
Dion menyeringai licik pada saat ia telah berhasil membakar perusahaan milik Faisal. Tetapi ia belum puas untuk hal itu, dan akan membuat suatu rencana yang baru.
"Dion, sudah aku katakan jangan bertindak ceroboh. Aku juga belum beraksi karena menuggu waktu yang tepat, tetapi kamu malah sudah beraksi tanpa bertanya terlebih dahulu padaku," tegur Doni ketus.
"Jika aku menunggumu, entah kapan kamu akan bertindak karena kamu itu adalah pria yang lambat dalam melakukan pekerjaan!" ejek Dion ketus.
"Aku bukannya lambat tetapi aku bergerak dengan penuh cermat dan perhitungan tidak ceroboh sepertimu," Doni membela dirinya.
"Sudahlah, aku tak ingin berdebat denganmu karena itu akan membuat pikiranku menjadi tak menentu sehingga aku akan susah mencari rencana yang baru untuk kembali melancarkan aksi pada Faisal karena aku belum puas melihat kehancurannya," ucap Dion.
"Sekarang tinggal kamu saja, kapan kamu akan melakukan tugasmu itu karena dari kemarin kamu berdiam diri tanpa melakukan pergerakan sama sekali. Lantas sampai kapan balas dendam ini akan terbalaskan dan jika kamu tidak juga melakukan aksimu itu?" tanya Dion sinis.
"Bukankah sudah aku katakan barusan, aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksiku. Karena aku tidak ingin melakukan kecerobohan dan aku tidak ingin terperangkap sendiri dalam jebakanku sendiri," ucap Doni.
Doni dan Dion memang merupakan adik kandung dari almarhum Leon tapi watak mereka benar-benar berbeda yang satu bertindak paling cepat sedangkan yang satunya bertindak terlalu lama bertele-tele dan banyak saja alasannya.
Sementara saat ini Ola terus saja menyelidiki kasus kebakaran yang menimpa perusahaan Faisal. Dia juga tidak berdiam diri begitu saja melihat rekan kerjanya terkena musibah apalagi selama ini Faisal selalu membantu dirinya.
Hingga pada suatu hari dia telah menemukan bukti yang kuat tentang siapa orang yang telah membakar perusahaan Faisal dari hasil penyelidikannya.
Hingga pada saat itu juga Ola menyambangi markas besar Faisal untuk mengatakan tentang hasil penemuan dari penyelidikannya terhadap kasus kebakaran yang menimpa perusahaan Faisal.
"Faisal, aku ingin bicara denganmu, karena ini adalah hal yang penting mengenai orang yang telah membakar perusahaan itu." Ola menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu yang ada di markas besar Faisal.
"Katakan saja, Ola."
__ADS_1
Ucapnya singkat karena ia sedang tak bisa berpikir jernih.
"Aku sudah tahu siapa orang yang ada di balik pembakaran perusahaanmu, orang itu adalah adik kandung dari almarhum Leon yang bernama, Dion."
"Menurut hasil penyelidikan dari anak buahku, Dion beserta Doni datang dari luar negeri ke Indonesia ini hanya untuk membalaskan dendam atas kematian kakak kandung mereka yakni, Almarhum Leon."
"Saat ini aku juga telah berjaga-jaga untuk waspada terhadap serangan Doni. Mereka telah berbagi tugas untuk yang satu menyerangmu dan yang satu menyerangku."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ola, Faisal mengerutkan alisnya dia benar-benar tidak menyangka jika Ola begitu cerdas dan hanya dalam waktu singkat dia mampu mengetahui siapa pelaku dari kebakaran yang menimpa perusahaannya.
"Aku tidak salah dalam memilih pendamping hidup karena Ola begitu pintar cerdas tangkas dan cekatan. Dia benar-benar memiliki para anak buah yang bisa diandalkan hingga hanya dalam waktu secepat ini dia mampu menguak tabir rahasia siapa yang melakukan pembakaran terhadap perusahaanku. Sedangkan aku sudah berhari-hari tidak menemukan titik terang dari permasalahanku sendiri," batin Faisal memuji kehebatan Ola.
