
Ucapan dengan nada lembut yang disertai dengan rasa bersalah itu membuat Chika yang mendengar semakin naik emosi. Dia yang awalnya masih memegang pipi akibat bekas tamparan Aditya, langsung melepaskan tangannya dari pipi.
Dengan tatapan tajam penuh dengan amarah, Chika berjalan mendekat, lalu menyingkirkan Cherry dari Aditya. Chika langsung mendorong Cherry dengan keras supaya menjauh dari Aditya.
"Perempuan ***- *** yang tidak tahu mau. Jangan dekati Aditya!"
"Ah!" Cherry berteriak pelan setelah tubuhnya menabrak sanding meja akibat dorongan dari Chika.
Tentunya, ini adalah sandiwara Cherry belaka. Dia tidak benar-benar menabrak meja jika hanya karena dorongan dari Chika. Tapi, karena ingin menambah kebencian orang terhadap Chika, maka dia rela melakukan ini. Bahkan, menambah luka di tubuhnya hanya karena dorongan kecil yang sejujurnya tidak akan mempengaruhi berdirinya sedikitpun.
Mendengar keluhan dari Cherry, Aditya pun sontak kaget bukan kepalang. Dengan wajah cemas, dia menghampiri Cherry yang kini sedang terduduk di lantai.
"Cherry! Apa kamu baik-baik saja sekarang? Ya Tuhan, lutut mu." Aditya begitu perhatian saat melihat lutut Cherry terlihat memar akibat ulah Chika.
Sementara Chika, dia semakin kesal karena apa yang Aditya perlihatkan saat ini. Di depan matanya, Aditya bisa mencemaskan perempuan lain. Sungguh sangat menyakitkan hati Chika.
"Aditya! Aku di sini! Apa yang kamu lakukan, hah!"
Mendengar ucapan itu, Aditya langsung bangun. Dengan tatapan tajam, dia melihat ke arah Chika.
"Kau perempuan gila, Chika. Sejak awal, aku merasa tidak nyaman denganmu. Karena kamu tidak sama seperti manusia pada umumnya. Karena itu, aku akan putuskan hubungan pertunangan kita mulai dari detik ini juga."
Bak tersambar petir, untuk yang pertama kalinya Chika merasakan dijatuhkan oleh orang lain. Sejak kecil, dia tidak pernah di perlakukan kasar oleh siapapun. Apa yang ia inginkan, selalu ia dapatkan. Tak kira bagaimanapun caranya. Yang penting, apa yang ia mau, pasti bisa ia miliki.
__ADS_1
Tapi sekarang, di depan banyak orang, dirinya dijatuhkan begitu saja oleh seorang pria. Mana pria itu sudah bergelar tunangan lagi. Mana bisa Chika terima akan hal tersebut.
"Tidak, Aditya! Kamu tidak bisa memutuskan pertunangan ini. Tepatnya, aku tidak akan membiarkan kamu melakukan itu. Apalagi hanya karena satu perempuan ***- *** ini, Aditya." Chika berucap sambil ingin menyentuh Cherry.
Sayangnya, tangan Chika langsung di hadang oleh Aditya dengan cepat. "Tidak akan aku biarkan kamu mencelakai orang lain lagi mulai dari detik ini, Chika. Apalagi itu hanya karena kecemburuan mu yang tidak terarah. Tidak akan pernah."
Setelah menepis tangan Chika, Aditya langsung sigap menggendong Chika. Pertunjukan yang luar biasa. Sangat panas sampai tidak ada yang mampu bicara selain melihat dengan seksama.
"Aditya!"
"Lak- nat kamu, Aditya! Beraninya kamu menggendong perempuan itu di hadapanku." Chika berteriak dengan semua kemarahan yang tidak bisa ia bendung lagi.
Tapi sayangnya, Aditya tidak sedikitpun menghiraukan teriakan itu. Dia tetap melanjutkan langkah kaki meninggalkan ruangan tersebut.
Saat Gerry tiba ke kantor, suasana kantor sudah berantakan akibat amukan Chika. Hampir sebagian alat kantor rusak parah.
Untuk yang kesekian kalinya, Gerry dibuat naik darah akibat ulah Chika. Kali ini, dia tidak bisa sabar lagi. Dengan cepat, dia meninggalkan kantor untuk menemui Chika di rumah.
"Tu-- tuan muda yakin ingin pulang sekarang?" Zein agak cemas. Karena jika Gerry pulang, maka pertengkaran besar pasti akan terjadi.
"Ya, aku akan pulang. Semua ini sungguh sangat keterlaluan, Zein. Aku tidak bisa diam lagi sekarang."
"Ta-- tapi, tuan muda. Tidak ada gunanya juga tuan muda bicara. Karena nona Chika pasti akan nyonya bela meskipun dia salah besar."
__ADS_1
Langkah Gerry seketika tertahan. Dia yang hampir tiba di mobilnya, langsung berhenti mendadak. Dia lirik Zein yang ada di sampingnya sesaat. Lalu, menatap lurus ke arah depan.
"Itulah kesalahan mama, Zein. Terlalu memanjakan anak orang. Ya jadinya seperti ini. Bertingkah sesuka hati tanpa berpikir yang mana salah dan yang mana benar. Dia pikir, dia masih anak-anak mungkin sekarang."
"Nah, untuk itu, tuan muda tidak perlu pulang ke mansion yah. Karena gak akan ada gunanya juga." Sedikit rasa bahagia karena apa yang ia katakan dibenarkan oleh Gerry meski tidak terang-terangan.
Namun, sayangnya harapan itu sama sekali tidak terwujud. "Meskipun begitu, aku akan tetap pulang, Zein. Karena aku tidak bisa terus-terusan diam. Mama tidak akan sadar karena aku diam."
"Ya ... tapi .... "
"Aku pergi sekarang," ucap Gerry sambil membuka pintu mobil.
"Ah, ya Tuhan. Aku ikut, tuan muda." Zein berucap cepat sambil berlari menuju pintu samping.
Sementara itu, di mansion utama keluarga Sudirja, Chika sedang menangis di pelukan sang mama. Dia mengadukan apa yang sudah ia alami dengan wajah yang sangat-sangat terluka. Seolah-olah, dia adalah orang yang paling tersakiti di sini. Padahal, semua adalah salahnya.
"Kurang ajar! Berani sekali Aditya bicara begitu padamu, sayang. Sudah tidak ingin menikmati hidup dengan baik keluarga Aditya ini rupanya."
"Kamu tenang, sayang. Mama akan bicara sama papa secepatnya. Biar papa yang menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat." Si mama berucap dengan lembut.
Ucapan itu membuat Chika langsung bangun dari pelukan sang mama. "Aku mau sekarang, Ma. Hubungi papa dan katakan kalau aku ingin papa memperingati keluarga om Burhan atas perlakuan anak mereka."
"Dan, satu lagi, Ma. Ini sebenarnya tidak murni kesalahan Aditya. Ini kesalahan perempuan ***- *** yang baru Aditya kenal itu. Dia udah berani menggoda Aditya sampai Adit hilang kendali, Ma."
__ADS_1