
"Jika seperti itu, mari kita bekerjasama untuk menghancurkan Leon," bujuk Faisal kembali.
"Hem, baiklah. Aku terima tawaranmu ini. Tapi untuk saat ini aku belum bisa fokus, hingga Olive sudah sembuh total, baru aku akan menyerahkan perusahaan untuk dia kelola. Dan pada saat itu aku barulah fokus dengan markasku," ucap Ola.
" Itu tak masalah untukku, aku tahu kok dari awal misimu yakni membantu saudara kembarmu terlebih dahulu," ucap Faisal.
"Aku sudah bisa dekat denganmu saja itu adalah anugerah yang sungguh luar biasa buatku," batin Faisal kegirangan karena dia merasa langkahnua untuk bisa mendapatkan cinta Ola semakin gampang.
"Ola, sebaiknya kamu terima saja tawaranku untuk memberikan salah satu apartement ku di pakai olehmu untuk markas barumu, karena kebetulan besar luas dan letaknya tersembunyi," ucap Faisal.
"Bukannya sudah aku katakan tadi, jika sudah ada tempat. Apa kamu tuli, hah? jika kamu keras kepala seperti itu, mending kita tak usah bekerja sama." Ola pun bangkit dari duduknya dan dia berlalu pergi begitu saja.
"Hem, Ola. Tunggu dulu, begitu saja marah. Aku minta maaf ya."
Faisal tak sadar dia meraih tangan Ola untuk menghentikan langkahnya.
"Siapa yang marah, aku sedang buru-buru dengan urusan kantor Olive. Tolong lepaskan tanganmu ini," Ola melirik sinis pada Faisal.
"Eh maaf, Ola. Aku reflek untuk menghentikan langkahmu supaya tidak pergi," Faisal salah tingkah lantas melepaskan cekalan tangannya pada, Ola.
Setelah itu Ola pergi begitu saja, sementara Faisal malah senyam senyum sendiri.
"Ola, aku suka wanita seperti dirimu. Justru sifat dingin dan keangkuhanmu yang membuat aku semakin tak sabar ingin lekas meluluh kan hatimu dan menjadikanmu permaisuriku," batin Faisal seraya tersenyum senang.
Pada saat Ola akan melajukan mobilnya, ponselnya berdering.
Kring kring kring kring
Ternyata panggilan telepon dari Rani.
"Ada apa, Ran?"
"Kamu sedang ada dimana, bisa nggak ke apartement aku sekarang karena ada yang ingin aku bicarakan dan hal ini penting."
"Aku sedang ada di jalanan, memang sepenting apakah itu?"
"Nggak usah banyak tanya, cepat kemari sekarang juga "
Setelah itu Rani mematikan panggilan telepon secara sepihak.
__ADS_1
"Kebiasaan suka suka sekali membuat aku penasaran." Gumamnya seraya melajukan mobilnya arah apartement Rani.
Tak berapa lama kemudian, telah sampai di pelataran apartement Rani. Ola langsung saja masuk dan dia sudah seperti di rumah sendiri. Melangkah ke dapur mencari minuman dingin dan cemilan.
"Ada apa ingin bertemu denganku, kangen ya?" candanya seraya mulut penuh dengan cemilan.
"Pede amat, untuk apa aku kangen sama wanita barbar sepertimu,"canda Rani terkekeh.
"Duduklah, biar aku nyaman bercerita. Lagi pula nggak semestinya makan sambil berdiri seperti kuda saja," ejek Rani hingga Ola pun menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu.
"Ola, ada yang suka sama Olive dan orang ini berkata langsung padaku."
Mendengar apa yang dikatakan Rani, sejenak Ola menghentikan aktifitas makan cemilannya.
"Hah, yang benar saja? lantas siapa orang itu, dan kenal dimana dengan Olive?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Ola.
"Dia itu Dokter Ridwan. Ia bercerita sendiri padaku dan bahkan meminta aku tuk bisa membantunya mendapatkan hati, Olive," ucap Rani.
"Ooooh cilok judulnya," ucap Ola terkekeh seraya melanjutkan lagi mengemilnya.
