Balas Dendam Saudara Kembar

Balas Dendam Saudara Kembar
Keberuntungan Mela


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang dari lapas, Mela terus saja menggerutu kesal. Dan tak sengaja dia melihat ada seorang pria paruh baya di dalam mobil sedang memegangi dadanya.


"Waduh, kenapa si om itu ya? sepertinya dia kesakitan sekali." Mela lekas menghampiri pria paruh baya tersebut.


"Om, kenapa?" tanya Mela mengernyitkan dahinya.


"To-tolong saya, bawa ke rumah sakit," ucapnya lirih.


"Baiklah, om. Maaf om geser duduknya biar aku yang mengemudi ya," ucap Mela.


Entah dorongan dari mana seorang Mela mau menolong pria paruh baya tersebut. Dan saat itu juga dia pun melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat. Hanya beberapa menit saja sudah sampai.


Mela langsung keluar dari mobil dan menghentikan langkah seorang perawat yang sedang melintas. Ia meminta tolong pada perawat tersebut. Dan saat itu juga, pria paruh baya tersebut langsung di bawa menuju ke ruang pemeriksaan untuk segera di tangani.


Mela sengaja menunggu di luar ruangan tersebut karena ingin mengetahui bagaimana kondisi pria paruh baya tersebut. Tak berapa lama, dokter yang memeriksanya segera keluar.


"Apakah anda salah satu keluarganya?" tanya sang dokter.


"Bukan, dok. Saya hanya menolongnya saja karena kebetulan pada saat om kesakitan saya melintas di depannya. Bagaimana kondisinya, dok? apa ada yang serius?" tanya Mela panik.


"Jika anda datang terlambat saja, nyawa pasien sudah tidak bisa di selamatkan. Pasien menderita penyakit jantung. Untung saja anda datang tepat waktu," ucap dokter.


"Syukurlah, terima kasih ya dok."


"Sama-sama, nona. Sekarang kondisi pasien sudah stabil, anda bisa menemuinya sekarang juga. Dan saya permisi dulu, karena masih ada pasien yang harus saya tangani. Jika ada apa-apa pencet saja tombol yang ada di brankar tepatnya di atas kepala pasien."


Setelah mengucapkan akan hal itu, dokter lekas pergi dari hadapan Mela. Sementara Mela langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Om, bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Mela menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


"Alhamdulillah, saya sudah lebih baik. Untung ada kamu yang menolong saya, jika tidak pasti saya sudah anfal. Terima kasih ya, kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya pria paruh baya tersebut.


"Nama saya Mela, om. Oh ya, apakah ada salah satu keluarga om yang bisa di hubungi?" tanya Mela.


"Percuma saja, dia ada di luar negeri jadi takkan datang sekarang juga. Saya hanya punya satu anak lelaki yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Amerika. Dan saya cuma tinggal sendiri di rumah hanya dengan seorang asisten rumah tangga dan seorang tukang kebun,"ucap pria tersebut.


"Maaf, lantas istri anda dimana? apakah dia saat ini sedang bersama anak anda, om?" tanya Mela penasaran.


"Istri saya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu," ucapnya singkat.


"Ya ampun, maaf ya om. Saya tidak tahu jika istri anda telah meninggal dunia." Mela berpura-pura simpatik seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Ya nggak apa-apa, jika kamu ada acara atau sibuk biarkan saja saya di sini sendirian juga nggak apa-apa. Nanti saya bisa minta tolong asisten rumah tangga saya untuk datang kemari," ucap pria paruh baya tersebut.


Akal licik Mela mulai jalan, dia pun punya rencana buruk untuk pria paruh baya tersebut.


"Om, bagaimana jika saya bekerja sama om. Kebetulan saya sedang butuh pekerjaan tetapi gara-gara wajah saya ini, membuat saya sulit mendapatkan pekerjaan," ucap Mela berakting dengan wajah memelas.


