Balas Dendam Saudara Kembar

Balas Dendam Saudara Kembar
Kembali Bersi Tegang


__ADS_3

Pagi menjelang, Ola sudah siap akan berangkat bekerja. Dia pun menitipkan pesan pada Neneng dan Ari supaya sesekali mengajak Rere menjenguk Olive.


"Neneng-Ari, aku akan berangkat kerja. Jangan lupa pesanku waktu itu ya? sesekali kalian atur waktu supaya Rere dekat dengan Mamahnya, tapi katakan saja jika yang terbaring itu Ola saudara kembar mamahnya. Kalian harus selalu ingat jangan sampai salah menyebutkan nama di depan, Rere." Pesan Ola.


"Baiklah, nona. Kami akan selalu ingat pesan dari anda."


Setelah itu Ola barulah melajukan mobilnya menuju ke kantor Azka yang baru dan kebetulan lokasinya lumayan jauh.


"Jika bukan demi, Olive. Aku takkan mau datang jauh-jauh ke kantor Azka yang baru." Gumamnya seraya terus melajukan mobilnya.


Dua jam berikutnya, Ola telah sampai di kantor Azka. Dia pun langsung menghadap Azka untuk tanya di mana ruangan tempat dia bekerja.


"Tok tok tok"


"Masuk"


Ola pun masuk ke ruang kerja Azka tatapan Azka mulai nanar dan seolah sudah tak tahan ingin memakan Ola.


"Via, kamu sudah datang?" tanya Azka sumringah.


"Iya, Tuan. Mohon maaf, saya ingin tanya di mana ruangan saya?" tanya Ola.


"Oh iya, maaf ya. Kemarin aku belum sempat menunjukkan ruangannya padamu ya?" ucap Azka.


"Hem ayoh ikut aku biar aku tunjukkan ruangannya."


Azka melangkah keluar dari ruang kerjanya di ikuti oleh Ola.


Pada saat mereka masuk ke ruangan yang akan di peruntukan bagi Ola, ternyata ada Mela. Penampilan dia sekarang mengenakan rambut palsu.

__ADS_1


"Mela, sekarang juga kamu kemasi semua barangmu. Karena ruangan ini akan menjadi ruangan Via. Dan mulai hari ini kamu pindah di bagian staf biasa, sedangkan Via yang akan menjadi sekretaris pribadi aku juga menjadi asisten pribadiku juga," ucap Azka lantang.


"Apa, tidak bisa begitu dong mas."


Protes Mela bangkit dari duduknya dan dia tak terima dengan keputusan sepihak dari, Azka.


"Mela, di sini yang punya kuasa adalah aku. Dan aku yang punya wewenang pula, bukan kamu. Jika kamu tak mau , terpaksa aku rumahkan kamu, camkan itu!"


Dengan sangat terpaksa, Mela mengemasi semua barang-barangnya dan pindah ke bagian staf biasa dimana Azka barusan telah memberikan perintah.


"Sialan, kenapa bisa posisi aku di geser oleh wanita yang baru datang itu? apa hebatnya dia kok Mas Azka langsung saja memilih dia untuk menjadi sekretaris pribadi dan asisten pribadinya?" batin Mela merasa kesal.


Mela berlalu pergi dari ruangan tersebut dengan menghentakkan kakinya. Sementara Ola tersenyum di dalam hati, karena langkah awal penyamaran begitu sukses.


"Hem bagus, Ola. Kamu sudah berhasil menggeser posisi Mela. Dan sebentar lagi kamu pasti akan bisa mengambil alih semua yang di miliki oleh Azka yang seharusnya menjadi milik Olive. Karena pada dasarnya perusahaan adalah milik Olive," batin Ola.


"Tuan Azka, saya merasa tak enak dengan wanita tadi. Apa ini nggak berlebihan buat saya, apa nggak sebaiknya saya yang di bagian staf biasa saja," Via atau Ola menatap genit seraya membalas genggaman tangan Azka begitu eratnya.


