
Pada saat Dion sudah sampai di ujung desa, ia tak mendapati adanya Doni.
"Di mana Doni, sama sekali tidak ada mobilnya di sini?" Dian celingukan ke sana kemari mencari mobil Doni tapi tidak juga ya ketemukan. Dia pun memutuskan untuk keluar dari mobilnya tersebut melangkah agar lebih leluasa dalam mencari keberadaan, Doni.
Namun pada saat dia melangkah, tiba-tiba ada sosok yang membekap mulutnya hingga dia pun tak sadarkan diri saat itu juga. Orang-orang tersebut adalah anak buah dari Faisal.
Para anak buah Faisal membawa Doni ke penjara bawah tanah, dimana saat ini Dion juga di tahan. Untuk beberapa saat, barulah Doni dan Dion sadar.
"Bagaimana kita ada di sini?" tanya Doni menatap pada Dion.
"Aku juga tidak tahu, ini semua gara-gara kamu yang tadi mengirimkan chat pesan padaku dengan memberitahu bahwa mobilmu sedang dalam masalah di ujung desa," ucap Dion ketus.
"Aku sama sekali tak tahu apa-apa, dan tak pernah menghubungi dirimu. Omong kosong apa ini, Dion?" protes Doni
Keduanya terus saja berdebat menyalahkan satu sama lain. Hingga beberapa saat kemudian, datanglah Faisal dengan senyum sinisnya.
"Jadi...
"Yah, akulah yang telah menangkap kalian berdua. Selamat bersenang-senang di dalam sel sebelum aku menghabisi kalian berdua," ucap Faisal ketus.
"Memangnya kamu mampu menghabisi kami, pasti kamu tidak akan tega," ucap Doni terkekeh.
"Hahaha... apa kamu mau aku habisi sekarang juga? kamu pikir aku ini ketua mafia yang baperan? apalagi kalian telah membakar perusahaanku jadi akan lebih mudah untuk aku menghabisi kalian. Tetapi aku pikir itu terlalu enak untuk kalian makanya aku ingin membuat kalian ini tersiksa menderita sebelum ajal menjemput kalian," ucap Faisal ketus.
Iapun berlalu pergi begitu saja tanpa berkata lagi. Karena ia memang benar-benar akan membuat Doni dan Dion menderita terlebih dahulu. Dia tidak akan langsung menembak mati mereka, tetapi akan membuat penyiksaan dahulu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk dua orang itu ya? aku tidak ingin mereka mati begitu saja tanpa merasakan penderitaan terlebih dahulu," batin Faisal sedang memikirkan rencana bagus untuk menyiksa Doni dan Dion.
"Sebaiknya aku tanya saja pada wanitaku karena otak dia itu begitu cerdas."
__ADS_1
Saat itu juga Faisal menelpon Ola.
"Ada apa lagi telepon?"
"Masa sama seorang kekasih bicaranya ketuk seperti itu?"
"Sudah katakan saja aku tak suka sama orang yang bertele-tele, plin plan, dan basa basi!"
"Baiklah kalau begitu biar aku yang datang ke markasmu saja."
Saat itu juga Faisal mematikan panggilan teleponnya kepada Ola. Dia pun lekas pergi menuju ke markas, Ola. Hanya beberapa menit saja Faisal telah sampai di markas, Ola.
"Ada apa kamu datang kemari?" tanya Ola ketus.
"Ya ampun sama seorang kekasih kok jutekny seperti itu," protes Faisal.
"Biarpun aku jutek tapi kamu suka sama aku kan. Sudah katakan saja apa maksud kedatanganmu kemari," ucap Ola sudah tak sabar ingin mendengar apa maksud Faisal datang ke markasnya.
"Belum, bukannya terakhir aku baru memberikan saran bagaimana cara memancing Doni dan Dion yang untuk keluar dari markasnya."
"Aku telah menangkap mereka berdua tetapi aku sedang bingung cara yang tepat untuk menyiksa mereka itu apa. Karena aku tidak ingin mereka mati begitu saja aku ingin membuat mereka menderita terlebih dahulu," ucap Faisal.
