapi ada satu hal yang perlu dokter ketahui, jika suatu saat nanti dokter berhadapan dengan, Rere. Jangan mengatakan kalau yang sedang sakit adalah Olive tetapi katakan saja itu saya," ucap Ola.
"Tenang saja, Rani sudah cerita semuanya kok. Kamu tak perlu khawatir akan hal itu," ucap Dokter Ridwan.
Saat itu juga Ola mempertemukan Olive dengan Rere.
"Tante, sudah sembuh? Rere senang dech akhirnya Tante Ola sudah sadar dan semoga lekas bisa jalan ya, Tante. Supaya kita bisa berlibur bersama aku dan mamah. Ih sepertinya seru dech, Tante. Jika aku bisa berlibur dengan Tante juga yang wajahnya mirip sekali dengan, mamah," ucapnya riang.
"Iya, Rere. Doakan mamah eh Tante supaya lekas sembuh ya, supaya kita bisa lekas berlibur bersama," ucap Olive menahan rasa haru.
"Ini semua gara-gara, Mas Azka! sampai kapanpun aku takkan memaafkan dia dan Mela. Aku sangat senang pada saat tahu jika saat ini Mas Azka ada di dalam penjara. Akan tetapi aku masih penasaran dengan kondisi Mela," batin Olive menggerutu.
Sementara Olive bercengkrama dengan Rere, Ola menunggu di luar ruangan bersama dengan, Dokter Ridwan.
Tak hentinya Dokter Ridwan memandang Ola begitu seksama. Yang di pandang tatapan matanya entah ke arah mana. Akan tetapi pada saat Ola berpaling ke arahnya, barulah Dokter Ridwan berpaling karena tak ingin ketahuan telah memandang Ola.
"Dok, kenapa tadi memandang saya terus? sebenarnya ada apa ya?" tanya Ola penasaran.
"Saya nggak memandang kamu kok. geer amat sih?" ucapnya menutupi rasa gugupnya.
Ola melirik sinis pada Dokter Ridwan, seraya berlalu pergi dari hadapannya.
"Hem, satu rupa tapi dia sifat yang berbeda. Satunya lembut yang satu terlihat galak, tetapi kenapa dia bisa berperan menjadi Olive? padahal bertolak belakang dengan sifat aslinya," batin sang dokter.
********
__ADS_1
"Olive, saya akan memeriksa kakimu ya? untuk mengetahui apakah memang cedera kakimu ringan atau parah," ucap Dokter Ridwan.
"Dok, tolong jangan panggil nama asli saya. Karena saya khawatir Rere tahu akan hal ini," tegur Olive lirih.
"Baiklah, Ola. Maafkan saya ya,"
"Maaf ya, saya akan periksa kakimu."
Dokter Ridwan menyingkap celana kain yang menutupi kaki Olive.
Salah satu kakinya ia pegangan dan urut perlahan-lahan tetapi Olive berteriak kesakitan.
"Aahhh...sakit..dok" rintihnya.
"Kamu masih bisa merasakan rasa sakit, berarti kakimu masih bisa di sembuhkan dan kamu akan segera bisa berjalan lagi. Tetapi jika kakimu sama sekali tak merasakan apapun, itu tandanya kakimu sudah mati rasa," ucap Dokter Ridwan.
"Aku akan melemaskan otot-otot kakimu, jika kamu merasakan sakit tolong di tahan sebentar ya?"
Olive hanya mengangguk seraya tersenyum kecil pada sang dokter. Saat itu juga dokter kembali mengurut dua kaki Olive secara bergantian. Sesekali Olive berteriak kesakitan hingga terdengar sampai ke penjuru ruangan.
"Tante Ola .. kenapa?"
"Tante nggak kenapa-kenapa, sayang. Tante sedang jalani terapi kaki supaya lekas bisa jalan," ucap Olive.
"Oohh..aku pikir Tante jatuh. Semoga lekas sembuh dan cepat bisa jalan lagi ya, Tante."
Rere pun berlalu pergi begitu saja setelah tahu apa yang membuat Olive berteriak.
"Amin..."
"Coba kamu angkat satu persatu kakimu, dan gerakan secara perlahan satu persatu pula," pinta Dokter Ridwan.
Olive menuruti kemauan Dokter Ridwan. Perlahan dia mencoba mengangkat kaki yang kanan terlebjh dahulu lalu dia gerakan perlahan sesuai arahan sang dokter. Lantas dia juga melakukan hal yang sama pada kaki kirinya.
"Bagaimana rasanya, apakah sudah tersa ringan pada saat di angkat atau masih terasa ada suaru beban sehingga susah untuk di angkat?" tanya Dokter Ridwan penasaran.
__ADS_1
"Sudah enakan, dok. Diangkat sudah ringan tidak seperti tadi," ucap Olive.
"Syukurlah, dengan begitu sebentar lagi kamu akan bisa berjalan dengan normal lagi," ucap Dokter Ridwan meyakinkan Olive.
Sementara saat ini Ola sedang kembali ke markasnya karena ada seseorang yang kembali ingi bertemu dengannya. Seseorang yang waktu itu gagal bertemu dengan, Ola.
"Bos, itu orang yang waktu itu mau ketemu bos tetapi tidak bertemu."
Brian menunjuk ke arah pria yang sedang membelakangi tubuh Ola dan dirinya.
"Baiklah, terima kasih."
"Maaf, siapa anda dan ada maksud apa ingin menemui saya?" tanya Ola merasa penasaran pada wajah pria tersebut.
Pria itu pun membalikkan tubuhnya dan menatap seraya tersenyum ke arah Ola.
"Kamu?" Ola terperangah melihat wajah pria itu.
"Iya ini aku, kamu masih ingat kan siapa aku?" tanyanya riang.
Iya, aku ingat sekali. Kamu pria yang telah membeli perusahaan lama, Azka kan?" ucap Ola.
Iya, dan aku sudah tahu siapa kamu dan apa saja kegiatanmu selama ini. Aku juga tahu kalau kamu ini memilki saudara kembar yang ternyata adalah istri Azka," ucap pria itu.
"Lantas jika kamu sudah tahu tentang aku, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Olive penasaran.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan membongkar penyamaranmu pada siapa pun. Justru aku akan mendukung tentang niat baikmu itu pada saudara kembarmu," ucap pria tersebut.
"Aku tak perlu bantuanmu , karena aku sudah berhasil membalaskan dendam pada suami saudara kembarku. Jadi kamu tak perlu bersusah payah ingin bantu aku. Tanpa bantuanmu saja, aku dengan mudah menyingkirkan Azka," ucap Ola lantang.
"Kamu yakin, kamu tak tahu jika ada yang lebih bahaya dari, Azka. Yakni wanita yang bersama dengan, Azka?" ucap pria itu.
"Maksudmu, Mela? dia tak akan menggangu Olive lagi, sudahlah kamu tak usah lagi turut campur urusan pribadi aku dan saudara kembarku. Aku yakin bisa kok menghadapi semuanya. Pergilah jika sudah tak ada lagi yang ingin di bicarakan karena aku masih banyak urusan yang lain!" usir Ola pada pria tersebut.
"Baiklah, Ola. Aku akan pergi, tapi suatu saat nanti kamu pasti akan butuh bantuan dariku."
__ADS_1
Ucapnya seraya tersenyum dan melangkah pergi begitu saja.
"Ola, aku akan mendapatkan hatimu. Karena sejak awal aku sudah cinta padamu. Sejak aku pertama kali melihatmu," batin pria tersebut.