
Tak terasa sudah satu bulan lamanya Azka berada di dalam penjara dan pada masa satu bulan tersebut tidak ada siapapun yang menjenguk dirinya termasuk, Ola.
"Sialan, ternyata Olive telah menipu aku dengan begini semua asetnya kembali lagi pada dirinya. Lihat saja Olive pada saatnya nanti aku keluar dari penjara akan aku ambil lagi asetmu itu!" batinnya kesal.
Sementara saat ini Mela sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Karena dia di nyatakan tidak gila. Dan pada saat ini dia juga akan membalas dendam pada Ola yang dia sangka adalah, Olive.
"Aku akan kerumah Mas Azka, dan memberikan bukti surat keterangan sehat ini. Siapa tahu dengan begini Mas Azka percaya padaku dan menerimaku lagi menjadi istrinya. Supaya aku bisa menjalani operasi plastik wajahku. Tanpa dia aku bukan apa-apa, tak punya harta sama sekali."
Mela dengan sangat antusias pergi ke rumah Azka. Akan tetapi dia kecewa karena rumah tersebut telah dijual.
"Hah, rumah Mas Azka telah di jual? lantas kemana lagi aku akan mencari Mas Azka? oh ya, sebaiknya aku ke kantornya saja pasti dia ada di kantor."
Melapun memesan taxi on line untuk menuju ke kantor Azka. Kebetulan dia masih punya perhiasan yang dia kenakan hingga dia bisa menjualnya untuk transportasi.
Hanya beberapa menit saja telah sampai di pelataran kantor. Dia pun melenggang santai akan masuk ke dalam kantor. Tetapi langkahnya terhenti karena di hadapan oleh dua security.
"Maaf, nona. Anda mau kemana?" tanya salah satu security.
"Heh, pak. Masa baru satu bulan tak bertemu sudah lupa pada saya?" ucap ketus Mela.
"Saya tidak lupa, tapi atas perintah Nona Olive. Kami tidak sembarangan menerima tamu," ucap salah satu security.
"Olive? ini kantor milik Azka bukan Olive," sanggahnya ketus.
Selagi berdebat, Ola datang tepat di belakang Mela yang sedang bersi tegang dengan dua security
"Pagi, Nona Olive," salam keduanya tersenyum ramah seraya menunduk sejenak menatap Ola.
__ADS_1
Melapun menoleh ke belakang, dia mengernyitkan alisnya.
"Oh pelakor sudah keluar dari rumah sakit jiwa ya?" ejek Ola tersenyum sinis.
"Jaga ucapanmu ya, Olive! aku ini bukan pelakor tetapi istri, Mas Azka!" sanggahnya kesal.
"Hhaaaa istri siri kan?" ejek Ola kembali.
"Diam kamu, Olive! jangan sampai aku adukan hal ini pada Mas Azka dan kamu bisa di hajarnya!" ancam Mela ketus.
"Hhaaa, panggil saja Azka suruh datang kemari. Asal perlu kamu tahu ya, rumah dan segala aset yang Azka ambil itu adalah punya aku semuanya. Dan saat ini sudah kembali padaku, pelakor! jadi jika kamu ingin mencarinya, bukan di sini tempatnya tapi di penjara!"
Mela terbelalak dan diam, dia terhenyak kaget pada saat mendengar kata penjara.
"Apakah yang di katakan oleh Olive benar adanya? lantas jika benar, kenapa Mas Azka bisa di penjara ya?" batinnya penuh tanda tanya.
Ola bahkan memberitahu pada Mela di lapas mana Azka di tahan. Tanpa menunggu waktu lagi, Mela pun pergi dengan penuh rasa kesal. Dia ingin membuktikan apakah yang di katakan oleh Ola benar atau tidak. Dia pergi menuju ke lapas.
"Jika apa yang telah di katakan oleh Olive benar, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Wajahku ini akan selamanya cacat dan tak bisa jalani operasi plastik," batinnya kesal.
