
Untung saja suara itu langsung menahan tangan sang mama dengan cepat. Jadi, wajah Gerry masih bisa terselamatkan dari tamparan sang mama yang sedang marah besar.
"Papa."
Ya, panggilan itu tadi berasal dari papa Gerry yang baru datang. Dia pulang dari kantor akibat panggilan dari Zein yang sangat cemas akan keadaan di mansion Sudirja saat ini.
"Apa yang terjadi di sini sekarang?" Papa Gerry langsung angkat bicara kembali.
"Pa, ini karena Gerry yang tidak bisa mau mendengarkan apa yang mama katakan."
Lalu, si mama yang masih belum sadar akan kesalahan itupun langsung menceritakan semuanya. Mengatakan apa yang sedang terjadi sekarang.
"Gerry tidak sepenuhnya salah, Ma. Karena mama memang sedikit keterlaluan dalam memanjakan anak."
Sontak, pembelaan itu langsung membuat mama dan juga Chika langsung membulatkan mata karena tak percaya. Yah, sedikit tidak percaya saja. Tapi, hal itu memang bukan hal yang langka. Karena sama seperti Gerry, papa Gerry juga merasakan hal yang sama selama ini. Kalau sikap mama Gerry itu terlalu berlebihan dalam memanjakan Chika. Keponakan yang ia angkat sebagai anaknya saat ini.
"Papa!"
"Ikut papa ke kamar sekarang juga. Papa ingin bicara empat mata dengan mama. Untuk Chika, kamu bisa menenangkan diri di kamar sekarang. Sedangkan Gerry, kamu bisa kembali ke kantor jika ingin. Karena masalah ini, papa yang ambil alih."
__ADS_1
"Baik, Pa. Aku kembali saja," kata Gerry dengan cepat.
Sementara Chika dan mama Gerry tidak berucap. Tapi, mereka melakukan apa yang papa Gerry katakan. Chika kembali ke kamar, sedangkan mama Gerry ikut suaminya masuk ke dalam kamar.
Tiba di kamar, Chika langsung memasang wajah kesal. Dia menghempaskan bokong ke atas kasur, dengan tatapan lurus ke depan, bibirnya bergumam. "Benar-benar bikin kesal. Kenapa papa pakai muncul segala sih? Jika papa muncul, maka mama tidak bisa berkeras dengan kak Gerry. Tapi, jika papa tidak muncul, maka kak Gerry pasti bisa mama atasi."
"Sungguh sangat menyebalkan. Apa sekarang aku juga harus menyingkirkan papa dan kak Gerry? Biar hidup ini jadi lancar sesuai yang aku inginkan."
Dengan senyum menyeringai yang menakutkan, Chika langsung bangun dari duduknya. "Yah, sepertinya aku harus menghubungi tante agar bisa membantu untuk menjalani rencana ini. Karena hanya tante yang bisa aku handal kan dalam semua situasi yang rumit."
Di kamar utama, papa dan mama Gerry juga sedang bicara. Papa Gerry sepertinya sedang memberikan nasehat pada istrinya. Meskipun itu tidak mudah, tapi si papa tetap berusaha untuk membuat mama Gerry sadar akan apa yang sudah dia lakukan saat ini.
"Tidak salah, Ma. Tapi, itu jika mama tidak terlalu berlebihan. Sekarang, mama sangat berlebihan. Papa selama ini diam, bukan berarti papa suka dengan apa yang mama lakukan terhadap Chika. Papa hanya merasa, kalau mama bisa sadar dengan sendirinya. Eh, ternyata papa salah. Mama tidak juga sadar, melainkan, semakin bersikap keterlaluan."
"Yang paling parahnya lagi, mama bahkan mengabaikan anak kandung mama sendiri. Mama sadar gak sih? Gerry juga butuh mama."
"Ini yang papa katakan sejak mereka masih kecil, bukan? Gerry itu punya papa, jadi mama tidak terlalu harus menuangkan kasih sayang mama buat dia lagi dong. Sementara Chika, papa nggak terlalu sayang padanya. Jadi, hanya mama yang ia butuhkan. Wajar jika mama menuangkan semua kasih sayang mama pada anak itu."
Perdebatan terus saja berlangsung tanpa ada yang ingin mengalah. Hingga pada akhirnya, mama Gerry memutuskan untuk berhenti karena apa yang suaminya katakan semua perlahan benaknya benarkan.
__ADS_1
"Ya ... ya sudah, gini aja deh, Pa. Gak perlu bahas soal ini lagi. Mama akan perbaiki Chika secara perlahan. Tapi papa harus mengikuti apa yang mama katakan. Satu kali ini saja lagi. Papa penuhi permintaan mama. Bagaimana?"
Mama Gerry berusaha melakukan tawar menawar dengan suaminya. Karena beberapa pertimbangan, papa Gerry akhirnya bersedia mengikuti apa yang istrinya inginkan.
"Katakan! Apa yang mama ingin papa lakukan. Papa akan lakukan jika hal itu masih dalam kata wajar. Jika tidak, maka papa tidak akan turuti."
Dengan wajah yang sedikit bahagia dan penuh dengan harapan, mama Gerry melihat ke arah suaminya. "Masih dalam kata wajar kok, Pa. Papa tenang aja. Mama hanya ingin papa berikan pelajaran pada Aditya juga keluarganya. Berani-beraninya dia menampar Chika di depan umum hanya karena seorang perempuan penggoda. Aditya juga dengan lantang mempermalukan Chika dengan membela perempuan itu. Dan, yang paling malangnya, Aditya telah memutuskan secara sepihak pertunangan antara dia dengan anak kita, Pa."
"Mama tidak terima akan hal ini. Mama ingin papa bersikap tegas. Beri keluarga itu pelajaran agar dia tahu, dengan siapa dia berhadapan."
Dengan wajah agak ragu, papa Gerry melihat ke arah istrinya. "Lalu, apa yang harus papa lakukan, Ma? Papa gak yakin kalau Chika menginginkan kita memutuskan pertunangan ini. Karena papa cukup tahu, Chika itu sungguh tergila-gila akan Aditya sejak mereka berada di bangku sekolah lagi."
"Mama juga tahu akan hal itu, Pa. Mama tidak ingin papa menyetujui putusnya pertunangan. Karena mama merasa, Chika sangat tidak menginginkan hal itu. Mama ingin papa menekan keluarga Aditya. Buat mereka tidak bisa lepas dari kita bagaimanapun caranya."
"Mama ingin pernikahan antara Aditya dengan Chika dilakukan dalam waktu dekat. Karena sepertinya, itu adalah cara terbaik untuk membuat Chika bahagia," kata mama Gerry lagi dengan nada penuh dengan keyakinan sama apa yang ia katakan.
______________________________________________
*Catatan. "Maaf untuk komen yang belum sempat aku balas. Udah dibaca kok. Cuma belum bisa balas satu persatu aja. Maaf juga karena aku yang sempat telat up beberapa hari. Sibuk banget soalnya. Jadi gak ada waktu buat nulis. Jadi, mohon maaf yang besar yang teman-teman. Salam sayang, dan mohon maaf lahir batin buat para pembaca setiap aku semuanya. Love you all."
__ADS_1