
Tak berapa lama Ola telah sampai di rumah sakit khusus bersalin, ia pun langsung berlari menuju ke ruang rawat Olive.
Ola merasa iba melihat Olive terus saja menangis histeris karena anaknya yang di culik.
"Olive, aku minta kamu tenangkan dirimu. Aku pasti akan menemukan keberadaan anakmu itu, jadi kamu berusahalah untuk tidak seperti ini," ucap Ola berusaha menghibur Olive.
"Kamu bilang tenang? aku melihat sendiri penculiknya membawa lari anakku. Aku khawatir dengan kondisi anakku,"ucap Olive sesenggukan.
"Olive, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Jadi kamu jangan begitu bersedih seperti ini, percaya dan positif thinking jika saat ini kondisi anakmu baik-baik saja. Penculiknya tidak akan menyakiti bayi mungil yang tak berdosa,' hibur Ola pada Olive.
"Kamu bisa berkata seperti itu karena kamu belum pernah merasakan menjadi seorang ibu!"
Olive malah terus marah pada Ola, sehingga Ola susah untuk mengajak komunikasi Olive. Hingga akhirnya Ola menghampiri Dokter Ridwan.
"Dok, kejadian bagaimana kok bisa kecolongan seperti ini? masa iya pihak rumah sakit tidak punya security dan apakah pada saat Olive minta tolong tidak ada yang menolong?" tanya Ola menyelidik.
"Entahlah, ini salahku juga tidak minta tolong dirimu pada saat aku tiba-tiba ada tugas operasi di rumah sakit. Aku begitu saja meninggalkan Olive sendirian."
Dokter Ridwan merasa sangat bersalah dengan kejadian penculikan terhadap anaknya ini.
"Sudahlah, dok. Semua ini musibah. Aku akan minta rekaman CCTV waktu kejadian penculikan semoga saja ada jejak untuk bisa menangkap si pelakunya."
Saat itu juga Ola melangkah ke ruangan khusus dokter untuk menanyakan siapa yang bertugas mengatur CCTV di rumah sakit tersebut.
"Tok tok tok"
Ola mengetuk ruangan dokter.
"Silahkan masuk, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu dokter wanita.
__ADS_1
"Begini dok, saya ingin melihat rekaman video CCTV yang ada di ruangan saudara kembar saya. Dimana telah terjadi penculikan terhadap bayinya," ucap Ola.
"Maaf, nona. Kasus ini sedang di tangani oleh pihak yang berwajib," ucap dokter.
"Dok, jadi saya di larang untuk melihat rekaman video CCTV tersebut? saya ini saudara kembar si korban loh! yang di culik itu adalah keponakan saya. Saya ingin ikut menyelidiki juga, karena supaya lekas di temukan pelaku. Jika hanya mengandalkan aparat kepolisian belum tentu langsung ketemu pelakunya! haduhhhh, seharusnya aku juga bisa melaporkan hal ini dengan kasus keteledoran pihak rumah sakit!" Ola sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya.
"Baiklah, saya akan laporkan rumah sakit ini supaya mendapatkan sanksi dengan izin buka prakteknya di cabut dan rumah sakit ini di tutup. Saya juga bisa menyebarkan kejar buruk yang menimpa saudara kembar saya di akan sosial media saya. Supaya tidak ada lagi pasien yang mau datang ke rumah sakit ini!"
Ancaman demi ancaman dilontarkan oleh dia, sengaja melakukan hal itu supaya pihak rumah sakit bersedia memperlihatkan rekaman CCTV yang ada di ruang rawat Olive.
Hingga pada akhirnya Ola berhasil mendapatkan rekaman video CCTV tersebut.
"Niat baik saja dipersulit harus dengan beribu ancaman baru diberikan dan diizinkan untuk mengecek sendiri video rekaman CCTV di ruangan Olive, dasar orang-orang di rumah sakit ini begitu lambat otaknya!" batin Ola.
Saat itu juga Ola dengan teliti mengecek rekaman video CCTV tersebut.
