
Ketermenungan pada Olive sungguh terlihat, akan tetapi Dokter Ridwan belum berani berkata karena ada Rere. Dia akan bersabar hingga nanti tiba di rumah.
Dua jam kemudian, mereka telah kembali ke rumah. Rere langsung beranjak ke kamarnya bersama dengan Mba Ari. Dan hal ini tak di sia-siakan oleh Dokter Ridwan, untuk membahas pertemuan mereka tadi dengan Azka.
"Sayang, apa kamu masih mengkhawatirkan tentang adanya mantan suamimu itu?" tanyanya menyelidik.
"Iya, mas. Aku heran saja kenapa ia ada di kota ini, padahal kita pindah di sini karena ingin menghindari dirinya," ucap Olive.
"Sayang, sudahlah tak perlu mencemaskan akan hal itu. Kan sekarang kamu tak sendiri melainkan ada aku suamimu jadi tak perlu cemas lagi. Satu yang perlu kamu pikirkan yakni calon anak kita saja."
Hibur Dokter Ridwan mengusap perut Olive.
"Ya, mas. Hanya saja aku tak suka cara dia menuduhku tidur dengan beberapa pria. Itu sungguh menyakitkan bagiku," ucap Olive.
Selagi asik bercengkrama dengan suaminya, ponselnya berdering yakni panggilan telepon dari Ola.
"Mas, maaf ya. Aku angkat telepon dari Ola dulu sebentar." Olive langsung mengangkat panggilan telepon dari saudara kembarnya.
"Ya Ola, ada apa?"
"Baru saja aku bertemu dengan Azka."
Ola langsung menceritakan di dalam panggilan telepon tersebut. Hal ini yang membuat Olive telah paham kenapa Azka berkata kasar padanya. Setelah beberapa menit berlalu, Ola menutup panggilan telepon tersebut begitu pula Olive.
"Mas, ternyata tadi Ola bertemu dengan Azka juga pada saat dia pulang dari rumah kita. Sekarang aku tahu kenapa Azka menuduhku tidur dengan beberapa pria."
"Dia mengira Ola itu aku, pada saat di lampu merah. Dimana Ola sedang bersama Faisal."
Mendengar apa yang di katakan oleh istrinya, Dokter Ridwan menjadi tenang.
__ADS_1
"Berarti kamu sudah tak cemas lagi kan? kecemasan itu juga tak baik untuk wanita yang sedang hamil loh," tegurnya.
"Iya, mas. Aku minta maaf, tadi aku hanya penasaran saja kenapa aku di tuduh tidur dengan beberapa pria padahal aku tidur hanya dengan dirimu saja, mas."
Sudah terselesaikan hal yang merisaukan hatinya. Kini Olive sudah tak memikirkan apapun. Dia ingin menuruti apa yang di katakan oleh suaminya, karena dia tak ingin terjadi hal buruk pada anaknya.
*********
Sementara di suatu tempat, ada dua orang yang sedang kesal dan marah mendengar kabar kematian Leon. Dua orang itu adalah saudara kandung Leon yang sedang berada di luar negeri. Mereka segera terbang ke Indonesia setelah mendapatkan info tentang Leon.
"Ka, kami minta maaf karena datang terlambat ke Indonesia ini karena banyak urusan dengan pekerjaan kami yang ada di Amerika. Tapi kakak tak usah khawatir, kami akan balas dendam pada orang yang telah membunuh dan membakar markas besarmu!"
"Dion, apa kamu sudah tahu dimana keberadaan target kita?" tanya Doni.
"Sudah, kita tinggal beraksi saja. Aku tunggu perintah mu saja, mau bagaimana cara kita menghabisi musuh Ka Leon?" tanya Dion.
"Kita jangan gegabah karena target kita sesama ketua mafia. Secara mereka itu pintar dan licik pula sesuai dengan profesinya. Jadi kita harus benar-benar atur strateginya," ucap Doni.
