
Waktu berjalan begitu cepatnya, kini Olive sudah kembali pulih. Hingga dia sudah bisa bekerja lagi di kantor. Sementara Ola sudah kembali ke markasnya, tetapi dia meminta pada beberapa anak buahnya untuk selalu waspada dan menjaga Olive.
"Brian, perintahkan beberapa anak buah kita untuk selalu waspada menjaga Olive dan Rere. Karena aku sudah tak bisa lagi memantau mereka lebih dekat. Urusanku di markas baru banyak, juga aku harus keluar negeri karena ada urusan pula di sana," perintah Ola .
"Baik, bos. Saya akan segera memerintahkan beberapa anak buah saya," ucap Brian.
Saat itu juga, Ola bersiap-siap untuk segera ke bandara karena di sana ada urusan yang mendesak. Bahkan dia juga berpamitan pada Faisal.
Tanpa sepengetahuan Ola, Faisal juga menguntit kepergian Ola. Bahkan dia satu pesawat dengannya, akan tetapi Ola tak tahu akan hal itu.
"Ola, aku rasa saat ini kamu sedang di jebak seseorang. Dan orang itu adalah Leon, makanya aku ikuti kamu karena aku tak ingin terjadi hal buruk padamu," batin Faisal.
Sementara saat ini Olive sedang menata hidupnya yang baru. Dia pun benar-benar harus memulai dari nol.
"Ternyata repot sekali mengurus urusan kantor ini. Sayangnya Ola malah pergi dari kantor ini, padahal aku masih butuh dia," gumamnya seraya mengecek satu persatu berkas yang ada di mejanya.
"Tok tok tok "
Satu ketukan di pintu ruang kerjanya.
"Masuk"
"Dokter Ridwan? ada apa ya?" tanya Olive penasaran.
'Kok aku nggak di persilahkan duduk, apa aku nggak di izinkan untuk duduk?" canda Dokter Ridwan terkekeh.
"Astaga, maaf ya dok. Mari silahkan duduk."
Olive menepuk jidatnya sendiri.
"Olive, apakah kamu sedang sibuk?" tanyanya ragu.
"Memangnya ada apa, dok? katakan saja tak usah sungkan," ucap Olive penasaran.
__ADS_1
"Ini kan sudah jam makan siang, aku ingin ajak kamu makan siang sekalian ada yang ingin aku katakan denganmu. Dan jika di sini aku rasa kurang tepat dan kurang nyaman," ucapnya.
"Baiklah, dok. Kita makan siang dimana?" tanya Olive.
Saat itu juga Dokter Ridwan mengajak Olive ke sebuah cafe favoritnya. Dan pada saat sedang makan siang bersama, Dokter Ridwan memberanikan diri mengatakan padanya tentang isi hatinya selama ini yang ragu dia katakan.
"Olive, sebenarnya aku sudah ingin mengatakan hal ini sejak lama. Tapi aku belum punya keberanian untuk mengatakannya padamu. Baru hari ini aku memberanikan diri mengatakan hal ini," ucap sang dokter.
"Katakan saja, dok. Sepertinya kok serius sekali sih, terlihat sekali wajah dokter itu tegang dan panik," ucap Olive terkekeh.
"Iya Olive, ini memang serius mengenai hati. Jujur saja aku itu suka padamu tapi aku tak berani mengungkapkan rasa ini karena aku takut mendapatkan penolakan darimu."
"Olive, mungkin ini terlalu cepat. Tetapi aku tak bisa memungkiri rasa ini. Aku suka dan cinta padamu dari awal kita bertemu. Jujur saja aku baru pertama kalinya merasakan getaran cinta ya baru padamu."
"Olive, apa kamu mau menjadi kekasihku, sebenarnya aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku. Tetapi sepertinya ini tak mungkin, pasti kamu berpikir terlalu cepat."
