
"Oh, benarkah apa yang kamu katakan? Kamu tidak tahu kalau ini kamarku? Jadi, jika bukan kamarku, maka kamu akan bahagia jika kamu masuk ke kamar pria lain? Begitu kah yang kamu maksud?"
"Kamu!"
Cherry ingin sekali langsung memukul Gerry akibat terlalu kesal akan kata-kata yang Gerry ucapkan barusan. Tapi sayangnya, seketika Cherry ingat kalau tidak ada gunanya memukul Gerry. Karena Gerry bukanlah musuh yang harus ia lawan.
'Tidak. Aku tidak bisa berhadapan dengannya. Karena dia bukan bagian dari rencana balas dendam ku. Aku tidak akan membuang waktu dan tenaga hanya untuk melawannya.'
'Sudahlah, Cherry. Abaikan dan lupakan saja dia. Tidak ada gunanya kamu meladeni orang seperti dia. Jangan tambah masalahmu yang memang sudah sangat banyak,' kata Cherry bicara dalam hati.
Setelah memikirkan hal tersebut, Cherry berniat untuk langsung meninggalkan kamar Gerry. Tapi sayangnya, tangan Gerry dengan cepat menghalangi langkah kaki Cherry yang berniat untuk melangkah pergi.
Seketika, Cherry langsung menatap tajam ke arah Gerry akibat tangannya yang Gerry genggam. "Lepaskan!" Cherry berucap lantang sambil berusaha melepaskan tangannya dari tangan Gerry.
"Tidak akan aku lepaskan. Karena aku masih belum selesai bicara." Gerry berucap sambil bangun dari duduknya.
"Jangan jadi perempuan yang terlalu tidak punya sopan santun. Pertama, kamu sudah masuk ke kamarku tanpa izin. Dari balkon lagi. Kedua, kamu mau masuk ke kamar mandi ku. Beruntung, aku sudah selesai mandi. Jadi, tidak ada insiden yang tidak diinginkan. Dan sekarang, kamu malah ingin pergi tanpa seizin dariku. Itu namanya, tidak tahu sopan santun dan tidak tahu terima kasih."
__ADS_1
"Jika iya aku tidak tahu sopan santun juga tidak tahu berterima kasih. Kamu mau apa?" Cherry malah langsung menantang Gerry sekarang.
Gerry tidak langsung menjawab. Dia hanya memberikan Cherry tatapan sesaat. Lalu, ia lepas genggaman tangannya dari tangan Cherry. Kemudian, Gerry langsung menuju nakas yang ada di samping ranjangnya.
"Baiklah, aku yang mengalah sekarang. Aku tahu apa yang kamu cari sampai kamu datang ke tempat ini. Kamu ingin bukti kalau Chika adalah pembunuh Aditya, bukan?"
Sontak, ucapan itu membuat Cherry langsung membulatkan matanya. Bagaimana tidak? Dia tidak pernah berpikir sebelumnya kalau pria yang ada di hadapannya saat ini sungguh luar biasa. Bisa tahu apa yang ia inginkan.
"Jangan kaget soal aku yang tahu apa yang kamu cari sehingga kamu bisa memasuki mansion utama keluarga Sudirja. Itu karena aku hanya menebak saja. Tapi, melihat reaksi yang kamu tunjukkan, aku menjadi yakin kalau apa yang aku katakan ini adalah hal yang sangat benar."
Cherry masih tidak bisa menjawab. Karena Gerry sungguh diluar pikiran Cherry. Ia begitu teliti juga punya filing yang sangat tajam. Bisa-bisanya sebuah tebakan langsung tepat seratus persen.
Cherry yang seakan sudah terkena hipnotis langsung menerima flash disk yang Gerry berikan. "Apa ini?" tanya Cherry mendadak seperti orang yang sedang tidak punya pikiran.
"Itu adalah flash disk." Gerry malah berkata dengan polos seperti tanpa beban.
Hal tersebut langsung membuat Cherry merasa kesal. "Ya aku tahu ini flash disk. Tapi kenapa kamu berikan ini padaku? Ada apa di dalamnya?"
__ADS_1
Gerry yang merasa kalau ia berhasil membuat Cherry kembali kesal langsung tersenyum.
Dalam hati ia memuji Cherry yang semakin terlihat cantik saat Cherry menunjukkan wajah kesal.
"Mm ... itu adalah bukti yang ingin kamu dapatkan. Kamu bisa ambil bukti itu untuk menghukum Chika. Karena dia sudah sangat keterlaluan."
Ucapan itu langsung membuat Cherry menatap tajam Gerry. "Jika ini benar bukti yang bisa menjerat Chika, kenapa tidak kamu sendiri yang melakukannya? Kenapa kamu harus memberikannya padaku?" Cherry berucap dengan penuh selidik.
Lagi-lagi, Gerry langsung memperlihatkan senyum manisnya kepada Cherry.
"Jangan terlalu curiga padaku. Aku tidak berniat jahat sama kamu."
"Mm ... aku ingin melakukannya sendiri. Sayangnya, aku tidak bisa." Gerry kini langsung mengganti nada bicaranya ke nada lemah.
"Kenapa?"
"Karena aku terhalang sama mamaku. Mama yang sangat mencintai anak angkatnya itu, tidak akan pernah mengizinkan aku melakukan hal buruk sedikitpun."
__ADS_1
"Apa!? Anak angkat?" Lagi-lagi, Cherry mendapatkan kejutan dari obrolan yang ia lakukan dengan Gerry malam ini. Hal yang sangat tidak Cherry duga sebelumnya. Ternyata, begitu banyak rahasia yang tidak ia ketahui dari kehidupan Chika.
Sementara itu, Gerry yang melihat reaksi Cherry langsung menatap Cherry dengan tatapan lekat. "Kamu ... tidak tahu kalau aku dan Chika hanya saudara angkat? Tepatnya, dia adalah adik angkat, tapi adik sepupu aku."