Dion akan menyerang Faisal sedang Doni akan menyerang Ola tapi dia menyerang tidak secara langsung pada Ola.
"Hem, aku tahu Ola. Kelemahan terbesarmu adalah Olive dan Rere. Yakni saudara kembarmu dan anaknya. Ka Leon tak tahu jika kamu punya saudara kembar, tapi aku sudah tahu akan hal ini. Dan lewat Olive atau Rere aku akan membuatmu kalah," batin Doni.
Entah apa yang sedang di rencanakan Doni untuk mencelakai Olive dan Rere. Pastinya saat ini Doni sedang berniat buruk pada ibu dan anak itu. Hanya dia tak langsung menyerang karena sedang menunggu waktu yang tepat.
Lain halnya dengan Dion yang sudah tak sabaran, dia pun langsung membuat serangan mendadak dan tiba-tiba yakni pada perusahaan Faisal.
Dion membakar perusahaan Faisal pada saat tengah malam dimana semua orang sedang tertidur pulas.
"Kamu telah bakar markas besar Ka Leon, dan aku juga bakar perusahaan besarmu. Ini juga belum cukup untuk membalas dendam atas kematian Ka Leon. Aku masih butuh nyawamu, Faisal," batin Dion menyeringai licik.
__ADS_1
Hingga pada dini hari, Faisal baru tahu jika perusahaan kesayangannya telah terbakar habis.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi, aku yakin ini bukan unsur kecelakaan tapi unsur kesengajaan. Lantas siapa yang melakukan hal ini, karena Leon musuh terbesarku sudah aku habiskan!"
Faisal mencari tahu dari para anak buahnya yang ia tugasi menjaga perusahaan dari jarak jauh.
"Bagaimana bisa kamu tak tahu jika akan ada kebakaran di perusahaan aku? lantas bagaimana kinerjamu?" tanya Faisal kesal.
"Maaf, bos. Pada saat itu kami tak sadarkan diri, ada yang memukul kepala kami hingga kami pingsan dalam waktu yang cukup lama. Dan pada saat kami sadar, perusahaan sudah terbakar begitu saja," ucapnya menjelaskan.
Dugaan Faisal benar, akan tetapi dia tak tahu siapa dalang di balik semua ini.
'Dasar pengecut, menyerang dari belakang seperti ini! siapa sebenarnya orang ini, dan apa tujuannya menyerang aku seperti ini? apa ini ada hubungannya dengan kematian Leon atau hanya pesaing bisnis yang melakukan hal ini?"
Faisal terus saja bertanya di dalam hatinya, dia mulai gelisah memikirkan orang yang telah membakar perusahaannya.
"Faisal, aku dengar dari anak buahku jika perusahaan mu ada yang membakar? apa kamu sudah temukan orangnya?" tanya Ola yang baru datang.
"Belum, aku sama sekali tak menemukan petunjuk yang kuat tentang pelaku pembakaran ini," ucap Faisal.
'Apa tidak ada CCTV sama sekali supaya bisa melacak pelakunya?" tanya Ola.
"Ada, tapi tetap tidak di temukan karena CCTV juga ikut terbakar. Bagaimana aku bisa menyelidiki?" ucap Faisal.
"Hem, susah juga jika tidak ada bukti yang kuat untuk menangkap pelaku ini. Lantas apa langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan?" tanya Ola.
"Entahlah, Ola. Pikiranku sedang kacau karena kerugian yang aku alami tidaklah sedikit. Hingga aku sedang tak bisa berpikir secara jernih."
Faisal menundukkan kepalanya seraya memangku wajahnya.
__ADS_1
Ola merasa iba melihat musibah yang sedang di hadapi oleh Faisal. Tapi dia sama sekali tak bisa membantu karena tak ada bukti yang kuat dari kejadian kebakaran itu.
"Siapa sebenarnya dalang di balik semua ini. Otaknya lumayan picik juga hingga kami saja sampai detik ini belum berhasil mengetahui jati dirinya," batin Ola kesal.