
Mela menangis histeris pada saat merasakan pipinya teramat perih karena luka sayatan yang di buat oleh Ola.
"Mampus kamu, Mela! ini belum seberapa, untukmu! untuk luka yang Olive terima karena peselingkuhanmu dengan Azka! aku yakin setelah ini, Azka tak kan lagi sudi ada di sampingmu. Dan pada saat itu aku yang akan meluluhkan hatinya hanya untuk merampas semua miliknya yang seharusnya menjadi milik, Olive." Gumamnya seraya mengemudikan mobilnya.
Sementara Azka pulang ke rumah melihat kondisi Mela menjadi tersentak kaget.
"Astaga, kenapa dengan dirimu? apa kamu sudah gila ya, masa rambutmu di botakin sendiri dan kenapa dengan pipimu itu?" tanya Azka merasa ngeri melihat Mela.
"Mas, kenapa malah kamu mengira aku ini gila? ini semua ulah dari, Olive. Baru saja dia dari sini dan tiba-tiba bertindak seperti ini padaku, masa iya kamu tak berpapasan dengannya?" ucap Mela seraya terus saja menangis.
"Ngaco kamu, Mela! kita ini sudah di luar kita, dan mana mungkin Olive tahu keberadaan kita! kamu terlalu banyak menghalu, sebaiknya kita periksa baaja kondisi kejiwaan kamu! aku kok jadi khawatir ya," ucap Azka melirik sinis pada Mela lalu dia pergi begitu saja.
"Mas, tega banget kamu menuduh aku berhalusinasi. Aku ini masih waras nggak gila, untuk apa pula aku berhalusinasi dengan aku menyukai diriku sendiri seperti ini!" Mela bagsi orang yang kesurupan, dia teriak-teriak histeris.
Setelah itu dia diam dengan terus terisak dalam tangisnya. Sementara saat ini Azka sedang membersihkan badannya tanpa mempedulikan teriakan Mela.
Beberapa menit kemudian, Mela yang menghampiri Azka sedang berkutat dengan laptopnya.
"Mas, apa kamu tak merasa kasihan padaku? tolong bawa aku ke dokter untuk mengobati luka di pipiku ini. Mas, aku berani bersumpah jika semua ini ulah dari, Olive," Ucap Mela lirih.
Azka menghela napas panjang, seraya menutup laptopnya.
"Mela, apa kamu sudah amnesia? aku sudah menjual rumah dan perusahaan. Secara mungkin saat ini Olive juga sudah di usir dari rumah itu. Kita pergi juga tidak ada yang tahu sama sekali, jadi tak mungkin Olive tiba-tiba datang kemari. Itu mustahil, apa lagi Olive mengurus Rere," ucap Azka masih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Mela.
"Ya sudahlah jika kamu tak percaya, suatu saat nanti pasti kamu akan percaya dengan apa yang aku katakan. Sekarang temani aku untuk merapikan rambutku dan juga mengobati luka di pipi ini," pinta Mela memelas.
__ADS_1
Azka pun tak tega hingga akhirnya dia bersedia menemani Mela mengobati luka di pipinya ke dokter. Hanya dalam waktu beberapa menit telah sampai di rumah sakit.
"Nona, bagaimana pipi anda sampai luka seperti ini?" tanya dokter merasa heran seraya perlahan mengobati luka sayatan pisau di kedua pipi Mela.
"Di lukai orang, dok. Dengan sebuah pisau," ucap Mela jujur.
"Mela, bagaimana mungkin? pada saat aku pulang, tangan kanan kamu memegang gunting dan tangan kirimu memegang pisau yang berlumuran darah. Aku juga tidak melihat adanya orang yang masuk," ucap Azka.
"Mas, kamu masih saja tak percaya padaku? kita bis cek rekaman video CCTV nya supaya kamu percaya bahwa aku sana sekali tak melukai diri aku sendiri," ucap Mela terus saja meyakinkan Azka.
