
Beberapa bulan kemudian, Olive melahirkan seorang anak laki-laki. Ini adalah suatu hal yang menggembirakan bagi Olive dan Dokter Ridwan.
Tiada kata yang tak terucap, hanya linangan air mata Olive.
"Selamat ya, Olive-Dokter Ridwan. Atas lahirnya putra kalian. Genap sudah anak kalian yakni wanita dan pria," ucap Ola dengan antusiasnya menggendong bayi Olive.
"Ola, kamu sudah pantas untuk menggendong seorang anak," ucap Olive lirih.
"Hem, mulai lagi dech. Apa nggak bosan sesekali kamu itu menggodaku?" tanya Ola manyun lantas meletakkan baby-nya ke keranjang bayi.
"Aku kan ingin melihat kebahagiaan juga pada hidupmu, Ola."
'Bahagia itu tak harus punya suami dan anak saja. Tanpa itu semua aku juga sudah bahagia. Sebenarnya bagaimana kitanya saja dalam mendefinisikan kata bahagia," ucap Ola.
'Ya sudah dech, terserah kamu saja. Aku tak akan berkata lagi tentang pernikahan. Semoga saja secepatnya kamu bisa berubah pikiran," ucap Olive.
Dia sudah menyerah untuk menasehati Ola, karena baginya sudah tidak ada harapan lagi segala nasehatnya bakal di turuti oleh Ola.
"Faisal, aku minta maaf ya. Aku sudah menyerah untuk membantu membujuk Ola supaya mau lekas menikah," batin Olive.
Rasa bahagia yang kini sedang di rasakan oleh Olive dan Dokter Ridwan mendadak sirna, karena suatu permasalahan yang sangat mengguncang kejiwaan Olive.
Pada saat tengah malam dimana hujan lebat sekali, terjadi suatu tragedi. Ada seseorang memakai jubah hitam dengan pakaian yang serba tertutup masuk ke ruang rawat pasca bersalin, Olive.
"Heh, siapa kamu!" hardik Olive yang tak sengaja terjaga pada malam itu, melihat seseorang masuk ke ruangannya.
Sementara pada malam itu kebetulan Dokter Ridwan ada sebuah tugas dari rumah sakit tempatnya praktek. Dimana ada pasien yang harus segera di tangani saat itu juga.
Kondisi Olive masih lemah dan di tangannya masih terpasang selang infus. Hingga ia tak bisa bangkit begitu saja.
Orang yang memakai jubah tersebut sama sekali tak menghiraukan pertanyaan dari Olive, ia malah mengambil bayinya dan langsung membawanya kabur.
Olive sudah berkali-kali memencet tombol yang ada di atas kepalanya akan tetapi tak juga datang perawat. Ia pun melepas sendiri selang infusnya dan dengan langkah yang tertatih berusaha mengejar penculik bayinya.
__ADS_1
"Tolongg......suster...."
Sepanjang langkahnya ia memanggil perawat tetapi tidak ada satupun yang datang. Teriakan Olive tertutup oleh suara deru air hujan yang begitu lebatnya.
Olive terjatuh di lantai bangsal rumah sakit, dan pada akhirnya ia sudah tak kuat lagi untuk melangkah. Darah mengucur dari tangan yang infusnya ia lepas secara paksa.
Beberapa saat barulah datang perawat yang melintas, ia pun lekas menolong Olive saat itu juga. Dan langsung menelpon Dokter Ridwan.
Karena kebetulan Dokter Ridwan bukan bertugas praktek di rumah saja yang saat ini terdapat Olive di rawat inap.
Kring kring kring kring
Satu panggilan telpon pada nomor ponsel Dokter Ridwan, akan tetapi tak juga di angkat karena memang saat itu dirinya sedang menangani seorang pasien. Sedangkan ponsel ia letakkan di ruang kerjanya di dalam sebuah nakas.
"Haduh, bagaimana ini? Dokter Ridwan tidak juga mengangkat telponku. Sebaiknya aku kirim chat pesan saja jika seperti ini."
