Balas Dendam Saudara Kembar

Balas Dendam Saudara Kembar
Rasa Yang Terpendam


__ADS_3

Faisal selalu saja teringat akan Ola. Dia benar-benar telah tergila-gila padanya.


"Jarang ada seorang wanita yang mempunyai profesi sebagai seorang mafia, ini sangat cocok dengan profesiku makanya aku harus bisa mendapatkan cinta dari seorang, Ola."


"Lihat saja Ola, aku akan segera mendapatkan hatimu. Aku akan membantumu dengan sekuat tenagaku untuk bisa membalaskan dendam pada, Mela," batinnya lagi.


Sementara Ola terus saja berusaha menyelidiki tentang keberadaan Mella saat ini, tetapi dia tetap saja belum menemukan di mana saat ini Mella berada.


"Ola, kenapa kamu terlihat resah seperti itu?" tanya Olive di suatu senja.


"Nggak ada apa-apa, hanya memikirkan keberadaan Mela saja. Kamu harus selalu waspada ya, jangan sampai terjadi hal buruk lagi padamu. Karena aku tidak selamanya bersamamu," ucap Ola.


"Lantas kamu akan kemana? padahal aku berharap kamu tetap bersamaku, di sini. Kita kan telah berpisah dari kecil masa iya harus berpisah lagi, Ola?"


Ada rasa tak rela jika Ola pergi begitu saja.


"Karena aku juga harus mengurus usaha peninggalan Almarhum papah," ucap Ola


"Apa nggak sebaiknya kamu tinggalkan dunia mafia itu? apa nggak sebaiknya kamu tetap di sini mengelola perusahaan mamah secara bersama-sama denganku?" pinta Olive mencoba membujuk Ola.


Belum juga Olive selesai bicara, dia sudah di telpon oleh Brian.


Kring kring kring kring


Ola langsung mengangkat panggilan telpon dari Brian.


"Ada apa?"


"Bos, markas kita di bakar oleh seseorang. Dan beberapa anak buah kita terluka parah."


"Lah kok bisa, dari tadi kamu kemana saja?"


"Aku hanya keluar sebentar, bos. Apa bos lupa telah meminta aku melakukan misi pencarian terhadap target yang bernama, Mela? dan pada saat kembali ke markas sudah terbakar."


"Baiklah, aku akan segera ke sana sekarang juga."


Saat itu juga Ola berpamitan pada Olive untuk segera pergi.

__ADS_1


"Olive, aku harus pergi ya. Karena ada hal yang sangat darurat."


"Tapi...


Belum juga Olive sempat berkata, Ola sudah berlalu pergi begitu saja. Dan i saat Ola pergi, datanglah Dokter Ridwan.


"Hay, dok?"


"Hay, juga. Bagaimana kondisimu hari ini? tadi aku sempat berpapasan dengan saudara kembarmu. Dan dia terlihat sangat buru-buru, memangnya dia mau kemana?" tanya Dokter Ridwan penasaran.


"Entahlah, dok. Aku juga tidak tahu, belum juga aku bertanya dia sudah pergi cepat sekali," jawab Olive.


"Ya sudah, mungkin ada hal yang sangat penting. Oh ya, apa kamu sudah siap untuk kita berlatih berjalan hari ini?' tanya Dokter Ridwan ragu.


"Siap, dok."


"Bagaimana kalau kita berlatih berjalan di taman saja, yang suasananya sedikit sejuk supaya kamu juga tidak terlalu suntuk berada di dalam rumah terus," ajak Dokter Ridwan.


"Bagaimana ya, Dok? karena saya tidak boleh keluar rumah oleh Ola sebelum saya benar-benar sembuh total," ucap Olive ragu.


"Baiklah kalau begitu dok, saya menerima ajakan untuk kita berlatih jalan di taman."


Saat itu juga Dokter Ridwan mengajak Olive ke taman. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di taman. Dan Dokter Ridwan benar-benar telaten mengajari Olive untuk bisa berjalan lagi.


Namun pada saat dia sedang bersemangatnya menapakkan kakinya di lantai, tiba-tiba tubuhnya oleng dan hampir saja dia terjatuh jika tidak di topang oleh, Dokter Ridwan.


