Balas Dendam Saudara Kembar

Balas Dendam Saudara Kembar
Rileks Sejenak


__ADS_3

Kehidupan Faisal dan Ola untuk saat ini tidak ada halangan dan hambatan apapun karena belum ada musuh yang datang.


"Ola, kapan kamu akan menerima pinanganku untuk menjadi istriku?" tanya Faisal di suatu senja yang cerah.


"Faisal, aku belum siap. Jika kamu sudah tak sabar untuk menikah, aku ikhlas kamu mencari wanita yang lain untuk kamu nikahi," ucap Ola.


"Astaga, Ola. Kenapa kamu mengatakan seperti itu, seolah kamu itu menganggap aku tak serius denganmu," ucap Faisal.


"Habisnya kamu selalu menanyakan tentang hal ini, aku sampai bosan mendengarnya. Memangnya tidak ada hal penting lainnya selain pernikahan?" tanya Ola ketus.


"Bukan seperti itu Ola, untuk saat ini kita kan sedang bersantai tidak ada satu musuh pun yang menyerang kita. Aku pikir apa salahnya waktu santai ini untuk kita melangsungkan pernikahan. Bukankah lebih cepat lebih baik sehingga kamu ada yang menjaganya," ucap Faisal.


"Sudahlah, Faisal. Aku tak ingin mendengar hal ini terus, terasa bosan telinga ini. Apa sebaiknya kita putus saja jika seperti ini. Kamu membuatku tak nyaman dan aku merasa di teror dengan kata-kata pernikahan darimu," ucap Ola.


Kebetulan mereka saat ini sedang ada di teras halaman rumah Dokter Ridwan. Hingga percakapan mereka juga sempat di dengar oleh Olive dan juga Dokter Ridwan.


"Mas, kamu dengar sendiri kan betapa kerasnya sifat Ola. Kadang aku merasa Kasihan pada Faisal," ucap Olive.


"Ya aku tahu apa yang kamu rasakan, dulu pun aku merasakan apa yang Faisal rasakan. Pada saat kamu terus saja tarik ulur hati ini," ucap Dokter Ridwan terkekeh.


"Hem....mulai dech menyindir diriku seperti ini," ucap Olive manyun.


"Sudahlah, itu kan sudah berlalu. Sebaiknya kita bantu saja Faisal untuk bisa meluluhkan hati Ola sehingga mereka bisa lekas menikah," ucap Dokter Ridwan.

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya supaya kita bisa meyakinkan Ola, karena sifatnya itu mirip sekali dengan almarhum papah yakni sangat keras kepala,' ucap Olive tidak yakin bisa membujuk Ola untuk lekas mau menikah dengan Faisal.


Dokter Ridwan dan Olive segera melangkah keluar untuk menemui Faisal dan Ola yang sedang berselisih paham dari tadi.


"Diperhatikan dari dalam kalian kok sepertinya dari tadi bersi tegang terus, sebenarnya ada apa?" tanya Olive pura-pura tak tahu.


"Seperti yang biasanya lah ,Faisal sudah ngebet ingin menikah denganku tetapi aku belum berpikir sejauh itu karena hati ini belum siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan," jawab Ola sekenanya.


"Ola, umurmu itu sudah cukup untuk membina suatu rumah tangga. Jika kamu terus saja menunda-nunda atau menolak kemauan Faisal lantas kapan kamu akan menikah? tidak selamanya hidup sendiri itu enak apalagi kita ini sebagai seorang wanita."


"Apa kamu mau jadi perawan tua? yang nantinya sudah keriput dan tidak ada lagi yang mendekatimu? ingat umur, Ola. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari dan pada akhirnya kamu merama kesepiannya sendiri tak ada suami ataupun anak."


Olive mencoba menasehati Ola, akan tetapi ia tak menghiraukan nasehat dari Olive.


