
Faisal sebenarnya kesal karena dia bicara serius tentang perasaannya tetapi malah di tertawakan oleh Ola. Tetapi dia mencoba untuk tidak marah karena dia benar-benar cinta pada, Ola.
"Ya sudah terserah kamu saja kalau kamu tidak percaya dengan apa yang barusan aku katakan, tetapi aku mengatakan yang sesungguhnya tentang perasaanku ini padamu," ucap Faisal.
Tak berapa lama mereka telah sampai di sebuah apartement milik, Faisal.
"Bagaimana kamu tahu kalau tadi yang menyerang aku adalah anak buah si tua bangka Leon?" tanya Ola merasa penasaran.
"Sulit untuk aku menjelaskan kepadamu, tetapi di negara ini aku juga banyak rekan sesama mafia yang juga memusuhi Leon," ucap Faisal.
Sementara di suatu tempat, Leon merasa kesal karena tak berhasil menyingkirkan Ola.
"Maaf bos, kami gagal karena tiba-tiba ada yang menolong target. Kami di serang bukan hanya oleh satu atau dua orang melainkan banyak," ucap salah satu anak buahnya.
"Dasar bego, seharusnya salah satu dari kalian menghubungi teman yang lain untuk memberikan bantuan bukan malah melarikan diri seperti ini, padahal target sudah ada di depan mata!" bentak Leon.
"Maafkan kami, bos. Kami tak dapat berpikir sama ke situ karena kami panik sehingga kami menyerang balik tapi hanya sebentar lalu kami melarikan diri daripada kami mati sia-sia," ucap salah satu anak buah Leon.
Leon adalah seorang ketua mafia yang sangat kejam mendengar usahanya gagal semua anak buahnya tersebut ditembak mati di tempat olehnya. Hal ini membuat rasa takut pada anak buah yang lain. Kejadian ini terjadi bukan hanya sekali dua kali tapi kerap kali terjadi.
Anak buah Leon yang lain sebenarnya sudah jengah ikut Leon. Dan mereka ingin sekali keluar dari keanggotaan markas Leon. Tetapi mereka tidak pernah bisa karena jika kabur mereka juga akan mendapatkan hukuman mati.
"Kalian lihat kan? itu hukuman bagi para pengecut seperti mereka. Dan perlu kalian ingat satu hal lagi, kalian juga tak bisa keluar dari keanggotaan ini! jika aku lihat salah satu dari kalian melarikan diri, aku juga akan bunuh kalian seperti mereka itu!" ancam Leon seraya berlalu pergi begitu saja.
Sampai detik ini belum ada satupun lawan yang bisa mengalahkan dan menandingi kekuasaan Leon. Termasuk Fasial maupun Ola.
"Hem, licin juga gadis itu! padahal aku sudah tak ingin melihatnya hidup setelah apa yang di lakukan Edward pada kedua anakku! jika bukan karena ia, anakku pasti saat ini masih hidup! hutang nyawa harus dibayar oleh nyawa!"
Untung saja, Leon tak tahu jika Ola mempunyai saudara kembar. Jika ia tahu pasti bahaya akan mengancam Olive dan anaknya.
__ADS_1
Sementara saat ini Olive juga sedang memikirkan perkataan dari Dokter Ridwan.
"Aku ingin minta pendapat dari Ola, tetapi apakah dia sedang bersantai? karena yang aku tahu saat ini Ola sedang ada urusan di luar negeri,' batinnya.
Hingga pada akhirnya, Olive pun sudah tak bisa lagi menahan rasa gundahnya. Dia menelpon Ola.
Kring kring kring kring
Panggilan telepon masuk ponsel Ola.
"Ya Hallo, Olive? ada apa ya, apa ada masalah yang terjadi?"
"Tidak ada, Ola. Oh iya, apakah kamu sedang sibuk?"
"Tidak ada, katakan saja sebenarnya ada apa? jangan membuat aku panik seperti ini."
"Ola, aku minta waktu sejenak ya. Aku saat ini sedang bingung karena mendapatkan pernyataan cinta dari seseorang."
