Balas Dendam Saudara Kembar

Balas Dendam Saudara Kembar
Tertangkap


__ADS_3

Lambat Laun, Mela tak bisa menahan rasa gatal yang ada di wajahnya dan kerap kali dia pun menggaruknya begitu saja. Dia tak sadar jika garukan tangannya membuat wajahnya terluka dan banyak sekali luka sayatan kuku panjangnya yang suka menggaruk kulit wajahnya.


Mela terhenyak kaget pada saat dia bercermin baru sadar jika garukan yang suka sekali dia lakukan malah menambah parah luka di wajahnya.


"Astaga, kenapa wajahku jadi seperti ini. Ya ampun jelek sekali sih, kemarin padahal cuma memerah saja tetapi kenapa ini penuh dengan cakaran tanganku sendiri?"


Mela memutuskan untuk ke dokter spesialis kulit lagi. Dan kali ini dia mendapatkan salep untuk wajah nya. Tetapi pada saat salep itu di gunakan, bukannya luka menjadi sembuh, melainkan malah bertambah parah yakni luka nya terlihat basah dan mengeluarkan bau anyir tak sedap.


"Astaga, bagaimana ini? jika wajahku jelek seperti ini dan mengeluarkan bau lantas bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku ini?" batin Mela mulai panik.


Dia pun berobat ke sana kemari tetapi tak jua kunjung sembuh. Padahal semua tabungan sudah habis untuk biaya pengobatan. Bahkan pada saat dia keluar rumah tidak ada satupun yang mau mendekat padanya karena bau anyir dari wajahnya yang rusak.


"Aku harus bagaimana, jika sudah seperti ini? tak bisa beraktivitas sama sekali, lantas aku bisa apa?"


Tiap hari yang ada dia hanya berkeluh kesah saja, tanpa bisa melakukan pergerakan apa pun. Rasa putus asa mulai mendera dalam hidupnya. Hidup enggan mati pun tak mau.


Hingga pada akhirnya, beberapa hari kemudian gempar warga setempat di mana bau tak sedap menyengat tercium dari rumah Mela. Dan para warga pun memberanikan diri untuk mendatangi rumah Mela tersebut.


"Uh, bau busuk apa ini? menyengat sekali."


"Iya, sepertinya sumber bau tercium dari rumah itu."


"Sebaiknya kita lapor pak RT saja untuk memeriksa rumah Non Ela."


Setelah mendapatkan kesepakatan, beberapa warga pun melapor ke Pak RT. Dan saat itu juga pak RT di dampingi beberapa warga menyambangi rumah Mela.


"Ting tong ting tong"

__ADS_1


Bel di pencet akan tetapi tidak ada satupun yang keluar dari rumah tersebut.


"Ting tong ting tong"


Kembali lagi salah satu warga memencet bel tersebut, akan tetapi kembali lagi tak terdengar satu pun langkah kaki untuk membukakan pintu.


Salah satu warga penasaran dia pun mengitari rumah dan melihat salah satu kaca jendela yang ada di samping rumah. Dan dia begitu terperangah pada saat melihat seseorang tergeletak di lantai.


"Pak RT, ada yang tergeletak di lantai ruang tengah," lapor warga yang sempat melihatnya.


"Jika begitu sebaiknya kita melaporkan kejadian ini pada pihak polisi. Kita jangan bertindak ceroboh karena nanti kita yang bisa di jadikan tertuduh," ucap pak RT.


Saat itu juga Pak RT menelpon aparat kepolisian untuk datang ke lokasi. Hanya beberapa menit saja, datanglah beberapa aparat polisi. Dan segera mereka mendobrak pintu rumah Mela.


Bau tak sedap semakin keluar ruangan pada saat pintu rumah sudah terbuka. Semua warga dan aparat kepolisian menutup hidungnya. Bahkan ada yang tak kuat dengan bau tersebut hingga dia muntah dan akhirnya salah satu warga itupun berlari menjauh dari rumah Mela.