Saat itu juga perawat tersebut mengirim chat pesan pada nomor telepon Dokter Ridwan.
[Maaf, dok. Istri anda barusan pingsan dan hingga saat ini belum sadarkan diri. Kami menemukan istri anda tergeletak di bangsal rumah sakit.]
Awalnya sang dokter hanya iseng ingin melihat jam pada ponselnya karena kebetulan ia tak mengenakan jam tangan.
"Tengah malam seperti ini kok ada notifikasi chat pesan masuk dan juga beberapa panggilan telepon? dari siapa ya?"
Rasa penasaran itu yang membuat Dokter Ridwan membuka panggilan telepon terjawab dan satu notifikasi chat pesan.
Pada saat ia membaca
nya, ia terperangah. Dan langsung saja berlari kecil meninggalkan ruang kerjanya menuju ke parkiran mobilnya. Walaupun hujan masih begitu besar, akan tetapi ia tak peduli karena ia mengkhawatirkan kondisi Olive.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit khusus bersalin, pikirannya terus saja di penuhi dengan tanda tanya.
"Sebenarnya apa yang menyebabkan Olive keluar dari ruang rawatnya hingga sampai di bangsal rumah sakit? pasti ada sesuatu yang terjadi pada dirinya hingga ia nekad pergi dari ruang rawatnya," batin Dokter Ridwan merasa panik.
__ADS_1
Tak berapa lama ia telah sampai rumah sakit khusus bersalin. Dan ia mendapati Olive sudah sadar akan tetapi sedang menangis histeris. Kebetulan ada seorang perawat dan satu dokter yang berusaha menenangkan dirinya.
"Sayang, apa yang yang terjadi? kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Dokter Ridwan akan tetapi Olive tak juga menjawab hanya derairan air matanya saja yang semakin deras.
Hingga akhirnya Dokter Ridwan bertanya pada rekan sesama dokter yang kebetulan ia mengenalnya.
"Miko, ada apa dengan istri saya kenapa dia menjadi seperti ini?" tanyanya cemas.
'Maafkan kami, Ridwan. Atas keteledoran kami, karena sampai kecolongan ada penculik bayi masuk dan berhasil menculik bayimu," ucapnya lirih seraya merasa khawatir akan amarah pada Dokter Ridwan.
"Astaga......bagaimana sih tugasmu? jika seperti ini bagaimana aku bisa menemukan bayiku?" ucap Ridwan rmsanst kesal.
"Kami sedang membantu mencari jejak si penculik bayimu. Jangan khawatir positif thinking saja, bayimu akan segera di temukan," ucap sang dokter mencoba menghibur kepanikan Dokter Ridwan.
"Gampang sekali kamu berucap seperti itu! jika bayiku tidak lekas diketemukan, aku akan melaporkan ketelodaran rumah sakit ini. Dan aku yakin rumah sakit ini akan segera di tutup!"ancam Dokter Ridwan ketus.
Sementara Olive terus saja menangis dan menangis. pada akhirnya Dokter Ridwan menelpon Ola karena ia sudah tak bisa mengatasi kesedihan pada Olive.
Kring kring kring kring kring
Satu panggilan telpon masuk ke dalam ponsel Ola.
"Haduh, siapa sih tengah malam menelpon?" Ola meraih ponselnya yang ada di samping tempat tidurnya dengan mata masih mengantuk.
"Ya ampun ini orang untuk apa menelpon aku di tengah malam? ganggu waktu tidur aku saja!"gumamnya.
Hingga dengan mata masih mengantuk, Ola mengangkat panggilan telpon dari Dokter Ridwan.
"Ada apa sih, dok? tengah malam menelpon aku masih ngantuk nech!"
"Maafkan aku, Ola. Tapi ini sangat penting. Bayi kami di culik orang dan sekarang kondisi Olive sedang tak menentu."
"Astaga bagaimana hal ini bisa terjadi? ya sudah aku akan langsung ke rumah sakit saat ini juga."
__ADS_1
Ola langsung mematikan panggilan telponnya, ia pun melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju rumah sakit bersalin.