Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 36


__ADS_3

"Tapi Nona .... "


Cherry langsung menyentuh pelan pundak Zia.


"Jangan cemas, Zia. Kamu tahu aku, bukan? Kamu kenal aku sudah lama, kan? Jadi, jangan cemaskan aku. Kita tetap bergerak seperti yang kita rencanakan sebelumnya."


Zia tak lagi bisa membantah. Karena dia tahu bagaimana sifat Cherry yang agak keras kepala itu. Tidak akan mau mendengarkan apa yang orang lain katakan setelah ia mengambil keputusan yang ia anggap benar. Jadi, singkatnya, Cherry tidak akan bisa ia cegah walau bagaimanapun kerasnya usaha yang ia lakukan.


...


Malam harinya, Cherry dengan pakaian yang sama dengan sebelumnya saat ia ingin beraksi, menyusup masuk ke kediaman Sudirja. Cukup sulit buat Cherry untuk menemukan kamar Chika. Tapi, usaha yang ia lakukan tidaklah sia-sia. Karena setelah usaha yang cukup keras ia lakukan, kamar Chika berhasil dia masuki.


Kebetulan, saat ini Chika sedang istirahat setelah hari panjang yang ia lalui. Setelah lelah berpura-pura menjadi orang tertindas, dia akhirnya bisa menikmati waktu tenang malam ini.


Chika yang awalnya berbaring dengan wajah tersenyum manis dengan tangan memeluk guling itupun jadi sangat terkejut dengan kemunculan Cherry di kamarnya. Bagaimana tidak? Tentu dia sangat terkejut karena rumahnya yang ketat sistem keamanan, kini bisa-bisanya meloloskan orang asing. Mana bisa sampai masuk ke kamarnya lagi.

__ADS_1


"Sialan! Siapa kamu!? Kenapa kamu bisa masuk ke kamarku, hah!" Chika bicara dengan nada tinggi.


"Siapa aku tidaklah penting. Karena yang terpenting adalah, aku datang untuk membuat kamu membayar apa yang sudah kamu lakukan sebelumnya."


"Apa maksudmu, hah!?"


"Maksudku adalah, kau harus bertanggung jawab atas kematian Aditya. Tidak akan aku biarkan kamu melempar kesalahan yang kamu buat kepada orang lain. Sudah saatnya kamu bertanggung jawab atas kesalahan yang kamu perbuat sendiri."


Sontak, ucapan itu membuat Chika membulatkan matanya. Luar biasa kagetnya Chika saat Cherry berucap akan semua kebenaran yang terjadi. Karena sebelumnya, dia sudah bisa lolos dari pertanyaan polisi tadi siang. Dan, tim polisi tidak ada yang mencurigainya sedikitpun.


'Tidak! Aku tidak bisa terus berhadapan dengan orang ini. Dia juga tidak boleh lolos dari sini sekarang. Karena sepertinya, dia sangat tahu apa yang sudah terjadi. Karena itu, dia juga harus lenyap dari muka bumi ini agar rahasiaku tetap terjaga dengan baik.' Chika berkata dalam hati.


Cherry tertawa lepas saat Chika usai berteriak, tapi tidak ada yang datang satu orang pun. Wajah panik Chika pun semakin tergambar dengan jelas saat ini. Karena itu, Cherry menertawakannya dengan tawa yang lepas.


"Ha ha ha .... Nona-nona. Anda sudah susah payah berteriak, tapi sayangnya, tidak ada satupun orang yang datang untuk menolong anda. Uh, sangat kasihan sekali. Sangat malangnya nasib nona ini yah."

__ADS_1


Chika pun mulai menggenggam tangannya karena kesal. "Sialan! Ke mana perginya para pengawal yang ada di mansion ini. Apa kuping mereka susah rusak semua. Kurang ajar! Jika aku berhasil keluar, akan aku pecat mereka semua agar tak ada yang tersisa lagi. Dasar tidak berguna." Chika bergumam kecil sambil melihat sekeliling seperti sedang mencari akal untuk bebas.


"Asal nona tahu, kamar ini sudah aku pasangkan alat agar tidak ada satupun orang yang bisa mendengar suara dari kamar ini. Karena itu, sekeras apapun nona berteriak, tidak akan ada yang datang," kata Cherry sambil mengukir senyum lebar sambil berjalan perlahan untuk mendekati Chika.


Chika yang mendengar, juga melihat gerak gerik Cherry yang ingin mendekat, semakin merasa terancam. Dengan cepat, Chika berusaha untuk kabur. Berlari sekuat yang ia bisa untuk menggapai pintu agar bisa keluar.


Sayangnya, pintu itu entah bagaimana cara bisa terkunci dari luar. Sekuat tenaga Chika berusaha membuka, namun tidak ada hasilnya.


"Tidak! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Pintu ini tadinya tidak aku kunci. Siapa yang sudah mengunci pintu ini dari luar?"


"Tolong ...! Buka pintunya! Tolong .... " Chika berteriak sambil memukul keras pintu tersebut dengan tangannya sendiri.


Ketakutan itu membuat Cherry merasa bahagia. Dia kembali tersenyum, lalu duduk di atas ranjang Chika dengan tenang.


"Kasihan sekali. Pintunya sudah aku kunci dari luar. Bagaimana bisa dibuka dari dalam?"

__ADS_1


Ucapan itu membuat Chika langsung menoleh ke arah Cherry. Dengan tatapan penuh dengan arah, Chika menatap tajam Cherry.


"Siapa kamu sebenarnya!? Apa hubungan kamu dengan Aditya, hah! Kenapa kamu bisa datang ke kamarku!?"


__ADS_2