"Nggak Ola, aku akan tetap menunggumu sampai kamu benar-benar siap untuk menjadi istriku. Aku yakin tidak akan lama lagi kamu pasti akan mau menerima pinanganku," ucap Faisal.


Mendengar perkataan Faisal tersebut Olive merasa iba padanya karena selama ini Faisal benar-benar sabar menghadapi sikap kerasnya Ola yang seperti batu karang.


"Kamu yang sabar ya Faisal, memang seperti itu sifat si Ola yakni keras kepala dia tidak pernah bisa diatur dia selalu berjalan sesuai kemauannya sendiri. Sifatnya ini menurun dari sifat almarhum papah sama persis dengan sifatnya Ela ini," ucap Olive.


"Ya Olive, kamu tenang saja.


Kesabaranku ini bagaikan luasnya laut yang tiada bertepi tiada berujung dan aku yakin sekeras apapun sifat Ola pasti dia akan bisa diluluhkan, hanya perlu waktu saja," ucap Faisal seraya menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


"Olive-Olive, kenapa kamu malah membela Faisal bukan membela aku. Sebenarnya siapa yang saudaramu itu aku atau Faisal? aneh sekali."


"Dan kamu Faisal apa yang telah kamu lakukan pada saudara kembarku ini, sehingga dia selalu saja berada di pihakmu bahkan aku merasa selalu dipojokkan oleh kalian berdua."


Ola merasa dirinya tidak pernah mendapatkan satu pembelaan dari Olive. Dia merasa cemburu karena Olive justru berpihak pada Faisal yang hanya orang lain.


"Sudahlah, kalian ini kan saudara. Nggak perlu lah berselisih paham seperti itu dan kamu Olive jangan terus memojokan Ola. Kasihan juga dia kan, setiap orang punya prinsip dan pemikiran yang berbeda-beda jadi kamu juga tak perlu seolah-olah menyalahkannya," ucap Dokter Ridwan mencoba mencairkan suasana dan menjadi penengah.


"Nah ini baru betul, apa yang dikatakan oleh dokter Ridwan baru aku setuju." Ucap Ola seraya tersenyum dan mengacungkan kedua ibu jarinya pada suami Olive.


"Nah loh, kamu mendapatkan pembelaan dari suamiku. Sekarang bisa tersenyum juga kan, dari tadi manyun melulu hanya gara-gara aku ngomong seperti tadi itu," ejek Olive terkekeh.


"Ya kan jadinya kita impas, kamu membela Faisal dan aku dibela oleh suamimu serikan kita," ucap Ola terkekeh juga.


"Oh ya tapi aku ingat satu hal perkataanmu pada waktu itu Ola. Jika aku telah melahirkan, kamu akan bersedia menikah dengan Faisal. Jadi nanti kalau aku sudah melahirkan kamu harus tepati janjimu itu loh," ucap Olive.


"Yang benar saja, itu cuma akal-akalan kamu doang. Aku sama sekali tak pernah mengatakan hal itu kok," protes Ola.


Percakapan mereka semakin lama semakin asyik saja sesekali diselingi dengan canda tawa. Sesekali diselingi dengan kehebohan selisih paham antara Olive dan Ola tetapi mereka itu tidak bertengkar serius.


Rasa bahagia terus saja menyelimuti saudara kembar ini. Apa lagi kini Ola sedang tidak ada suatu permasalahan di markasnya. Hingga dia dan Faisal saat ini sedang rilexs dan pikiran tidak tegang.


Bahkan Faisal sedang membangun ulang perusahaan yang sempat hancur lembut tinggal arang karena ulah Dion. Dia kini merintis dari nol kembali. Itupun dia di bantu oleh Ola. Walaupun sifat Ola yang sangat keras kepala, tetapi hatinya sangat baik dan jiwa menolongnya sungguh luar biasa. Ola tak sungkan mengeluarkan dana besar untuk membantu Faisal.

__ADS_1


__ADS_2