"Bagaimana kamu tahu, Ola?"
"Iya aku tahu lah, walaupun tidak ada yang memberi tahuku. Tapi di lihat dari perilaku dia padamu saja bisa di tebak."
Ola sengaja tak jujur jika dia tahu dari Rani, karena dia tak ingin Olive malu.
"Kamu gelisah, galau, bingung ya?"
"Ya, Ola. Makanya aku telpon kamu. Aku bingung harus putuskan apa."
"Ini kan masalah hati, aku tak bisa memberimu sebuah solusi. Sebaiknya ikuti saja kata hatimu, jika memang dia baik untukmu dan kamu merasa nyaman di sampingnya, terima saja cintanya. Lagi pula jadi ada seseorang yang melindungi kamu dan Rere. Karena aku juga sudah tidak bisa melindungi dirimu."
__ADS_1
"Baiklah, Ola. Terima kasih ya, sudah memberikan sebuah saran. Karena barusan aku bingung harus berkata apa."
"Ya sudah, sekarang kamu tak usah bingung lagi ya. Kamu pasti sekarang sudah bisa memberikan sebuah keputusan kan?"
"Iya, Ola. Aku sudah tahu apa yang akan aku katakan nanti jika Dokter Ridwan bertanya lagi."
"Syukurlah kalau begitu, pesan aku jaga dirimu dan Rere baik-baik karena Mela masih berkeliaran. Aku khawatir dia akan dendam padaku tapi balasnya padamu."
"Baiklah, kamu juga ya hati-hati selalu. Kalau begitu aku sudahi dulu telponnya dan aku tutup ya."
Setelah cukup lama telponan, baik Ola maupun Olive menutup panggilan telepon mereka.
"Lega rasanya aku sudah cerita ke Ola. Tapi dia tahu dari mana tentang hal ini ya? punya saudara kembar tetapi sifatnya sangat misterius," batin Olive.
Olive melanjutkan aktivitasnya kembali, seperti biasanya setiap jam makan siang pasti Dokter Ridwan datang ke kantor Olive untuk mengajaknya makan siang bersama.
"Aku yakin pasti nanti Dokter Ridwan akan tanya lagi padaku tentang apakah jawaban yang akan aku berikan padanya," batin Olive menerka-nerka apa yang nanti akan dikatakan oleh Dokter Ridwan padanya.
"Olive, kita akan makan siang di mana? kemarin kan aku yang memilih tempatnya, biarlah sekarang kamu saja memilih tempat yang sekiranya cocok untuk kita makan siang," tanya Dokter Ridwan.
"Aku nggak masalah makan di manapun ko, Dok. Terserah dokter saja deh di manapun itu aku pasti akan suka dengan menu makanannya," ucap Olive.
Hingga pada akhirnya Dokter Ridwan mengajak Olive ke sebuah restoran mewah di mana restoran itu juga salah satu tempat makan favorit dirinya selain di cafe.
Pada saat sudah sampai di restoran dan mereka sedang menunggu pesanannya, apa yang semula sempat dipikirkan oleh Olive tentang Dokter Ridwan memang benar adanya. Dokter Ridwan bertanya ulang tentang jawaban pernyataan cintanya waktu itu.
"Olive, apakah kamu sudah mempunyai jawaban dari pernyataan perasaanku waktu itu? aku sudah siap dengan kemungkinan terburuk sekalipun," ucap Dokter Ridwan.
"Sudah sih, dok. Tapi aku ingin tanya satu hal lagi pada dokter untuk memastikan apakah memang benar dokter serius denganku? dan apakah kelak dokter tidak akan menyesal karena aku hanyalah seorang janda yang mempunyai seorang anak perempuan?" tanya Olive ragu.
__ADS_1
"Olive apakah aku harus berkata beratus-ratus ribu supaya kamu percaya padaku? atau aku harus berbuat sesuatu hal yang sekiranya bisa membuat dirimu percaya?"
"Aku serius padamu, aku bukan tipe orang yang suka bermain-main dengan apa yang aku ucapkan."