
"Aahhh...kenapa anda melakukan ini pada saya bos?" tanya Pak Bandi seraya merintih kesakitan.
"Masih saja kamu tanya kenapa, kamu masih bisa berpura-pura? diberi upah berapa kamu untuk menjadi kaki tangan si Tua Bangka Leon? kamu tega membakar markas ini sehingga banyak korban bergelimpangan! hukuman yang aku berikan padamu belum seberapa dibanding dengan para korban kebakaran markas ini!" bentak Ola ketus.
"Saya sama sekali tak melakukan apapun bos. Atas dasar apa anda menuduh saya yang membakar markas ini?" Bandi masih saja mengelak.
Ola pun memperlihatkan rekaman video yang diberikan oleh Brian padanya. Seketika itu juga wajah Pak Bandi berubah menjadi pucat pasi dia pun gemetaran panik serta ketakutan.
"Brian, bereskan Pak Bandi! singkirkan dia dari hadapanku dan untuk kalian tolong bersihkan kekacauan ini. Untuk sementara waktu kita akan pindah ke tempat lain yang sudah aku siapkan untuk menjadi sebuah markas kita."
"Kalian harus ingat baik-baik jika di antara kalian ada yang berkhianat seperti Pak Bandi aku tidak akan segan-segan memberinya hukuman bahkan akan lebih parah dari tadi!"
Semua anak buah Ola tertunduk ngeri setelah melihat kekejaman bos mereka yang tak segan menembak begitu saja, Pak Bandi.
Mereka sama sekali tak berani untuk berkhianat dengan bos mereka.
Setelah semua kekacauan telah dibersihkan semua anak buahnya mengikuti Ola ke markas yang baru. Untuk sementara waktu markas yang lama di biarkan saja. Apalagi musuh besar Ola yakni Tuan Leon telah mengetahui keberadaan markas lamanya.
"Untung saja aku punya sebuah rumah lagi bisa aku jadikan markas sementara. Aku akan mencari tempat yang tersembunyi supaya Si Tua Bangka Leon tidak bisa menemukan markasku lagi!"
"Dan aku juga tidak akan membiarkan semua ini. Aku juga akan menyerang balik markas mereka. Hem, tapi Leon sudah pindah markasnya dan aku tak tahu dimana letaknya. Oh iya, aku akan menelpon Faisal guna mengucapkan terima kasih padanya."
Saat itu juga Ola menelpon Faisal.
Kring kring kring kring
__ADS_1
Panggilan telpon berdering pada ponsel Faisal. Dia begitu senang pada saat tahu siapa yang telah menelpon dirinya.
"Halo, Ola. Ada apa?"
"Aku ingin mengucapkan terima kasih atas informasi darimu, aku jadi tahu ada pengkhianat di dalam markas. Dan sudah langsung aku atasi."
"Syukurlah kalau begitu, aku turut senang. Aku tahu saat ini kamu tak fokus dengan markasmu karena kamu sedang mengurus perusahaan Olive."
"Iya benar sekali, seperti ini aku jadi harus mencari markas baru yang tidak di ketahui oleh si tua bangka Leon. Untuk sementara waktu aku memakai sebuah rumah yang tak begitu besar."
"Ola, aku mempunyai sebuah apartemen yang cukup strategis bisa kamu gunakan untuk dijadikan markas. Dan aku pastikan tempat ini tidak akan bisa diketahui oleh si Leon lagi. Jika kamu mau akan aku berikan apartement ini untuk kamu jadikan sebagai markas."
"Tidak tidak usah, Faisal. Aku tidak ingin merepotkanmu, aku sudah cukup berterima kasih karena kamu telah membantuku menguak si penghianat yang ada di dalam markasku. Aku juga akan menyusun rencana untuk membalas dendam pada si tua bangka Leon, karena kebakaran itu banyak anak buahku yang menjadi korban."