Aparat kepolisian dan warga segera menghampiri seseorang yang tergeletak di lantai ruang tengah yang sempat di lihat oleh warga tadi lewat kaca jendela.


Pada saat salah satu aparat kepolisian memeriksa nadinya, ternyata Mela sudah tidak bernyawa. Aparat kepolisian langsung membawa Mela ke rumah sakit untuk di otopsi terlebih dahulu. Sementara di sekitar rumah Mela di tandai dengan garis kuning dari pihak kepolisian.


Setelah beberapa jam lamanya, hasil otopsi tidak ditemukan sebuah tindak kekerasan. Justru almarhumah meniggal karena bunuh diri dengan menenggak racun serangga. Mela melakukan itu karena dia sudah putus asa dengan hidupnya dimana luka wajahnya bukannya sembuh melainkan bertambah parah.


"Rumah itu kenapa ada garis polisi?" batin Ola pada saat tak sengaja melintas sebuah rumah yang ada tanda garis polisi.


Entah kenapa rasa ingin tahunya begitu besar, hingga ia memutuskan untuk bertanya pada salah satu warga. Setelah dia mendapatkan informasi yang akurat, dia pun sudah tak penasaran lagi.


"Hem, putus asa lalu bunuh diri. Tindakan yang bagus untuk orang yang memang sudah tak layak hidup. Lagi pula jika mendengar cerita dari warga ada benarnya juga wanita itu melakukan bunuh diri. Dari pada hidup menderita dengan menanggung luka di wajahnya yang tak mungkin bisa sembuh, memang jalan yang tepat ya mati," batin Ola terkekeh.

__ADS_1


Dia pun melanjutkan perjalanannya lagi ke markasnya yang baru. Karena dia sudah kembali dari luar negeri, setelah dia tahu jika dirinya hanya di tipu oleh seseorang yang mengaku ingin bekerjasama dengan dirinya.


Namun di saat dia sedang asik mengemudi, dia di hadang oleh beberapa pengendara mobil. Dia di pepet mobil dari samping kanan dan kiri dan juga depan belakang.


"Sialan, siapa mereka? kenapa perasaan aku menjadi tak enak seperti ini?" batin Ola.


Kebetulan saat ini dia sama sekali tak bersama dengan anak buahnya. Dia hanya pergi seorang diri.


Semua orang yang ada di dalam mobil tersebut keluar dan mengepung mobil Ola. Salah satu mengetuk pintu mobilnya dan meminta supaya Ola lekas keluar.


"Ola, cepat kamu keluar sekarang juga! jika tidak mobilmu dan dirimu sekalian akan aku hancurkan!" bentaknya memberikan sebuah ancaman.


"Sialan, bagaimana si tua


bangka Leon bisa ada di sini?" batin Ola pada saat dia tahu siapa yang berkata lantang.


Saat ini Ola di posisi terjepit karena dia hanya seorang diri. Sementara Leon mengepung Ola dengan membawa berpuluh-puluh anak buahnya.


"Aku harus cari bantuan jika begini, tapi bagaimana caranya?" batin Ola terus saja berpikir untuk mencari cara.


Dia pun lekas mengirim pesan kilat pada Brian. Lantas dia sengaja menyalakan panggilan telepon dan menyembunyikan ponselnya dalam saku celananya. Dia sengaja menelpon supaya Brian bisa melacak keberadaan dirinya saat ini.


Ola keluar dari mobil dengan mencoba untuk tidak panik.


"Heh, Om Leon. Sudah sejak lama aku ingin bertemu Om, dan akhirnya kita bertemu juga," ucap Ola mencoba untuk bersikap tenang.


"Tak usah berbasa basi, kamu pikir aku akan berbaik hati padamu!" bentak Leon pada Ola.

__ADS_1


Pada saat Ola akan mendekati Leon untuk menyandera dirinya. Tiba-tiba kedua tangannya di cekal paksa oleh dua anak buah Leon.


"Bawa dia sekarang juga ke markas!" perintahnya lantang.


__ADS_2