
"Katakan saja apa yang membuatmu resah seperti itu," ucap Rani menatap heran pada sahabatnya itu.
"Sepertinya aku sedang jatuh cinta tapi aku takut untuk mengatakannya, dan aku juga takut mendapatkan sebuah penolakan," ucap Dokter Ridwan seraya menghela napas panjang.
"Memangnya kamu telah jatuh cinta pada siapa? bukannya selama ini kamu itu jauh sekali dengan wanita?" canda Rani terkekeh.
"Hhee memang iya, tapi sejak aku dekat dengannya selalu saja dada ini berdegup dengan kencangnya," ucap Dokter Ridwan tersipu malu.
"Bagaimanakah rasanya kalau sedang jatuh cinta seperti itu?" tanya Rani terkekeh.
"Hhee yah seperti ini rasanya, hanya saja jika belum tersambut rasanya nggak enak juga. Kamu bisa nggak bantuin aku supaya gayung ini tersambut?" pinta Dokter Ridwan memelas.
"Memang siapa wanita yang beruntung it sih?" tanya Rani penasaran.
"Hemmmmmmm Olive," ucapnya tersipu malu.
"Hah, serius? kok bisa sih kamu jatuh cinta pada seorang Olive, padahal kan kamu baru sebentar merawatnya?" Rani masih saja belum percaya dengan penuturan Dokter Ridwan.
"Ya aku juga tak tahu, rasa ini datangnya secara tiba-tiba begitu saja. Tolongin aku dong, supaya dia menyambur rasaku ini," pintanya memelas.
"Ya ampun, Ridwan. Kamu ini kan laki-laki, masa iya kamu tak bisa mendekatinya sendiri. Yakin saja kalau kamu itu mampu menaklukkan hat, Olive. Tapi biasanya seseorang yang tengah terluka justru sulit sekali untuk di taklukkan, pasti rasa traumanya lebih besar," ucap Rani.
"Seperti dirimu ini ya hingga sampai detik ini kamu tak mengenal yang namanya cinta, karena pernah patah hati itu ya?" ucap Dokter Ridwan.
"Nah itu kami tahu," ucapnya lagi.
Setelah tak berhasil meminta tolong pada Rani, Dokter Ridwan pun berlalu pergi dari klinik tempat praktek Rani.
"Hem, aku pikir Rani akan bantu aku tetapi malah seperti ini. Ya sudahlah, aku akan berusaha mendekat, Olive sendiri seperti yang Rani sarankan tadi," gumamnya seraya melajukan mobilnya.
Sementara saat ini, Ola sudah ada di markas besarnya.
"Brian, kamu pinta pada yang lain yang tak alami luka atau cedera untuk membawa yang terluka ke rumah sakit dengan segera. Dan kamu urus untuk para keluarganya, berikan biaya kerugian atas kecelakaan yang menimpa salah satu anggota dari mereka," pinta Ola.
"Baik, bos."
"Siapa dalang yang melakukan ini semua?" gumamnya seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
Kring kring kring kring
Ponsel Ola tiba-tiba berdering, ada salah satu panggilan telpon.
"Nomor asing, kiranya siapa ini?" Ola lekas mengangkatnya.
"Ola, aku tahu siapa dalang yang telah membakar markasmu itu. Karena aku sempat melihatnya, tapi pada saat akan aku tangkap dia melarikan diri."
"Siapa kamu?"
"Aku orang yang menganggumimu yang waktu itu datang ke markasmu ingin membantumu menyelesaikan permasalahan Olive."
"Faisal?"
"Ya betul, kamu mau tahu nggak siapa yang ada di balik kebakaran itu?"
"Katakan siapa?"
"Salah satu dari anak buahmu yang telah berkhianat, dia sekarang menjadi kaki tangan, Tuan Leon. Musuh besar almarhum papahmu. Nanti aku kirim foto anak buahmu itu."
Setelah mengatakan hal itu, Faisal mematikan panggilan telponnya dan tak lama kemudian dia mengirim sebuah pesan berupa foto.
