Bangkitnya Gadis Tertindas

Bangkitnya Gadis Tertindas
*BGT Bab 56


__ADS_3

"Huh, sepertinya dia sudah bosan bekerja denganku. Mungkin, dia harus aku kirim ke padang pasir yang tandus supaya bisa bekerja dengan unta liar."


Ucapan kesal itu langsung membuat Zein tersenyum tidak enak. "He he he. Tuan muda, aku tidak ingin jauh darimu. Sebenarnya, aku berniat baik lho barusan. Mengingatkan tuan muda kalo tuan muda belum menyematkan cincin ke jari nona Cherry. Bukankah itu baik?"


Adu mulut itu terjadi selama beberapa saat. Hingga pada akhirnya, berakhir dengan pemasangan cincin ke jari Cherry. Saat itu, senyum bahagia tergambar dengan indah di bibir mereka semua. Kembang api pun menghiasi taman setelah cincin Gerry sematkan di jari Cherry.


Lamaran yang luar biasa itu ternyata berhasil sempurna. Perdebatan antara Gerry dengan Zein menjadi pelengkap dari indahnya lamaran Gerry yang mewah.


"Itulah tuan muda Sudirja. Satu taman umum bisa ia sewa hanya untuk melamar sang gadis pujaan hati," kata Zein lagi-lagi memulai perdebatan.


"Zein .... (Kak Zein ....)" Zia dan Gerry berucap secara bersamaan dengan tatapan tajam ke arah Zein. Sementara Cherry, ia hanya tersenyum lebar karena geli hati dengan sikap Zein yang penuh dengan keusilan.


....


Setelah malam itu, hubungan Gerry dan Cherry langsung berada di jalan keseriusan. Dan, hubungan itu ternyata mendapat restu dari kedua orang tua Gerry. Mama Gerry yang tahu akan siapa Cherry, bukannya marah, tapi malah merasa bersalah. Dia terus mengatakan penyesalannya atas apa yang sudah Chika lakukan.

__ADS_1


Dan, pada akhirnya, hubungan yang di dukung penuh oleh kedua orang tua Gerry membuat Cherry membulatkan niat untuk melanjutkan hubungan mereka. Beruntungnya, mama juga pala Gerry sangat menyukai Cherry. Meskipun belum terlalu lama saling mengenal, tapi mereka sudah sangat akrab. Pernikahan pun langsung di siapkan untuk Gerry dan Cherry.


Kembali ke kantor polisi tempat di mana Cherry sedang berada saat ini. Cerita Cherry membuat Chika langsung terjatuh di atas lantai karena tubuhnya mendadak lemas setelah cerita bahagia itu Cherry ceritakan padanya.


"Tidak mungkin. Mama pasti tidak akan menerima kamu begitu saja. Tidak. Aku tidak akan membiarkan mama menerima kamu dengan mudah."


"Tapi sayangnya, hal itu sudah terjadi, Chika. Cherry sudah mama terima dengan baik di dalam keluarga."


Kata-kata itu langsung membuat Chika mengalihkan pandangannya. Yah, itu adalah Gerry. Dia datang untuk menemani Cherry karena ia takut, sang pujaan hati akan kenapa-napa jika ia biarkan sendirian bertemu Chika.


"Kak ... kak Gerry. Kamu ... kamu datang, kak." Chika berucap dengan penuh semangat. Lalu, bangun dari jatuhnya untuk segera menghampiri Gerry.


"Chika. Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan saat pertama masuk tadi? Apa kamu masih tidak berpikir kalau ucapan itu aku yang mengatakannya?"


Chika yang sebelumnya penuh harap, kini langsung memperlihatkan wajah sedih kembali. Ia pun langsung tersingkirkan ketika Gerry langsung menghampiri Cherry. Mendekati Cherry dengan tatapan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Sayang. Apa kamu baik-baik saja sekarang? Tidak ada yang menyakiti kamu tadi, kan?"


"Gak ada, Mas. Aku baik-baik aja kok. Kamu tenang saja, aku inikan udah kuat sekarang. Mana ada orang yang bisa menyakiti aku, Mas."


"Kamu nakal yah. Aku sudah bilang kalo kamu pergi harus bersama denganku. Tidak boleh pergi sendirian."


Chika yang tidak kuat dengan kemesraan itu, langsung berlari menuju selnya sendiri. Dengan air mata yang mengalir deras, dia masuk sendiri ke dalam sel tersebut.


Sungguh, apa yang terjadi barusan adalah hal yang sangat menyakitkan buat Chika. Luar biasa menyakitkan. Di saat ia kesepian, orang-orang yang ia benci malah bahagia. Bahkan sangat bahagia, lebih dari apa yang ia rasakan saat ia hidup mewah nan bebas dahulu.


Dan yang paling menyakitkan adalah, orang yang ia anggap akan membenci orang yang sudah menyebabkan ia masuk ke dalam tahanan saat ini, malah sebaliknya. Begitu menyayangi orang tersebut.


"Mama jahat, Ma! Aku benci mama!" Chika berteriak keras sambil menjambak kasar rambutnya sendiri.


"Aku benci, Mama ...! Sangat benci! Mama bahagia bersama orang yang sudah membuat aku menderita. Mama bukan mama ku. Mama jahat!"

__ADS_1


Chika terlihat seperti orang yang susah tidak waras lagi sekarang. Dia berteriak, menangis sambil menjambak rambutnya dengan kasar.


Sementara itu, Cherry dan Gerry malah terus bermesraan. Gerry yang begitu sayang dengan sang pujaan hati, tentunya akan melakukan semua yang terbaik yang bisa ia lakukan. Tidak akan ia biarkan hal sekecil apapun membuat hati kesayangannya sakit.


__ADS_2