Seketika itu juga dengan gerak cepat menangkap tubuh Olive yang akan terjatuh hingga Olive tak jatuh ke lantai tetapi jatuh di dalam pelukannya.


Keduanya tanpa sadar saling bertatapan begitu lamanya hingga Olive yang terlebih dulu berkata.


"Terima kasih ya, dok." Olive lekas melepaskan diri dari pelukan Dokter Ridwan.


"I-iya, maaf ya. Tadi aku reflek karena tak ingin kamu sampai terjatuh," ucap sang dokter menutupi rasa gugupnya.


"Iya dok, nggak apa-apa," ucap Olive tersipu malu.


"Kenapa pada saat aku dekat sekali dengan Olive, jantung ini berdebar-debar dengan kencangnya ada apa denganku ini?" batin Dokter Ridwan heran.

__ADS_1


Dengan penuh ketelatenan Dokter Ridwan mengulang kembali menuntun Olive satu langkah demi satu langkah untuk bisa berjalan.


Hingga beberapa menit kemudian barulah Dokter Ridwan mengajak pulang Olive karena dia juga tidak enak hati jika ber lama-lama berada di taman.


Setelah sampai di apartement Ola, Dokter Olive memberanikan diri bertanya banyak hal padanya.


"Olive, maaf aku ingin bertanya sesuatu yang sifatnya agak sedikit pribadi apakah kiranya kamu bersedia menjawab pertanyaanku ini?" tanya Dokter Ridwan ragu.


"Katakan saja dok, sekiranya aku bisa menjawab akan aku jawab sekalipun itu sesuatu yang menyangkut pribadiku," jawab Olive begitu yakinnya.


"Maaf Olive, apakah sampai detik ini kamu masih mencintai suamimu itu?" tanyanya ragu.


"Astaga, dok. Mana mungkin aku masih mencintai orang yang telah menyakiti aku bahkan ingin mencoba membunuhku? padahal aku ini adalah istrinya tetapi dia malah lebih memilih bersama selingkuhannya, dia sama sekali tak memikirkan aku dan anakku," ucap Olive.


"Lantas apa kamu telah melakukan proses perceraian dengannya?" tanyanya lagi.


"Sudah, dok. Bahkan Ola yang telah mengurusnya, aku tinggal menunggu surat cerainya saja," ucap Olive.


Dalam hati, Olive merasa ada yang aneh dengan semua pertanyaan yang di lontarkan oleh Dokter Ridwan.


"Aneh kenapa Dokter Ridwan menanyakan hal begitu pribadi padaku? aku pikir yang dia tanyakan hal pribadi bukan menyangkut pernikahan aku dengan si Azka brengsek itu," batin Olive di penuhi rasa tanda tanya.


Setelah begitu cukup lama merawat Olive, Dokter Ridwan pun berpamitan pulang. Karena dia tak ingin berlama-lama bersama Olive yang akan membuat dirinya terhanyut dalam perasaanya.


Dokter Ridwan memutuskan untuk sejenak menyambangi tempat praktek Dokter Rani, karena kebetulan beliau sudah kembali dari luar negeri. Ia ingin menceritakan apa yang ia rasakan selama ini pada Olive. Karena di samping Rani berteman baik dengan Ola, dia juga berteman baik dengan, Ridwan.


Hanya beberapa menit saja, Dokter Ridwan sudah ada di pelataran rumah sakit dimana saat Dokter Rani buka praktek.


Dia pun lekas melangkah ke ruang praktek Dokter Rani, dan kebetulan sedang sepi pasien hingga dia bisa leluasa dalam bercengkrama dengannya.


"Hay, Ridwan. Tumben kamu datang kemari, apa mampir ya dari apartement Ola?" tanya Rani.


"Iya betul betul betul betul," Dokter Ridwan terkekeh seraya menjatuhkan pantatnya di kursi di hadapan meja kerja Rani.


"Kok wajahmu masam, memangnya ada apa, Ridwan?" tanya Rani yang sudah terlebih dulu paham dengan raut wajah Ridwan.


"Tahu saja jika wajah aku sedang masam, aku ingin cerita sesuatu padamu," ucap Ridwan.

__ADS_1


__ADS_2