Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 21


__ADS_3

"Nona. Kalau boleh aku memberi saran. Dekati saja orang-orang itu. Mungkin, dari mereka nona akan tahu sebuah kebenaran yang selama ini nona ingin ketahui."


Cherry terdiam. Matanya menatap lurus ke depan. Tapi perlahan, benaknya membenarkan apa yang Zia katakan barusan. Mungkin, cara satu-satunya untuk membuat rasa penasaran itu hilang adalah dengan mencari tahu dari sumber penyebab rasa penasaran itu sendiri. Meskipun, itu sangat sulit.


"Yah. Sepertinya memang harus begitu, Zia. Karena orang itu, sampai saat ini aku masih belum tahu siapa."


"Orang itu tidak bisa kita tembus, Nona. Kak Letto sudah berusaha keras untuk mencari tahu siapa orang yang sudah menyelamatkan nona waktu itu seperti yang nona harapkan. Tapi sayang, sampai detik ini, tidak ada satupun informasi yang bisa kak Letto temukan. Bahkan, gudang bekas itupun tidak bisa kak Letto dekati sekarang."


Ya. Saat ini, Cherry sedang berada dalam masalah seperti merasa sesuatu yang datang dari masa lalu. Tepatnya, setelah panggilan Zein waktu di parkiran tadi. Cherry mundur karena dia merasa, kalau Zein adalah orang yang sama dengan orang yang memanggil penyelamat Cherry lima tahun yang lalu.


Tapi, hatinya masih merasa tidak yakin sekarang. Karena yang Zein panggil adalah Gerry, anak orang terkenal pertama di kota itu. Dan, yang paling tidak bisa diterima logika Cherry adalah, Gerry kakak dari Icha. Orang yang paling ingin dia mintai pertanggung jawaban atas perginya sang kakak.


'Tuhan, bagaimana jika benar dia orang yang sudah menolong aku? Haruskah aku tetap membalaskan dendam pada adiknya? Ah, bukan. Haruskah aku tetap melibatkan dia dalam misi balas dendam ini?' Cherry bertanya dalam hati pada dirinya sendiri.


Sementara itu, Zia yang merasa kalau Cherry benar-benar sedang memiliki beban pikiran yang berat, langsung memutar otak untuk menolong Cherry. Dia memang tidak tahu apa-apa. Tapi, dia sudah menganggap Cherry sebagai saudaranya. Karena itu, sebisa mungkin dia akan menolong Cherry dengan semua kemampuan yang ia miliki.


"Ah, nona." Zia berucap sambil menyentuh baju Cherry dengan lembut.


Seketika, Cherry menoleh. Tapi, masih tidak berucap satu patah katapun.


"Bagaimana kalo sekarang, nona lupakan dulu soal ini? Karena ini sudah cukup larut malam, maka sebaiknya nona istirahat. Besok pagi, masih ada hari berat yang menunggu nona, bukan?"

__ADS_1


Cherry langsung melepas napas kasar.


"Huh ... iya. Kamu benar, Zi. Tapi, masih ada satu hal yang ingin aku bagikan padamu, Zia."


"Apa itu, nona?"


"Untuk yang pertama kalinya setelah aku berubah, aku menemukan lawan yang seimbang denganku dalam bertarung."


"Apa maksud, nona?" Zia bertanya sambil mengangkat satu alisnya. Tidak lupa, tatapan serius ia perlihatkan pada Cherry.


"Kau tahu? Tadi aku berhadapan dengan orang yang punya ahli bela diri yang cukup kuat. Ah, bukan cukup, tapi sangat kuat. Bahkan, di atas kemampuanku." Cherry bercerita dengan nada yang penuh dengan rasa kagum.


Zia bisa merasakan, bahkan bisa melihat dengan jelas hal tersebut. Untuk pertama kalinya setelah ia bangkit dari keterpurukan, Cherry menunjukkan rasa kagum pada seseorang.


nona berhadapan langsung dengan asisten dari tuan muda grup Sudirja itu?"


"Bukan asistennya. Melainkan, tuan mudanya sendiri. Mm ... bisakah kak Letto mencari tahu tentang latar belakang tuan muda ini, Zia?"


Dia sedikit melongo. Entah karena kaget, atau karena bingung mau menjawab apa. Tapi yang jelas, dia seperti sedang merasakan sesuatu yang tiba-tiba.


"Zia. Kenapa kau diam?" Cherry langsung berucap lagi karena Zia tidak menjawab apa yang ia tanyakan sebelumnya.

__ADS_1


"Ah, ma-- maaf, nona. Maafkan saya. Itu ... sebelumnya, saya sudah minta kak Letto menyelidiki soal tuan muda direktur dari Sudirja grup karena saya takut kita salah dalam menjalankan kerja sama. Tapi ... hasilnya ... tidak ada, nona."


Sontak, ucapan itu membuat Cherry langsung menoleh ke arah Zia. Dengan tatapan bingung, dia melihat wajah Zia.


"Maksud kamu apa, Zia? Tidak ada apanya?"


"Tidak bisa kita tembus, nona."


Mendengar ucapan Zia, Cherry langsung terdiam sesaat. "Jadi, dia sama seperti orang yang sudah menyelamatkan aku waktu itu, Zia. Tidak bisa kita lacak latar belakangnya? Begitu maksud kamu?"


"Iya." Zia berucap sambil mengangguk pelan kepalanya.


Cherry pun langsung mengalihkan pandangannya dari Zia. Kini, hatinya merasa semakin yakin kalau Gerry dan Zein asistennya itu ada hubungan dengan seseorang yang telah menyelamatkan dirinya saat kebakaran di gudang beberapa tahun yang lalu.


Cherry pun langsung melepas kasar napasnya.


"Huh ... sepertinya, aku harus segera bertatap muka dengan Chika. Aku harus segera menyelesaikan balas dendam ini secepatnya. Karena tugas yang harus aku jalankan akan semakin banyak lagi sekarang." Cherry berucap sambil menatap lurus ke depan.


"Zia, besok aku akan datang sendiri ke perusahaan Sudirja grup. Kamu tidak perlu mengantikan aku lagi mulai besok."


"Baik, nona. Apa yang terbaik menurut nona, maka itulah yang akan saya dukung."

__ADS_1


"Hm."


__ADS_2