
Dokter Ridwan penasaran dengan apa yang dikatakan oleh istrinya mengenai si penelpon tadi.
"Coba kamu ceritakan yang tenang supaya aku bisa mendengarkan dengan seksama karena kamu ceritanya tergesa-gesa sehingga aku sulit mencerna kata-katamu itu," ucap Dokter Ridwan.
"Mas, tadi ada seorang perempuan telepon dan dia mengatakan anak kita ada bersamanya. Dia akan mengembalikan anakku dengan jaminan dirimu," ucap Olive menjelaskan secara perlahan.
"Perempuan itu memintaku untuk melepaskanmu demi dirinya, jika anak aku ingin selamat. Belum juga dia mengatakan siapa dirinya dan di mana dia saat ini berada, panggilan telepon sudah ditutup olehnya," ucap Olive kembali.
"Mas, apa kamu pernah menyakiti seorang wanita sehingga wanita itu bertindak nekad seperti ini?" tanya Olive penasaran.
Sejenak dokter Ridwan diam seolah sedang mengingat sesuatu dan berpikir sesuatu. Tak berapa lama ia pun berkata.
"Aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun, bahkan aku terkenal dengan sikap angkuh dan dinginku. Hampir semua orang tahu akan hal itu, jika tak percaya tanya saja pada semua rekan kerjaku," ucap Dokter Ridwan.
"Lantas kita harus bagaimana untuk bisa menemukan anak kita, Mas?" tanya Olive cemas.
"Begini saja, aku kan bisa melacak keberadaan seseorang lewat panggilan telepon. Untuk sementara waktu beberapa hari ini aku tidak akan bekerja dulu, nanti jikalau perempuan itu menelpon lagi sebisa mungkin kamu memancing dirinya untuk terus berkata supaya aku bisa melacak keberadaannya."
"Nanti jika aku memberi kode dengan mengacungkan satu atau dua ibu jariku berarti aku telah mengetahui lokasi perempuan itu. Tapi jika aku masih diam saja berarti aku belum menemukan lokasinya, kamu paham kan sayang?"
Mendengar ide dari suaminya itu, Olivepun menganggukkan kepalanya , ada sedikit rasa lega karena akan menemukan keberadaan anaknya.
Baru beberapa menit mereka merencanakan hal itu panggilan telepon telah berdering kembali. Dokter Ridwan langsung berlari menuju ke arah ruang kerjanya untuk mengambil alat pendeteksi jaringan untuk melacak keberadaan seseorang yang akan menelpon Olivee.
Setelah Dokter Ridwan datang dengan alatnya, ia pun memberi kode dengan anggukan kepala kepada Olive jika ia telah siap untuk melacak keberadaan si penelpon. Barulah Olive mengangkat panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
"Halo Olive, maaf tadi sambungan telepon terputus. Aku hanya ingin menekankan sekali lagi bahwa jika kamu tidak mau menuruti kemauanku maka anakmu yang akan menjadi korbannya."
"Aku masih belum tahu apa sebenarnya yang kamu inginkan padaku?"
"Aku menginginkan suamimu masa kamu belum paham juga?"
"Aku belum paham apa yang kamu maksud inginkan dari suamiku itu. Coba jelaskan secara mendetail biar aku paham dan tak pertanyaan lagi."
"Dasar wanita bodoh, masa hal seperti itu saja dirimu tak tahu! intinya aku ingin kamu bercerai dengan suamimu karena aku ingin suamimu itu menikah denganku."
"Bagaimana aku akan menyerahkan suamiku padamu sedangkan keberadaanmu saja aku tidak tahu saat ini di mana."
Olive sesekali melirik ke arah Dokter Ridwan guna mengetahui apakah dia sudah berhasil mendeteksi di mana saat ini si penelpon berada.
"Aduh, kenapa Mas Ridwan lama sekali dalam melacak keberadaannya. Mulutku udah capek panjang lebar berkata untuk dia terus saja berkata," batin Olive semakin bingung.