"Cilok itu Aci di cilok, makanan Ola. Yang benar itu cinlok, cinta lokasi," ucap Rani membenarkan.
"Ola, kamu sedang lapar apa doyan? dari tadi fokus ngemil, apa kamu nggak ada sebuah pemikiran atau solusi gitu?" tanya Rani penasaran.
"Justru aku setuju jika ada seseorang yang suka pada Olive. Ini menjadi jalanku lebih ringan dan mudah. Srta aku bisa lekas kembali ke aktifitas aku yang sebenarnya," ucap Ola sumringah.
"Jadi kamu setuju jika kelak Olive bersama dengan Ridwan?" tanya Rani ragu.
"Aku tidak akan mempermasalahkan siapa jodoh Olive yang selanjutnya asal pria itu benar dan tanggung jawab. Jika dia telah melakukan hal buruk pada Olive, dia akan berhadapan denganku secara langsung," ucap Ola.
"Aku pikir ada hal apa yang membuatmu meminta aku datang kemari. Ternyata hanya hal seperti ini." Opa menghabiskan cemilannya.
"Oh ya, aku pamit ya masih ada yang harus aku urus di kantor Olive. Nanti kalau ada waktu luang kita ketemu lagi."
Ola berlalu pergi begitu saja tanpa membereskan bekas minuman dan makanannya.
"Hah, kebiasaan buruk Ola seperti ini."
Rani membereskan semuanya itu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Ola telah sampai di kantor. Dia pun lekas menyelesaikan urusan kantornya.
*******
Beberapa hari kemudian, di rumah Sugawa. Rokcy berpamitan kembali ke luar negeri untuk melanjutkan studinya karena belum juga selesai.
"Pah, aku pamit ya berangkat lagi. Sebenarnya aku berat hati, aku masih betah di sini loh pah." Rocky melirik genit ke arah Mela.
"Hem, ya hati-hati. Selesaikan dulu studymu baru kamu bisa bebas kembali di Indonesia ini," pesan Sugawa.
Saat itu juga Rocky diantar oleh Mamang ke bandara. Sugawa merasa senang dan lega seperginya Rocky, tapi tidak dengan Mela, dia malah sedih tak ada lagi Rocky.
Karena tanpa sepengetahuan Sugawa, diam-diam Rocky dan Mela menjalin hubungan terlarang.
"Sayang, sekarang kita aman. Sudah tak perlu lagi di tutupi hubungan kita karena tak ada lagi Rocky." Ucap Sugawa seraya menghampiri Mela dan memeluk pinggangnya.
Sebenarnya Mela tak suka dengan hal ini, tetapi dia tak bisa menolaknya karena memang dia istri sahnya.
"Mas, kamu itu aneh ya. Masa anak pergi malah senang, kan seharusnya sedih," ucap Mela ketus.
"Bukan begitu, sayang. Jika di rumah ini ada Rocky, kita tak bisa bebas berduaan. Aku kan kangen seperti ini denganmu," ucap Sugawa.
"Mas, aku mau ke toilet dulu ya. Tiba-tiba perut aku mules." Mela melepaskan diri dari pelukan Sugawa.
"Aneh, kenapa sikap istriku kok berubah dingin padaku? padahal Selena ada Rocky, dia begitu bersahabat dengan Rocky dan selalu saja tersenyum senang sekali," gumamnya seraya menghela napas panjang.
Sementara Mela di toilet kamar merasa jengah dan kesal pada Sugawa.
"Ih, kenapa nggak si tua bangka saja yang pergi kalau perlu ke akhirat sekalian biar aku bisa bebas bersama dengan Rocky," gumamnya lirih.
Dia senyam senyum sendiri kaka ingat kebersamaan dirinya dengan Rocky. Tanpa sepengetahuan Sugawa, diam-diam mereka berdua sering pergi ke luar bersama.
"Tok tok tok "
Pintu toilet di ketuk dari luar.
"Sayang, apa kamu masih lama? aku jha tiba-tiba mules nech," teriaknya dari luar pintu toilet.
Mela sungguh kesal karena lamunannya harus sirna gara-gara ketuksn pintu tersebut.
__ADS_1