Mendengar akan apa yang di katakan oleh Dokter Ridwan. Olive hampir saja tidak percaya, masa iya seorang dokter yang tampan menyukai dirinya.
"Dok, pasti anda sedang ngeprank saya kan?" tanya Olive ragu.
Dia benar-benar bingung akan menjawab apa pada sang dokter tampan tersebut.
"Olive kenalan kamu diam? apa kamu benar-benar tak ada rasa padaku?" tanya dokter kembali.
"Dok, maaf. Aku belum bisa menjawabnya sekarang ya, karena aku banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan."
"Sejak tidak ada Ola, aku menjadi semakin kerepotan," ucap Olive.
"Ya sudah tak apa-apa, bagaimana kalau nanti aku bantu menyelesaikan berkas yang sedang kamu kerjakan tadi?" tawarannya.
"Memangnya dokter bisa kita kan beda profesi? dan jika pun iya bisa, nantu aku merepotkan dokter," ucap Olive merasa tak enak hati.
Hari berikutnya, Ola telah sampai disebuah negara yakni Amerika. Di sana dia banyak sekali kenalan. Pada saat dia baru turun dari pesawat, kehebohan sempat terjadi. Tiba-tiba ada insiden tembakan.
__ADS_1
Hampir saja Ola tertembak jika tidak lekas menghindar. Ola di serang orang tak di kenal dengan terus saja mereka menembaki dirinya.
Olapun berusaha berlindung disuatu tempat, dia sangat kewalahan karena serangan itu begitu mendadak.
"Sialan, siapa mereka kenapa tiba-tiba menyerangku," batinnya kesal.
Selagi berada di balik persembunyian, mereka terus saja menembaki Ola. Hingga Ola tak bisa berkutik, ia ingin sekali lari tapi serentetan tembakan terus saja di tembakan.
"Ola, cepat ikut aku!" Faisal menarik lengan Ola secara paksa untuk ikut dengannya.
Sementara anak buah Faisal sedang menembaki musuh Ola. Faisal membawa Ola masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukannya menghindar dari aksi tembakan itu.
"Faisal, bagaimana kamu ada di sini? dan kenapa pula kamu tak mengatakan padaku jika akan menyusul di sini?" tanyanya pada saat mereka sudah ada di dalam mobilnya.
"Sudah tak usah di tanyakan tentang hal ini. Intinya kamu sedang diincar oleh anak buah Leon." ucap Faisal.
"Masa aku tak tahu, berarti Leon kekuasannya bukan hanya di Indonesia?" tanyanya ragu.
"Iya, Leon sedang mengepakkan sayapnya. Dia ingin memperluas kekuasaannya. Justru di Amerika ini, dia banyak sekali rekannya. Kita tak boleh lengah. Untuk sementara waktu, kamu tinggal di apartementku saja," ucap Faisal menawarkan diri.
"Baiklah, terima kasih karena kamu kembali lagi menolongku. Entah dengan apa aku bisa membalas kebaikanmu," ucap Ola tersenyum.
"Kamu ingin tahu bagaimana caramu membalas kebaikanku ini?" ucap Faisal.
"Jika aku tahu dan aku mampu pasti akan aku lakukan," ucapnya dengan penuh keyakinan.
"Cukup dengan kamu mau menerima cintaku ini."
Mendengar akan hal itu, Ola sempat kaget. Akan tetapi dia mencoba untuk menutupi rasa kagetnya itu.
"Memang apa yang kamu lihat dari wanita barbar dan kejam seperti aku ini? lagi pula masih banyak wanita yang lebih baik dariku lantas kenapa kamu malah memilih aku," tanya Ola heran.
"Karena bagiku, kamu itu lain dari pada yang lain. Kamu itu wanita yang sangat unik dan sangat pemberani. Aku suka wanita seperti dirimu."
__ADS_1
Mendengar akan hal itu, justru Ola terkekeh.
"Hahhhhhhaaa dasar tukang rayu, buaya darat."