Mendengar ancama dari si penelpon tersebut, Olive semakin panik. Ia menoleh ke arah Dokter Ridwan, dan pada saat itu suamiya tersenyum seraya mengacungkan ibu jarinya. Melihat akan hal itu, Olive menghela napas panjang karena merasa lega.
"Baiklah lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Kamu urus surat perceraianmu dengan suamimu, setelah itu barulah nanti aku akan menghubungi lagi jika kamu benar-benar telah berhasil mendapatkan surat cerai tersebut. Aku memberimu waktu tiga hari untuk mengurus surat cerai kalian."
Saat itu juga si penelpon mematikan panggilan telponnya. Sementara Olive langsung berlari ke arah suaminya.
"Mas, apa kamu yakin telah tahu di mana saat ini perempuan itu berada?" tanya Olive masih ragu.
__ADS_1
"Iya, sayang. Kini aku sudah tahu siapa perempuan yang telah menculik anak kita. Aku tahu betul dimana rumahnya berada. Aku akan segera menghubungi salah satu temanku yang bekerja di kepolisian untuk membantuku menangkap perempuan itu saat ini juga."
"Kamu nggak usah ikut ya, di rumah saja menjaga Rere. Dan jangan lupa doakan supaya usahaku lancar agar anak kita bisa kembali pada kita dan perempuan itu segera ditangkap."
Saat itu juga Dokter Ridwan melangkah pergi menuju kantor polisi di mana ada salah satu temannya bekerja di sana. Terlebih dulu ia menelpon temannya tersebut untuk memastikan apakah ia sedang ada di tempat atau tidak. Setelah yakin ada di tempat, Dokter Ridwan melajukan mobilnya.
Tak perlu menunggu waktu lama, ia telah sampai di kantor polisi. Dan langsung di sambut oleh temanya tersebut. Dokter Ridwan mengatakan banyak hal tentang bayinya yang di culik. Dan ia takvlupa menceritakan bahwa ia telah berhasil melacak keberadaan si penculik tersebut.
Saat itu juga sahabat Dokter Ridwan menggunakan pakaian untuk penyamaran beserta beberapa anak buahnya. Karena jika mereka langsung datang dengan pakaian seragam polisi pasti target akan curiga. Hingga mereka menyamar.
Berangkatlah para polisi yang telah menggunakan penyamaran saat itu juga. Dokter Ridwan juga ikut bersamanya. Ia sengaja pura-pura tidak tahu jika perempuan yang telah menjadi rekan kerja nya itu yang telah menculik bayinya.
"Hay Dok, tumben anda kemari? apa ads tugas operasi, tapi kok nggak menelpon saja?" tanya perempuan itu.
"Tidak ada kok, aku kemari hanya ingin memberitahu padamu jika beberapa temanku ini ingin mengadakan sensus penduduk. Ia di tugaskan untuk mencatat setiap rumah demi rumah beserta berapa anggota keluarganya. Dan kebetulan ia bertugas di wilayah perumahan sini," ucap Dokter Ridwan berbohong.
"Oek oek oek" tiba-tiba terdengar tangis bayi yang membuat perempuan ini panik seketika.
"Itu suara bayi siapa? bukannya kamu belum menikah?" tanya Dokter Ridwan pada perempuan ini.
"Itu...anu ...ehh...."
Perempuan ini mulai panik.
Dan di saat panik ini, aparat polisi langst memborgolnya. Dan aparat polisi yang lain mencari keberadaan tangis bayi tersebut bersama dengan Dokter Ridwan.
__ADS_1
"Lepaskan saya, ternyata kalian ini polisi yang menyamar! sialan kenapa pula kalian menangkap saya, apa salah saya?" Perempuan ini terus saja memberontak minta di lepaskan.
"Masih tanya apa salahmu? kamu telah menculik anakku yang baru di lahirkan! aku sama sekali tak menyangka jika kamu itu jahat! aku pikir kamu perempuan yang lemah lembut dan baik!" bentak Dokter Ridwan yang datang dengan menggendong bayinya.