
Namun tubuh Ola tetap tak bergeming walaupun di dorong oleh, Mela. Justru Ola semakin mendekati Mela dan dia melotot tepat di hadapan Mela.
"Plak.. plak...bug..."
Dua tamparan di pipi kanan kiri Mela, serta satu pukulan di perutnya.
"Aaaahhh.... sialan...dasar wanita barbar..!" Mela merintih kesakitan memegangi perutnya dan juga pipinya yang terkena tamparan.
"Makanya jangan pernah menantang wanita barbar jika tak ingin mendapatkan perlakuan kasar!" bentak Ola tersenyum sinis.
"Kamu pikir aku akan tinggal diam dengan perlakuan kasarmu ini, hah? justru aku akan melaporkan dirimu pada, Mas Azka. Pasti kamu akan di pecat saat ini juga!" ancam Mela masih menahan rasa sakit.
"Silahkan saja, aku tak takut. Aku ingin lihat seberapa cintanya Tuan Azka padamu. Aku rasa bukan aku yang akan menyingkir tetapi justru dirimu itu," ucap Ola tersenyum sinis.
"Masih mau menantang aku, ayok kalau berani kita adu jotos sekalian," tantang Ola.
Mela sama sekali tak menjawab, justru dia berlari ketakutan dan karena tak konsentrasi, dia pun menabrak pintu.
"Aaduhh...""" rintihnya kesakitan.
"Haaa mampus loe, makanya jangan sok ya," ejek Ola terkekeh.
Mela keluar dari ruang kerja Ola dengan mata berkaca-kaca, dan kebetulan dia berpapasan dengan Azka yang akan ke ruang kerja Ola.
"Mas Azka, pecat sekarang juga wanita barbar yang menggantikan posisiku. Baru saja dia telah menyakiti aku dengan menampar kedua pipiku dan meninju perutku," Mela mengadu tetapi Azka hanya mengernyitkan dahinya.
"Kamu mengigau apa lagi sih, lagi pula sedang ngapain di depan ruang kerja Via?" tanya Azka tak suka dengan sikap Mela.
"Aku barusan ketemu Via, dan hanya ingi kenal lebih dekat tetapi aku malah mendapat perlakuan kasar darinya,' ucapnya bohong.
Azka tak menghiraukan apa yang di katakan oleh Mela, dia hanya melirik sinis saja ke arah Mela. Lantas dia masuk ke ruang kerja, Ola. Dimana Ola sedang fokus dengan seabreg berkas yang ada di mejanya.
"Tuan Azka, maaf saya tidak tahu ada anda karena saya sedang fokus dengan pekerjaan saya." Ola menangkupkan kedua tangannya di dada.
Sementara Mela membuntuti Azka.
__ADS_1
"Heh, kenapa kamu malah mengikuti aku? kembali sana ke ruanganmu!" perintah Azka lantang pada Mela.
"Mas, kenapa kamu diam saja? aku ingin melihat kamu memarahi dia yang telah berbuat kasar padaku barusan," ucap Mela menatap tajam pada Ola.
"Berbuat kasar apa ya? dari tadi saya sibuk mengerjakan tugas saya kok. Oh saya tahu, Tuan. Nona ini kan nggak suka posisinya tergantikan oleh saya, makannya dia menghasut."
"Saya rela kok Tuan, jika saya tidak ada di ruangan ini. Dari pada Nona ini terus saja memusuhi saya bahkan memfitnah saya."
Ola sengaja pasang wajah sedih di hadapan Azka hingga membuat Azka tersentuh hatinya.
"Via, kamu tenang saja ya. Saya percaya kok sama kamu memang akhir-akhir ini Mela suka sekali berhalusinasi. Sepertinya dia harus dibawa ke psikiater dech," ucap Azka seraya melirik sinis ke arah Mela.
"Mas, kamu kok nggak percaya padaku sih? masa kamu lebih percaya dengan wanita yang baru beberapa hari kamu kenal. Coba saja kamu cek CCTV di ruangan ini pasti kamu bisa melihat bagaimana barbarnya dia barusan padaku," ucap Mela terus saja membujuk Azka.