"Pak Bandi, jadi dia yang telah berkhianat? tapi aku harus menyelediki dulu apakah informasi yang di dapat dari Faisal ini benar adanya."
Keberhasilan Brian sudah menyelesaikan kekacauan yang terjadi di markas dan ia langsung menghadap Ola.
"Semua sudah di selesaikan, bos. Apakah ada yang akan di kerjakan lagi?" tanya Brian.
"Ada, menurut informasi ada yang berkhianat di markas kita dan ini orangnya. Segera kamu selidiki segala tindak tanduk dia. Jika benar dia ini siksa menjadi kaki tangan, Si Tuan Bangka Leon, aku tak segan-segan akan mematahkan kakinya!" Ola menunjukkan sebuah foto pada Brian.
"Bos, ini kan.. bukankah dia senior di markas ini, mana mungkin berkhianat?" Brisn merasa ragu jika Pak Bandi yang telah melakukan pembakaran terhadap markas besar milik Ola.
"Kamu lakukan saja apa yang aku perintahkan tadi nggak usah membantah!" ucap lantang Ola.
"Baik, bos siap laksanakan tugas."
Saat itu juga Brian melakukan tugasnya tanpa membantah lagi. Dia mulai menyelidiki kemanapun Pak Bandi pergi.
__ADS_1
"Kemana Pak Bandi akan pergi? memang sepertinya mencurigakan sekali."
Brian mulai menguntit kepergian Pak Bandi, akan tetapi dia mengenakan sepeda motor supaya gerakan tak terhalang dan bisa menyusup ke jalan yang sempit.
Pak Bandi berhenti di gubuk tua yang tepatnya di tengah hutan belantara.
"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu, Bandi? apa kamu telah melakukannya dengan baik atau kamu gagal?" tanya Leon penasaran.
"Semua terlaksana dengan baik, Tuan. Seperti yang diinginkan oleh Tuan Leon," ucap nya begitu yakin.
"Bagus, kalau begitu nanti aku transfer sisa uang yang sudah aku janjikan padamu. asku yakin Ola tidak akan bisa mendirikan markasnya kembali karena telah terbakar habis, kerja yang sangat bagus dan kamu patut diacungi jempol."
Puji Leon seraya mengacungkan dua ibu jarinya pada Bandi dan terkekeh.
"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu saya lekas kembali ke markas Ola karena saya tidak ingin dicurigai olehnya," ucap Bandi berpamitan.
"Baiklah, jika ada kabar yang sekiranya penting jangan lupa kamu segera memberitahu pada saya," pesan Leon.
"Pasti, tuan."
Saat itu juga Bandi bergegas pergi meninggalkan gubug tua tersebut.
Sementara Bran sudah berhasil merekam pembicaraan antara Bandi dan Leon. Dia segera pergi terlebih dahulu dari tempat itu.
Brian sampai lebih dulu di markas yang sudah tak layak di huni, di sana dia langsung menunjukkan hasil rekamannya.
"Bos, ternyata kecurigaan anda benar. Lihatlah apa yang telah aku temukan." Brian memperlihatkan rekaman video percakapan antara Leon dan Bandi pada Ola.
"Hem, jadi informasi yang aku dapat sangat akurat. Hebat sekali dia mampu mengetahui musuh dalam selimut," ucap Ola.
"Brian, jika Pak Bandi sudah datang suruh dia menghadapku sekarang juga. Dan pada saat aku bersamanya, kamu kumpulkan juga semua anak buah kita. untuk melihat sebuah pertunjukan yang akan aku lakukan pada seorang penghianat," ucap Ola mengepalkan tinjunya.
Tak berapa lama Pak Bandi telah kembali ke markas dan saat itu juga diharapkan menghadapi pada Ola. Begitu pula dengan semua anak buah Ola berkumpul di hadapannya.
"Pak Bandi, apa kamu tahu kenapa saya memanggilmu untuk menghadap?" tanya Ola menatap sinis pada, Bandi.
"Tidak tahu, bos."
__ADS_1
Dor dor
Ola menembak satu kaki Bandi dan satu tangannya. Saat itu juga darah mengucur dengan derasnya.