Begitu teliti begitu seksamanya Ola dalam meneliti video CCTV tersebut namun ia tidak menemukan bukti yang kuat karena penculiknya mengenakan pakaian serba hitam.
Dia benar-benar tak menemukan jejak sedikitpun dari rekaman video CCTV tersebut. Berkali-kali ia mengulang dalam memutar video CCTV tersebut. Tetap saja tak ada petunjuk yang di dapat oleh Ola.
"Aaahhhh ..siapa sebenarnya yang telah menculik keponakanku? kenapa pula harus keponakanku yang di culik seperti ini?" batin Ola sangat kesal.
Ia pun kembali ke ruang rawat Olive, di sambut oleh Dokter Ridwan.
"Bagaimana, Ola? apa kamu menemukan bukti untuk pelakunya?"' tanya Dokter Ridwan penasaran.
"Maaf, aku tidak menemukan bukti apapun. Hingga susah untuk bisa mengenali pelakunya," ucap Ola lemas.
"Tapi kamu nggak usah khawatir, aku akan terus berusaha mencari keberadaan anak Olive. Sekuat tenagaku ini akan aku cari keponakanku," ucap Ola mencoba menenangkan Dokter Ridwan.
__ADS_1
"Iya, Ola. Aku percaya padamu kok, aku juga tidak akan tinggal diam. Akan menyewa orang untuk mencari anakku," ucap Dokter Ridwan menghela napas panjang.
Sebenarnya Dokter Ridwan merasa putus asa karena pengakuan Ola yang mengatakan bahwa tidak menemukan adanya jejak dari si pelaku penculikan tersebut.
Hanya saja dia berkata seperti itu di depan Ola supaya istrinya tidak begitu bersedih.
"Ya Allah, sekiranya Engkau menunjukkan jalan kebenaran dan mencerahkan pikiran hati kita supaya bisa menemukan keberadaan anakku. Dan lindungilah anakku dimanapun saat ini dia berada supaya selalu diberi kesehatan," doa Dokter Ridwan di dalam hati.
Kesedihan demi kesedihan terus saja dirasakan oleh Ola. Dia tidak bisa berpikir jernih dan tidak mau makan karena dia terus saja memikirkan kondisi anaknya saat ini dia memikirkan dimanakah keberadaan anaknya saat ini.
Hingga pada suatu hari di saat Olive sudah diizinkan pulang ke rumah, tiba-tiba ada panggilan telepon dari seseorang yang tak dikenalnya.
"Hai Olive, pasti saat ini kamu sedang mencari keberadaan anakmu bukan?"
"Pasti kamu ya pelaku yang menculik anakku? Apa sebenarnya tujuanmu menculik anakku tolong kembalikan anakku sekarang juga, karena dia itu masih sangat kecil dia tidak tahu apa-apa!"
"Tenanglah Olive, aku pasti akan mengembalikan anakmu tapi ada syaratnya."
"Katakan saja berapa uang yang kamu inginkan untuk aku bisa mengambil anakku. Pasti kamu menginginkan uang kan untuk menebus anakku?"
"Kamu salah Olive, aku sama sekali tidak menginginkan uangmu tetapi aku menginginkan suamimu."
"Siapakah kamu sebenarnya hingga menginginkan suamiku?"
"Kamu tidak perlu tahu siapa aku Olive, yang terpenting saat ini kamu harus menuruti segala yang aku inginkan supaya anakmu selamat dan kembali ke tanganmu secepatnya."
Saat itu juga panggilan telpon di putus sepihak oleh si penculik, membuat Olive sangat panik dan ia kembali menangis histeris.
"Hallo....heh halo.... cepat katakan apa yang kamu inginkan!"
__ADS_1
"Sayang, ada apa? siapa yang telah menelponmu?" tanya Dokter Ridwan yang berlari kecil dari arah kamar mandi menuju ke ruang tengah di mana Olive telah menerima panggilan telepon pada telpon rumahnya.
"Mas, tadi si penculik anak kita yang menelponnya," ucap Olive menangis histeris.