"Huh, si pelakor muncul lagi. Bisa-bisanya dia keluar dari rumah sakit jiwa. Semoga kelak tidak menggangu kehidupan Olive lagi." batin Ola seraya melangkah masuk ke dalam kantor.
Beberapa menit kemudian, Mela telah sampai di lapas. Dia benar-benar tak percaya saat melihat Azka.
"Mas Azka, bagaimana semua ini bisa terjadi?" tanya Mela heran melihat wajah Azka yang terlihat berbeda. Wajahnya kusut tumbuh kumis dan jambang.
"Heh, kamu kenapa bisa ada di sini dan bagaimana bisa keluar dari rumah sakit jiwa?" Azka bukannya menjawabnya melainkan balik bertanya.
__ADS_1
"Karena aku terbukti waras sehat, tidak gila. Ini buktinya jika tak percaya." Mela memberikan surat tanda bukti keterangan sehat.
"Mas Azka, kenapa kamu tak jawab tanyaku tapi malah balik bertanya? kenapa pula kantor ada di tangan, Olive?" tanya Mela penasaran.
Azka pun menceritakan semuanya pada Mela tentang bagaimana dia ada di dalam penjara tetapi dengan berbohong bila semua yang menimpa dirinya adalah karena ulah, Olive.
"Lantas sekarang bagaimana mas, jika sudah begini?" tanya Mela bingung.
"Carilah cara supaya kamu bisa membebaskan aku. Kamu tahu kan tempat penyimpanan sertifikat tanah dan rumah kita yang baru. Ambil dan jual, uangnya bisa untuk membebaskan aku," ucap Azka.
"Mas, rumahmu juga sudah bukan menjadi milikmu lagi. Karena tadi aku juga sudah datang ke sana dan pada saat aku akan masuk sudah ada pemilik rumah yang baru," ucap Mela.
Azka membola matanya, dia pikir hanya aset perusahaan yang di ambil alih Ola ternyata semuanya.
"Sialan, jika seperti ini aku benar-benar sudah tak punya apa-apa. Lantas bagaimana nanti jika aku keluar dari penjara, akan kerja di mana dan tinggal di mana?" ucapnya bingung.
"Mas, serius kamu sudah tak punya apapun? haduh ya sudahlah sebaiknya memang kita tak usah lagi bersama percuma saja. Bagaimana nantinya jika aku tetap bertahan denganmu yang tak punya apa-apa," ejek Mela sinis.
"Siapa pula yang mau dengan wanita jelek seperti dirimu ini. Kamu pikir aku masih ingin denganmu, hah? pergi sana nggak usah datang lagi kemari! jijik aku melihat wajahmu yang sangat menyeramkan itu!" Azka mengusir Mela dengan lantangnya sampai aparat kepolisian yang sedang bertugas saja mendengarnya.
"Heh, sudah nggak punya apa-apa saja masih bisa sombong kamu mas. Selamat menikmati penderitaanmu itu sendirian. Dan aku pastikan suatu hari nanti pasti kamu akan terpesona padaku lagi jika aku sudah kembali cantik. Dan pada saat itu aku aku sudah dengan pria yang lebih kaya darimu!"
Setelah mengejek Azka, Mela pun berlalu pergi dari lapas tersebut. Dia sama sekali tak ada rasa sedih pada saat di campakkan begitu saja oleh, Azka. Dia orang yang sama-sama mempunyai sifat sombong. Baik itu Azka atau Mela itu tidak ada bedanya sama sekali.
Seperginya Mela, Azka pun kembali ke selnya. Tetapi dia terus saja melamun merenungkan nasibnya untuk sebelas bulan kemudian jika dia keluar dari tahanan.
"Belum apa-apa aku sudah khawatir untuk kehidupanku kelak. Karena selama ini aku terlalu angkuh pada seluruh saudaraku. Pasti tidak ada yang akan bantu aku,' batin Azka
__ADS_1