Azka hanya diam saja tak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Mela.
"Tuan Azka, jika anda penasaran cek saja rekaman CCTV di ruangan ini. Untuk pembuktian apakah yang dia katakan itu benar adanya," ucap Ola.
Akhirnya Azka menuruti apa yang di sarankan oleh Ola. Sejenak dia mengambil ponselnya dan mengecek rekaman video CCTV di ruangan Ola. Akan tetapi tidak ditemukan adanya kekerasan yang di lakukan oleh Ola pada Mela. Hanya Ola yang sedang sibuk bekerja di ruangan tersebut.
Mela terus saja meronta sepanjang perjalanan, dia mengatakan jika apa yang dia katakan adalah benar adanya.
"Mas Azka, aku ini masih waras tidak gila. Tadi Via benar-benar melakukan hal kasar padaku. Tolong jangan bawa aku ke psikiater," rengek Mela.
Tetapi Azka sama sekali tak berkata apapun. Sementara Azka pergi bersama dengan Mela. Ola pun lekas ke ruang kerja Azka yang lokasi tak jauh dari ruangannya yakni bersebelahan, hingga dia mudah bergerak tak perlu repot-repot celingukan.
Ola masuk dengan cekatan walaupun ruangan di kunci, dia gunakan dengan tusuk rambutnya. Sehingga dia bisa masuk dengan mudah ke ruangan tersebut.
"Aman, karena ruangan ini malah tak di pasang CCTV. Aku bisa bergerak cepat jika seperti ini."
Gumamnya terus saja mencari aset yang penting.
"Aduh, di mana Azka meletakkan semua aset pentingnya ya? kenapa pula tak aku temukan?" batinnya mulai kesal.
Satu jam, Ola terus saja mencari sesuatu aset yang penting di ruang kerja. Tetapi tak juga di ketemukan.
__ADS_1
"Tap tap tap tap ..."
Terdengar langkah kaki seseorang menuju ke ruangan tersebut.
"Gawat, pasti itu Azka. Kenapa cepat sekali pulangnya?" Ola langsung berlari masuk ke kamar yang ada di ruang kerja Azka. Dia pun bersembunyi di kamar tersebut.
Krek......
Terdengar pintu ruangan tersebut di buka seseorang.
"Loh, kok pintunya nggak di kunci ya? perasaan sebelum aku pergi sudah aku kunci." Ucap Azka hingga terdengar oleh Ola yang ada di dalam kamar di ruangan tersebut.
Sejenak Azka masuk ke ruang kerjanya, dia pun mencari sesuatu yang ternyata ponselnya tertinggal di laci mejanya. Setelah itu dia pun bergegas ke luar ruangan tersebut dan menguncinya kembali.
"Sepertinya sudah aman, Azka sudah pergi. Oh iya, kenapa aku tak cari saja di kamar ini ya, siapa tahu ada di sini."
Ola mulai mencari sekeliling kamar hingga dia mengangkat kasurnya, menengok kolong ranjang. Semua sisi dia cek, tapi tak di temukan aset satupun.
"Azka, kamu simpan di mana semua aset milik Olive?" batinnya kesal.
Selagi masih sibuk mencarinya, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Kring kring kring kring"
"Hah, Azka menelpon. Ganggu saja!"
Ola sama sekali tak ada rasa panik atau khawatir. Dia tak pernah takut dengan apapun. Saat itu juga Ola mengangkat panggilan telepon dari Azka
"Hallo, Tuan ada apa ya?"
"Via, aku cari di ruanganmu tapi kamu tak ada. Ruanganmu di kunci dari luar, lantas kamu sedang ada di mana?"
"Hem, maaf ya Tuan. Saya pergi di jam kerja bahkan saya tak pamit atau tak izin terlebih dahulu. Saya sedang ada keperluan keluarga ini sedang perjalanan kembali ke kantor."
"Kira-kira berapa menit lagi biar aku tunggu di depan ruanganmu ini."
__ADS_1
"Lima menit lagi, Tuan."