"Ini semua karena ulah mantan saya yang suka KDRT dan juga sangat posesif cemburuan hingga saya seperti ini." Mela menitikkan air mata.


"Ya ampun jahat sekali, apa kamu tak melaporkan hal itu pada pihak yang berwajib?" pria paruh baya tersebut semakin terpancing dengan apa yang di katakan oleh Mela.


"Sudah, om. Saat ini mantan suami saya sedang menjalani masa tahanan," ucap Mela.


"Syukurlah jika begitu. Bagaimana kalau kamu bekerja untuk merawat saya hingga sembuh, apakah kamu mau?" tanya pria paruh baya tersebut merasa ragu.


"Serius, om. Saya akan senang sekali, om."


Sejak saat itu, Mela tinggal di rumah pria paruh baya yang bernama Sugawa. Dia merawat Sugawa dengan begitu telatennya, hal ini dia lakukan karena untuk bisa meluluhkan hatinya.

__ADS_1


Satu Minggu kemudian, Sugawa telah sembuh total. Dan dia merasa berhutang budi pada Mela. Hingga dia ingin menikahi Mela.


"Mela, terima kasih ya. Kamu telah


merawat saya dengan baik. Mela, apakah kamu mau menjadi istriku?" tanyanya.


Sejenak Mela sengaja terdiam karena dia ingin berpura-pura ragu pada Sugawa.


'Mela, kenapa kamu diam saja? apakah kamu tidak mau menikah denganku? ya sudah aku tidak akan memaksanya," ucap Sugawa sedih.


"Bukan begitu, om. Saya merasa diri saya ini tidak pantas untuk om. Saya hanya wanita biasa, sedangkan om orang kaya. Om juga bisa lihat kan betapa jeleknya wajah saya ini. Apa om nggak malu jika di lihat orang jalan dengan wanita seperti saya," ucap Mela.


"Mela, justru jika kamu mau menikah denganku. Aku akan membawamu berobat ke luar negeri, mengoperasi plastik wajahmu. Supaya wajahmu cantik kembali, dan aku juga akan memberikan semua yang kamu butuhkan tanpa kamu harus cape bekerja," ucap Sugawa.


"Hem, kena juga kamu dengan jebakan aku ya tua bangka," ada rasa bahagia di dalam hati Mela karena usahanya mendekati Sugawa telah berhasil.


"Baiklah, om. Saya bersedia menikah dengan, om. Tetapi bagaimana dengan anak om nantinya jika tahu menikah dengan saya?" tanya Mela ragu.


Karena Mela yakin anaknya pasti tidak akan setuju dengan pernikahan dirinya bersama Sugawa.


"Mela, kamu tak usah memikirkan hal itu. Anakku itu penurut, jadi dia tak akan membangkang dengan keputusan aku," ucap Sugawa meyakinkan.


Hingga akhirnya Mela pun mau menikah secepatnya dengan Sugawa. Dia sebenarnya sama sekali tak ada rasa cinta, hanya harta pria paruh baya tersebut yang dia inginkan untuk memperlancar balas dendamnya kelak pada, Olive dan Azka.


Keberuntungan saat ini sedang ada di tangan, Mela. Dia berhasil mewujudkan keinginannya untuk mengoperasi plastik wajahnya supaya cantik kembali.


Sementara di rumah sakit, kini Olive sudah ada kemajuan. Dia sudah sadarkan diri, sudah bisa menggerakkan tangannya walaupun hanya perlahan.


Tetapi dia belum bisa di ajak bicara, karena tatapan wajahnya juga masih kosong.

__ADS_1


"Rani, kenapa Olive seperti orang bengong ya?" tanya Ola heran melihat kondisi saudara kembarnya.


"Kamu yang sabar saja, semua kan butuh proses nggak instan. Sepertinya Olive masih di liputi rasa trauma ketakutan pada saat dirinya mengalami hal buruk yang membuatnya koma," ucap Rani menenangkan hati Ola.


__ADS_2