"Faisal, kenapa kamu tidak merespon apa yang dari tadi aku ceritakan padamu? kenapa kamu hanya diam saja menatapku senyum-senyum seperti itu? aku ini sedang bicara serius bukan sedang mendongeng atau menceritakan hal lucu padamu," ucap Ola ketus dan heran melihat reaksi Faisal terhadap ceritanya.
"Maafkan aku, Ola. Aku senyam senyum karena sangat bangga terhadapmu. Aku bangga mempunyai seorang kekasih yang begitu pintar dan memilik otak brilian seperti dirimu. Aku akan lebih bahagia lagi jika kamu mau menikah denganku secepatnya," ucap Faisal.
"Sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya kita bisa menemukan tempat persembunyian Doni dan Dion, sebelum mereka melakukan aksinya kembali."
Teguran Ola membuat Faisal tersipu malu, entah kenapa dia malah berpikiran lain.
"Baiklah, aku akan melakukan tindakan dengan memerintah semua anak buahku untuk mencari dimana saat ini Doni dan Dion berada. Sebelum mereka melakukan satu kejahatannya lebih parah lagi terhadapku atau terhadapmu," ucap Faisal meyakinkan Ola.
"Aku punya satu cara ini bisa memancing atau bisa mengetahui di mana keberadaan Doni dan Dion," ucap Ola dengan sangat yakinnya.
"Katakan saja bagaimana caramu?"
__ADS_1
"Kita gunakan beberapa anak buahmu yang dulu pernah menjadi anak buah almarhum Leon untuk memancing keluarnya Doni dan Dion," ucap Ola.
Dia pun mulai berbisik pada Faisal tentang rencana yang menurutnya sangat jitu untuk menjebak Doni dan Dion.
"Perfeck, kamu memang wanitaku yang jenius. Aku sangat setuju dengan rencanamu ini. Segera aku akan bicarakan dengan beberapa anak buahku yang tadinya adalah mantan anak buah dari Almarhum Leon. Dengan iming-iming hadiah yang besar pasti mereka akan semangat menjalankan perintah dariku ini," ucap Faisal tiba-tiba mengecup kening Ola yang membuat Ola terhenyak kaget dan seketika itu juga meninju lengan Faisal.
"Dasar otak mesum, mencari kesempatan dalam kesempitan," Ola melotot ke arah Faisal.
"Aihhhh...sakit sekali, seharusnya kamu balas kecupanku dengan kecupan yang termanis darimu. Karena selama kita pacaran kamu sama sekali belum pernah menciumku," ucap Faisal menaik turunkan alisnya.
"Astaga, Faisal! di saat genting seperti ini kamu masih saja sempat berpikiran mesum!" bentak Ola kesal.
"Sayang, jangan marah-marah seperti itu nanti cantikmu hilang dan tumbuh kerutan di wajahmu," ucap Faisal terkekeh.
"Haduh, Faisal. Bisa nggak sehari saja kamu tak menggodaku?" ucap Ola menghela napas panjang.
Tiba-tiba Faisal malah mendekati Ola seraya memojokkan ia di kursinya dengan mengungkung tubuh Ola, hingga Ola tak dapat bergerak sama sekali.
"Heh Faisal, apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Ola mulai panik menatap Faisal yang semakin mendekatkan wajahnya pada Ola.
"Kamu ternyata bisa panik juga ya, aku tak ingin melakukan apa pun padamu hanya ingin sesuatu yang sangat aku harapkan darimu," ucap Faisal menyunggingkan senyuman.
"Faisal, awas ya! kamu jangan macam-macam denganku! jika tidak akan aku bunuh kamu saat ini juga!"
"Ola sayang, aku hanya ingin satu macam saja."
__ADS_1
"Cup cup"
Dua kecupan mendarat di bibir tipis Ola, membuatnya sejenak diam saja.