"Ini nggak berlebihan buatmu, karena aku telah membaca CV kamu kemarin kan? wanita secantik kamu memang pantas menjabat sebagai sekretaris pribadi dan asisten pribadi aku."


Azka mencium kedua punggung tangan Ola.


"Jika bukan demi, Olive. Jijik rasanya aku berhadapan muka demi muka dengan manusia seperti Azka. Bahkan tangan ini sudah tak sabar ingin mencolok matanya dan jika perlu aku congkel biji matanya keluar dari matanya," batin Ola menahan rasa kesal.


Baginya sudah biasa melakukan tindak kekerasan karena dia adalah seorang mafia wanita. Jadi tak aneh baginya jika melakukan hal kasar pada musuh.


Sudah dari kecil, Ola di didik tegas oleh papahnya yang seorang ketua mafia kelas tinggi. Sedangkan Olive terbiasa di didik lemah lembut serta memimpin perusahaan.


Perusahaan yang di pimpin oleh Azka sebenarnya adalah milik Olive sepenuhnya. Peninggalan Almarhum ayah tiri Olive yang begitu sayangnya pada Olive.

__ADS_1


Ola harus berpisah dengan Olive karena pada saat mamahnya bersama dengan papahnya, beliau emosi tingkat dewa. Mamahnya marah dan kecewa pada saat tahu suaminya ternyata adalah seorang mafia. Hingga terjadilah suatu perpisahan.


Papahnya membawa Ola dan mamahnya membawa Olive. Dan sejak perpisahan itu, Ola di didik keras oleh papahnya. Sedangkan mamahnya Olive menikah lagi dengan duda tanpa anak kaya raya. Seorang duda yang mandul.


Pernikahan Olive dengan Azka memang karena perjodohan oleh almarhum papah tirinya. Dan pada saat papah tirinya meninggal semua harta warisan di wariskan untuk Olive semuanya.


Olive juga mengetahui dirinya punya saudara kembar pada saat mamahnya telah meninggal. Dia menemukan bukti kuat tentang saudara kembarnya itu.


Tapi Olive tak cerita pada Azka tentang hal itu, dia berusaha mencari tahu sendiri tentang keberadaan saudara kembarnya yakni Ola tersebut.


**********


Sudah seminggu Ola bekerja di kantor Azka yang baru. Dia begitu teliti mengecek apakah di ruang kerjanya terdapat CCTV atau tidak. Karena dia akan mencari beberapa berkas penting yang mungkin saja ada di ruang kerjanya.


Sementara Mela masih saja tak terima jika posisinya di ambil alih oleh Ola. Hingga suatu hari pada saat Azka sedang tidak ada di tempat dan Ola akan mempergunakan situasi ini untuk menyelinap masuk ruang kerja Azka. Dirinya malah di labrak oleh Mela pada saat akan keluar dari ruang kerjanya.


"Heh, kamu karyawan baru! sini dulu jangan pergi!" bentak Mela menarik paksa tangan Ola pada saat mereka berpapasan di ambang pintu ruang kerja Ola.


"Memangnya ada apa ya? aku merasa tak ada masalah denganmu loh," ucap Ola seraya menepis cekalan tangan Mela padanya.


"Jelas kamu telah membuat masalah denganku karena kamu telah mengambil posisi aku di kantor ini!" bentak Mela dengan beraninya mendekat tepat di hadapan wajah Ola.


Tangan Ola sudah terkepal dan dia sudah ingin sekali meninju muka Mela yang sok itu.


"Jadi menurutmu ini suatu masalah untukmu? aku bahkan akan mengambil alih posisimu di hati Tuan Azka. Hanya tinggal menjentikkan jari ini saja, Tuan Azka pasti akan jatuh cinta padaku. Dan kamu akan di buangnya begitu saja. Apalagi wajahmu jelek bagai monster."


"Jangankan Tuan Azka, pria manapun tak akan sudi menjadi kekasih atau sekedar dekat denganmu itu!"


Mendengar ejekan dari Ola, Mela sudah tak bisa menahan amarahnya. Dia tiba-tiba mendorong tubuh Ola.

__ADS_1


__ADS_2