"Nona-Tuan, mohon maaf tolong kalian jangan berdebat di sini. Untuk masalah pribadi di selesaikan di rumah saja."
Dokter merasa tak suka dengan apa yang di perdebatkan oleh Mela dan Azka karena dia masih harus menangani pasien yang lainnnya. Hal ini membuat pengobatan terhadap Mela menjadi terhambat.
Azka dan Mela serentak meminta maaf, keduanya lantas diam tak berdebat lagi. Dan setelah selesai mengobati luka di pipi, Mela mengajak Azka ke sebuah salon rambut untuk merapikan rambutnya.
"Mba, saya ingin merapikan rambut saya ini apa bisa ya?" tanya Mela.
"Maaf, nona. Saya juga bingung mau si buat model apa rambutnya karena kondisinya kok nggak karuan seperti ini? paling bisanya di potong model pria yakni seperti aparat polisi," ucap salah satu pegawai yang saat ini sedang menangani Mela.
"Mas, bagaimana ini? masa iya aku harus punya potongan rambut pendek sekali?" Mela tak ingin hal itu tetapi memang rambutnya sudah benar-benar habis karena di pangkas oleh Ola.
"Mau bagaimana lagi, jika tak ingin ya sudah penampilan kamu seperti ini saja mirip dengan orang yang ada di jalanan."
Azka berlalu pergi meninggalkan Mela karena dia merasa malu dengan penampilan, Mela saat ini.
__ADS_1
"Mas, kamu mau kemana? aku kan belum merapikan rambutku masa kamu pergi sih?" Mela berlari kecil mengejar Azka seraya meraih tangannya.
"Ah, masa bodoh dengan rambutmu yang udah botak itu! beli saja wig kan bisa, dari pada kamu tak ingin di rapikan seperti rambut aparat polisi," ucap Azka langtang.
Azka masuk kedalam mobilnya, dan pada akhirnya Mela pun ikut masuk ke dalam mobil, dia mengurungkan niatnya untuk merapikan rambutnya.
"Mas, temani aku membeli rambut palsu atau wig ya?" rengek Mela.
"Nggak lah, aku malu jalan denganmu dalam kondisi rambutmu seperti itu! apa kamu tadi tak lihat pada pegawai salon dan dokter saja menatap heran padamu. Hilang harga diriku ini karena ulahmu!" bentak Azka seraya melajukan mobilnya.
"Mas, sudah aku katakan ini bukan ulahku! tapi ini ulah Olive!"
"Baiklah, kita akan buktikan apa ini benar-benar ulah Olive."
Azka langsung menghentikan laju mobilnya, dan dia meraih ponselnya untuk melihat rekaman video CCTV.
"Kamu lihat, tidak ada bukti yang kuat atas tuduhanmu itu! lihat coba, mana ada Olive? malah rekaman video CCTV sama sekali tak bisa di buka!"
"Mas, paling ulah Olive."
"Sudahlah, aku yakin ini hanya akal-akalanmu saja! kamu buat drama dengan menyakiti diri sendiri. Dan kamu juga pasti yang telah merusak rekaman video CCTV supaya apa yang kamu lakukan tidak terbongkar olehku!"
Mendengar apa yang di katakan oleh Azka, Mela memicingkan alisnya.
"Mas, sekarang untuk apa juga aku melakukan ini semua? malas amat aku melukai diri sendiri seperti ini, untuk apa coba?" bentak Mela tak terima dengan tuduhan Azka padanya.
__ADS_1
"Mas, bagaimana lagi sih supaya kamu percaya dengan apa yang aku ucapkan?"
Azka hanya diam saja, tiba-tiba otaknya serasa buntu. Dan dia merasa benci dengan Mela karena penampilannya yang sekarang. Azka merasa jijik melihat Mela yang sekarang, dan rasa cintanya juga perlahan hilang.