"Astaga Faisal, seperti itu saja kamu harus menanyakannya padaku? katanya kamu ini seorang ketua mafia besar, tetapi hanya masalah sepele saja kamu tidak bisa menyelesaikan sendiri, bahkan kamu tidak bisa menangkap Doni dan Dion jika tidak aku yang memberimu saran," ejek Ola ketus.
"Ya memang seperti inilah aku sejak mengenal dirimu yang ada di otakku hanya dirimu saja, sayang," rayu Faisal.
"Tak usah kamu merayu, aku tak suka dengan rayuanmu itu," ucap Ola ketus.
"Siapa pula yang sedang merayu, aku sedang mengatakan apa yang saat ini aku rasakan. Bukan suatu rayuan, aku mengatakan hal yang benar aku tidak munafik tetapi kamu malah seperti itu," protes Faisal manyun.
__ADS_1
"Sudahlah tak usah mengajakku berdebat yang ada nanti aku tidak bisa berpikir untuk memberikan solusi padamu."
Saat itu juga Faisal tak berkata lagi, dia hanya diam seribu bahasa, begitu pun dengan Ola sejenak diam karena dia sedang berpikir mengenai apa yang tepat untuk menghukum Dion dan Doni.
"Aku ada satu cara tetapi kamu setuju atau tidak aku tidak tahu," ucap Ola ragu.
"Katakan saja sayangku tak usah ragu, apapun cara yang kamu sarankan pasti itu yang terbaik." Ucap Faisal seraya mengedipkan satu matanya pada Ola.
"Aku nggak suka kamu genit seperti itu, apa mau aku colok matamu itu!" ancam Ola.
Mendengarkan ancaman yang dilontarkan oleh Ola, Faisal menutup kedua matanya.
"Ikat saja kedua tawananmu itu di sebuah pohon besar yang penuh dengan lebah. Atau bakar hidup-hidup atau kubur hidup-hidup," ucap Ola.
"Hem, tapi sepertinya itu cara kurang tepat dech," ucap Faisal.
"Ya sudah cari saja cara sendiri, nggak usah tanya-tanya aku lagi," ucap ketus Ola.
Faisal hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir kenapa sifat Ola sedingin itu tidak ada sedikitpun sisi romantisnya.
"Aku sudah berhasil membuat Ola menjadi kekasihku, tetapi kenapa sikapnya masih saja dingin dan arogant seperti itu ya? lantas bagaimana aku bisa merubahnya untuk dia bisa menjadi seorang wanita yang feminin dan benar-benar sempurna," batin Faisal.
Setelah ia memperoleh sebuah ide dari, Ola. Ia pun berpamitan padanya untuk kembali ke markasnya.
Satu keputusan yang akan dia lakukan untuk dua tawanan yakni membakar mereka secara hidup-hidup.
Faisal mencari waktu yang tepat yaitu pada waktu tengah malam, membawa kedua tawanannya ke sebuah hutan. Doni dan Dion ditutup matanya, mereka diikat dengan posisi saling membelakangi tubuh mereka dan saat itu juga tubuh mereka dikelilingi oleh kayu-kayu bakar disiramlah tubuh mereka dengan bensin, dan saat itu juga mereka di bakar secara hidup-hidup.
Bahkan Doni dan Dion tak bisa berteriak minta tolong, karena mulut mereka juga di sumpal dengan kain yang tebal. Begitu sadis ide yang di sarankan oleh Ola pada Faisal. Seluruh anak buah Faisal bergidik merinding saat melihat kejadian itu.
__ADS_1
Seorang pria tampan tega berbuat keji seperti itu. Mending di tembak mati sekaligus mereka tidak akan merasakan sakit. Tapi di bakar hidup-hidup akan membuat mereka merasakan sakit yang berkepanjangan.
Itulah akhir hidup Dion dan Doni, mati perlahan-lahan dengan cara di bakar hidup-hidup.