"Kamu tidak usah sungkan padaku, perlu kamu ketahui dari dulu aku itu berteman baik dengan almarhum papahmu. Makanya aku mengenal dirimu, jika ada waktu kita ketemu dan berbicara supaya kamu mengerti aku lebih dekat lagi dan tidak mencurigai aku dengan hal-hal yang negatif."
Saat itu juga panggilan telepon di matikan oleh kedua belah pihak dan Ola langsung bersiap-siap untuk menemui Faisal. Di lain tempat, Faisal juga sangat senang dan antusias akan bertemu dengan Ola.
Tak berapa lama mereka bertemu di sebuah cafe yang telah mereka tentukan tadi pada saat mereka bercengkrama di panggilan telepon.
"Bagaimana kamu mengenal almarhum papahku?" Ola langsung bertanya karena dia bukan tipe wanita yang suka basa-basi, ia tipe wanita yang apa adanya dan langsung pada pokok pembicaraan.
"Pada awalnya aku melihatmu aku sama sekali tak mengira kalau kamu adalah anak dari almarhum Om Edward."
"Lalu aku meminta beberapa anak buahku untuk menyelidiki siapakah dirimu sebenarnya dan pada saat aku mengetahui kamu adalah anak dari almarhum Om Edward aku begitu antusias ingin lebih dekat lagi mengenal dirimu."
__ADS_1
"Almarhum Om Edward adalah salah satu orang yang sangat berjasa dalam kehidupanku dahulu. Dia yang telah menolongku pada saat aku akan dibunuh oleh anak buah Leon."
"Orang tuaku tewas mengenaskan oleh si tua bangka Leon karena suatu perselisihan dan dia sempat ingin membunuhku tetapi aku berhasil diselamatkan oleh almarhum papahmu."
"Lantas papahmu menyembunyikanku tempat yang aman yang tak bisa dijangkau oleh situa Bangka Leon."
"Waktu itu, keluargamu masih utuh belum terpecah belah. Orang tuamu berpisah itu juga karena si Tua Bangka Leon."
"Aku dulu di rawat juga oleh almarhum Papahmu, hingga satu tahun kemudian aku di bawa pulang oleh saudara dari keluarga almarhum papahku."
"Semenjak itu aku hilang kontak dengan almarhum Papahmu. Karena aku di bawa ke luar negeri supaya aku terhindar dari kejaran anak buah Leon."
"Setelah dewasa barulah aku datang kemari untuk membalas dendam pada Leon atas meninggalnya orang tuaku."
"Profesi aku di luar negeri seorang mafia seperti dirimu. Di sini aku sengaja membeli sebuah perusahaan yang ternyata milik Azka, untuk menutupi profesiku itu."
"Ini aku bawa bukti semua foto kebersamaanku bersama dengan almarhum papahmu. Dan aku juga menyimpan foto masa lalu keluarga mu."
Faisal menyerahkan semua bukti bahwa dirinya benar-benar mengenal almarhum beberapa foto peninggalan zaman dahulu di kala dirinya masih bersama almarhum Edward dan foto keluarga pada saat Ola dan Olive masih kecil.
Sejenak Ola melihat-lihat foto tersebut barulah dia benar-benar percaya kalau Faisal memang kenal dengan almarhum papahnya.
"Berarti secara tidak langsung musuh kita adalah sama yakni si tua bangka Leon?" tanya Ola untuk memastikan.
"Iya Ola, jika perlu aku ingin bekerja sama denganmu untuk menghancurkan Leon. Karena kekuasaan dia di mana-mana dan sampai detik ini aku juga belum menemukan titik terang di mana tempat persembunyian dia," ucap Faisal.
__ADS_1
"Aku pikir kamu telah mengetahui tempat persembunyiannya karena aku sempat ingin bertanya padamu. Aku ingin melakukan aksi balas dendamku padanya yang telah membakar markas ku hingga banyak korban dari anak buahku yang harus masuk dalam rumah sakit," ucap Ola seraya mengepalkan tinjunya.